Pengibaran Bendera One Piece dan Kisah Gus Dur

Akhir-akhir ini jagat maya ramai dengan persoalan pengibaran bendera One Piece menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Bendera tersebut adalah Jolly Roger dengan gambar tengkorak bertopi Jerami milik kelompok bajak laut Mugiwara yang dikapteni oleh Monkey D Luffy, tokoh utama dalam serial anime One Piece.

Aksi pengibaran bendera One Piece ini ditengarai sebagai sikap ekspresi kekecewaan Masyarakat terhadap pemerintah. Hal ini kemudian menjadi viral dan menuai berbagai tanggapan dari pejabat pemerintah. Diantaranya berpendapat bahwa pemasangan bendera One Piece ini sebagai Upaya untuk memcah belah persatuan dan kesatuan serta cara provokatif untuk menyerang pemerintahan saat ini.

Melihat fenomena tersebut, penulis jadi teringat dengan kisah KH Abdurrahman Wahid atau yang sering disapa Gus Dur saat masih menjabat sebagai Presiden RI. Saat itu Gus Dur kedatangan Wiranto selaku Menko Polkam untuk melapor terkait pengibaran bendera Bintang Kejora.

“Pak Presiden, kami laporkan di Papua ada pengibaran bendera Bintang Kejora.” Tutur Wiranto dalam laporannya.

Mendengar hal tersebut, Gus Dur bertanya, “Apa masih ada bendera Merah Putihnya?”

“Ada satu, tinggi.” Jawab Wiranto dengan sigap.

Gus Dur hanya menanggapi santai, “Ya sudah, anggap saja bendera Bintang Kejora itu umbul-umbul.” Ujar Gus Dur.

“Tapi Pak Presiden, ini sangat berbahaya,” jawab Wiranto.

Gus Dur pun menjawab “Pikiran Bapak yang harus berubah, apa susahnya menganggap Bintang Kejora sebagai umbul-umbul, wong sepak bola saja ada banyak benderanya.” Ucap Gus Dur.

Foto Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid)
Foto: jombangkab
Baca Juga: Kisah Kiai As’ad Situbondo dan Preman Penjaga Sandal

Saat tak lagi menjabat sebagai presiden, pada tahun 2007, Gus Dur kembali menyebut alasannya memperbolehkan bendera Bintang Kejora berkibar. Gus Dur menganggap bendera Bintang Kejora hanya sebagai bendera kultural warga Papua, “bendera Bintang itu bendera kultural, kalua kita anggap sebagai bendera politik, ya salah kita sendiri.” Kata Gus Dur kepada wartawan.

Pernyataan tersebut bukan sekadar guyonan khas Gus Dur. Ia paham betul bahwa simbol hanya menjadi ancaman jika diikuti dengan tindakan nyata untuk merusak persatuan. Menurut Franz Magis Suseno, sahabat Gus Dur, pemberian izin pengibaran bendera Bintang Kejora bukan tanda Gus Dur meremehkan terhadap Indonesia. Hal itu justru sebaliknya, Gus Dur mau membantu orang-orang Papua untuk bisa menghayati Ke-Indonesiaan dari dalam.

Melihat ramainya media sosial soal pengibaran bendera One Piece saat ini penulis jadi membayangkan jika Gus Dur masih ada diantara kita dan ditanya perihal pengibaran bendera One Piece. Mungkin ia akan tertawa sambil berkata, “Selama Luffy gak ngajak perang, ya santai aja, gitu aja kok repot.”

Gus Dur mengajarkan bahwa negara kuat bukan karena semua orang takut, tetapi karena semua orang merasa dihargai. Ketika seorang pemimpin bisa tertawa menghadapi hal-hal sepele, maka rakyat pun akan belajar untuk bersikap dewasa. Tapi ketika negara mudah tersinggung oleh simbol, maka publik pun akan kehilangan rasa hormat terhadap kewibawaan yang semestinya dijaga dengan kebijaksanaan.

Akhirnya, kita belajar lagi dari Gus Dur: bahwa menjaga Indonesia tidak selalu harus dengan amarah dan perintah, tapi kadang cukup dengan ketenangan dan satu kalimat sederhana—Gitu aja kok repot.

Tags :

Anwar Sa'bani

Orang yang kadang suka bercerita. Saat ini sedang mengabdi di Bayt Mohammadi Indonesia.

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network