Lajunya perkembangan teknologi dan dunia maya menimbulkan dampak positif yang begitu besar. Di antara dampak positif yang dihasilkan adalah kemudahan dalam mengakses ilmu pengetahuan. Misalnya pada referensi yang sebelumnya harus mengeluarkan biaya berjuta-juta untuk mendapatkannya, kini bisa diakses bahkan diunduh dengan begitu mudah. Banyak juga platform dan website yang menyediakan berbagai referensi secara instan. Baik dalam bentuk buku digital, review, bahkan kajian-kajian yang telah dikelompokkan berdasarkan tema tertentu.
Namun demikian, bukan berarti dampak positif tersebut didapatkan secara gratis. Alias tetap ada harga yang harus dibayar. Sebanding dengan besarnya dampak positif tersebut. Di antara beberapa harga tersebut, adalah dimana ilmu pengetahuan yang dapat diakses secara instan, menimbulkan banyak sekali ‘ilmu mentah’ yang tidak diverifikasi.
Demikian sebagaimana yang akan dibahas dalam tulisan ini. Yakni banyak dari kalangan pemuda yang mengalami ‘patah hati’ kemudian menisbatkan suatu ayat untuk mencerca kaum pemudi. Kaum pemuda tersebut, menggunakan ayat 28 surat Yusuf untuk melegitimasi bahwa perempuan adalah penipu terbesar dalam sejarah peradaban umat manusia. Bunyi ayat tersebut adalah sebagai berikut:
إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ…
Artinya:” …sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar”
Ayat ini sebetulnya menceritakan mengenai kisah Zulaikha (زليخا: Sebagian menyebutnya Zalikha) yang mengadu kepada suaminya, bahwa dirinya telah dilecehkan oleh Nabi Yusuf. Padahal, sebagaimana dikisahkan dalam ayat sebelumnya, Zulaikha-lah yang menggoda dan melecehkan Yusuf. Kemudian saat pembuktian, justru kebenaran tersingkap dan suami Zulaikha menyatakan sebagaimana ayat 28 tersebut. Bahwa Zulaikha telah melakukan penipuan yang amat besar.
Kendati demikian, benarkah ayat ini menjadi petunjuk bahwa seluruh perempuan adalah penipu? Sebagaimana yang diungkapkan oleh para pemuda “patah hati” dalam media sosial mereka? Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat bagaimana para pakar menafsirkan ayat tersebut. Quraish Shihab (2001) dalam karya monumentalnya yakni Tafsir al-Mishbah mengungkapkan demikian. Memang, sebagian ulama menafsirkan ayat tersebut sebagai dalil bahwa perempuan adalah penipu yang sangat besar.
Baca: Perempuan (Bukanlah) Sumber Fitnah
Abbas Mahmud al-‘Aqqad dalam karyanya yang berjudul ‘Abqariyyat ‘Aliy (kejeniusan Ali bin Abi Thalib) bahkan mencantumkan sebuah pernyataan yang konon dari Ali bin Abi Thalib sebagai berikut “Semua yang ada pada perempuan adalah buruk. Dan parahnya (lebih buruk lagi) kita membutuhkan perempuan”. Ungkapan senada, juga diungkapkan oleh al-Zamakhsyari. Dia mengatakan, bahwa tipu daya wanita adalah lebih besar daripada tipuan setan. Dia (al-Zamakhsyari) kemudian juga menghubungkan ayat 28 Yusuf tersebut potongan ayat 76 surat An-Nisa’ yang berbunyi sebagai berikut:
اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًاۚ…
Artinya”… Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah”.
Namun, kembali pada Quraish Shihab. Beliau membantah seluruh argumentasi ulama tersebut. Bantahan beliau terdapat pada dua aspek.
Pertama, pernyataan dari Ali bin Abi Thalib sangat diragukan kualitas dan kuantitas riwayatnya. Artinya, Quraish Shihab tidaklah menemukan bahwa pernyataan tersebut benar-benar dari Ali bin Abi Thalib. Hal ini disebabkan karena tidak ada verifikasi atau jalur lain dari riwayat tersebut. Ini jelas problematis dari sisi ilmu periwayatan. Sehingga wajar saja, jika Quraish Shihab benar-benar meragukan pernyataan tersebut. Kedua, dari sisi konteks ayat. Konteks yang dimaksud adalah ayat tersebut (Yusuf: 28) merupakan pernyataan dari suami Zulaikha, bukan pernyataan Allah SWT.

Di samping itu, pernyataan tersebut merupakan bentuk kekecewaan seorang suami terhadap istri yang sangat dicintainya. Sebab ulah sang istri telah berbuat nista kepada Yusuf, seseorang yang juga sangat disayangi olehnya seperti anak sendiri. Sehingga wajar dia sampai mengatakan bahwa istrinya adalah penipu yang sangat besar.
Oleh sebab itu, sangat kliru apabila ayat tersebut menjadi landasan bahwa “Tipu daya wanita sangatlah besar”. Dengan kata lain, secara sederhana dapat disimpulkan, bahwa ayat ini, hanya sekedar bercerita tentang kekecewaan seorang suami dan bukan pernyataan Allah SWT, meskipun tercantum dalam al-Qur’an.
Baca: Mi’raj Spiritual Dan Kritik Glorifikasi Perempuan Penghuni Neraka
Pendapat Qurasih Shihab dalam hal ini juga senada dengan pendapat Fakhr al-Raziy. Fakhr al-Raziy dalam karyanya yang berjudul Mafatih al-Ghayb menyatakan, bahwa ayat 28 surat Yusuf adalah bukti bahwa suami Zulaikha merupakan orang yang objektif dan tidak terpengaruh oleh perasaannya. Artinya, meskipun dia sangat mencintai Zulaikha, namun rasa cintanya tidak membuat dia goyah dan tetap mengatakan hal benar meskipun dalam rasa kecewa yang sangat dalam.
Demikian juga yang dinyatakan oleh Ibn Asyur dalam tafsirnya yang berjudul al-Tahrir wa al-Tanwir. Bahwa suami Zulaikha sangat menyadari, perbuatan Zulaikha merupakan sebuah kesalahan yang sangat besar. Ditambah lagi, Zulaikha telah berbohong dan memfitnah Yusuf. Kesadaran inilah yang kemudian membuat kedua ulama tersebut sangat memuji suami Zulaikha yang tetap pada kebenaran meskipun memiliki perasaan cinta yang begitu mendalam.
Kendati demikian, kedua ulama tersebut tidak menyebut sama sekali bahwa ayat tersebut ditafsirkan sebagai dalil bahwa perempuan memiliki tipu daya yang sangat besar. Artinya, pendapat kedua ulama tersebut menjadi argumen penguat bahwa analisis Quraish Shihab terhadap konteks ayat tersebut adalah benar. Benar dalam arti ayat tersebut tidak berbicara secara umum. Melainkan hanya pada kasus Zulaikha saja.
Berangkat dari pemaparan tersebut, dapat disimpulkan, bahwasannya ayat tersebut, pada dasarnya tidak tepat apabila menjadi landasan bahwa seluruh perempuan adalah penipu. Apalagi dengan memperbandingkan bahwa penipuan yang dilakukan setan tidak lebih besar dari perempuan.
Mengingat konteks kedua ayat tersebut adalah berbeda. Konteks ayat 28 surat Yusuf adalah penilaian seorang suami terhadap istrinya. Sedangkan konteks ayat 76 ayat an-Nisa’ adalah murni penilaian Allah SWT. Meskipun keduanya tercantum dalam al-Qur’an, namun tentu saja penilaian antara manusia dengan penilaian Allah SWT tidak dapat disepadankan.
Wallahu A’lam



