Bulan Muharram bukan sekadar penanda dimulainya pergantian tahun baru Hijriah. Bagi umat Muslim, Muharram adalah salah satu dari empat asyhurul hurum—bulan-bulan yang disucikan oleh Allah SWT. Di balik kemuliaannya, bulan ini menyimpan lembaran sejarah besar yang mengubah jalannya peradaban Islam dan umat manusia terdahulu.
Mengenang kembali peristiwa penting di bulan Muharram bukan hanya untuk memperkaya wawasan, melainkan juga untuk memetik hikmah dan meningkatkan keimanan. Berikut adalah lima peristiwa besar yang terjadi pada bulan Muharram yang sarat akan makna.
1. Momentum Hijrah dan Penetapan Tahun Baru Hijriah
Peristiwa paling mendasar yang melekat pada bulan Muharram adalah posisinya sebagai awal penanggalan Islam. Penetapan ini diinisiasi oleh Khalifah Umar bin Khattab ra setelah bermusyawarah dengan para sahabat.
Patokan awal kalender ini diambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Meskipun secara kronologis Rasulullah SAW tiba di Madinah pada bulan Rabiul Awwal, bulan Muharram dipilih sebagai bulan pertama karena di sinilah tekad dan rencana besar untuk berhijrah itu dimatangkan, tepatnya setelah baiat Aqabah kedua. Hijrah menjadi titik balik kejayaan Islam, dari fase penindasan menuju fase membangun peradaban yang berdaulat.
2. Selamatnya Nabi Musa as dari Kejaran Fir’aun
Salah satu mukjizat paling ikonik dalam sejarah terjadi pada tanggal 10 Muharram (Hari Asyura). Pada hari tersebut, Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa as dan Bani Israil dari kekejaman Raja Fir’aun.
Ketika terjebak di tepi Laut Merah dengan pasukan Fir’aun yang kian mendekat, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya. Lautan pun terbelah, memberikan jalan aman bagi pengikutnya. Sebaliknya, Fir’aun dan tentaranya tenggelam saat air laut menyatu kembali. Sebagai bentuk syukur, Nabi Musa as berpuasa pada hari Asyura, yang kemudian disunnahkan pula oleh Rasulullah SAW bagi umat Islam.
3. Berlabuhnya Bahtera Nabi Nuh as di Bukit Judi
Bulan Muharram juga menjadi saksi berakhirnya azab banjir besar yang menimpa kaum Nabi Nuh as yang membangkang. Setelah terapung selama berbulan-bulan di atas air yang menenggelamkan bumi, bahtera Nabi Nuh akhirnya berlabuh dengan selamat di atas Bukit Judi. Peristiwa yang diyakini terjadi pada hari Asyura ini menandai awal baru bagi kehidupan manusia yang beriman di bumi.
4. Nabi Yunus as Keluar dari Perut Ikan Nun
Kisah keteguhan hati Nabi Yunus as juga mengukir sejarah di bulan yang mulia ini. Setelah ditelan oleh seekor ikan Nun raksasa di tengah lautan yang gelap, Nabi Yunus terus memanjatkan doa pengakuan dosa yang tulus. Tepat pada bulan Muharram, Allah SWT menerima taubatnya dan mengeluarkan sang nabi dari perut ikan dalam keadaan selamat. Peristiwa ini mengajarkan kita tentang kekuatan doa dan harapan kepada rahmat Allah.
5. Kemenangan Umat Islam dalam Perang Khaibar
Pada bulan Muharram tahun 7 Hijriah, terjadi sebuah peristiwa militer krusial dalam sejarah Islam, yaitu Perang Khaibar. Pasukan Muslim yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW bergerak menuju Khaibar, sebuah wilayah benteng pertahanan kuat milik kaum Yahudi yang kerap memata-matai dan menghasut kaum Quraisy untuk menghancurkan Islam.
Melalui strategi yang matang serta kepemimpinan lapangan yang gemilang dari Ali bin Abi Thalib ra, benteng-benteng kokoh Khaibar berhasil ditaklukkan satu per satu. Kemenangan di bulan Muharram ini tidak hanya menghilangkan ancaman keamanan bagi Madinah, tetapi juga memperkuat posisi ekonomi dan politik kaum Muslimin di Jazirah Arab.
Rangkaian peristiwa sejarah di atas menjadi bukti nyata betapa mulianya bulan Muharram di sisi Allah SWT. Bulan ini bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum spiritual yang sarat akan keberkahan.
Para ulama terdahulu sangat mengagungkan bulan ini. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa Muharram adalah bulan yang utama untuk melaksanakan puasa sunnah setelah bulan Ramadhan. Selain itu, kemuliaan Muharram juga terletak pada statusnya sebagai salah satu dari empat asyhurul hurum (bulan yang disucikan). Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. mengisahkan bahwa Rasulullah SAW pernah menyarankan seorang sahabat untuk memperbanyak ibadah di bulan Muharram karena di dalamnya terdapat hari di mana Allah SWT menerima taubat kaum-kaum terdahulu dan akan menerima taubat kaum-kaum setelahnya.
Oleh karena itu, melihat betapa mulianya bulan Muharram ini, sudah sepatutnya kita tidak melewatkannya begitu saja. Mari jadikan bulan suci ini sebagai momentum untuk berbenah diri, memperbanyak amalan shalih seperti puasa Tasu’a dan Asyura, serta memohon ampunan (bertaubat) dengan meneladani keteguhan hati para kekasih Allah terdahulu.


