Pesantren dan Tren Kalcer: FOMO atau Tantangan?

Pesantren, sebagaimana dipahami bersama, merupakan pilar pendidikan Islam yang mengejawantahkan nilai-nilai khas Islam. Nilai tersebut lahir bukan dari ruang hampa, melainkan dari dinamika intelektual para kiai, pergulatan panjang dengan khazanah turats, serta dialog intens antara budaya lokal dan ajaran Islam. Dari perpaduan inilah terbentuk identitas khas pesantren.

Kini, pesantren berhadapan dengan tantangan besar: era disrupsi digital. Kondisi ini memaksa perubahan signifikan di berbagai bidang, terutama pada aspek digitalisasi pesantren.

Digitalisasi Pesantren: Peluang dan Konsistensi Dakwah

Dalam banyak diskusi, gerakan digitalisasi pesantren dipandang sebagai peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, ia menjadi sarana untuk memperlihatkan kepada publik bahwa pesantren hadir mengisi ruang pendidikan remaja sekaligus sebagai pusat pembentukan generasi unggul—kokoh dalam agama, mandiri, santun, dan matang secara sosial. Namun di sisi lain, digitalisasi juga menguji pesantren agar tetap konsisten meneguhkan syiar dakwah Islam rahmatan lil-‘alamin.

Digitalisasi pesantren mencakup banyak hal: mulai dari sistem informasi, optimalisasi manajemen, e-learning, literasi digital, pengenalan coding, desain, hingga etika bermedia sosial. Semua ini adalah lahan baru yang menuntut integrasi tanpa mengorbankan jati diri pesantren.

Arus Tren Kekinian di Tengah Budaya Digital

Di luar isu digitalisasi, terdapat fenomena lain yang tidak kalah menantang: arus tren kekinian. Budaya tren yang lahir di media sosial ditandai dengan siklus cepat perubahan gaya hidup, preferensi estetika, dan ekspresi diri. Figur publik, influencer, algoritma, serta komunitas daring memainkan peran besar dalam membentuk pola tersebut.

Fikri Asy’ariy (2024) mencatat bahwa remaja mengikuti tren bukan sekadar gaya hidup, melainkan sarana partisipasi sosial dan upaya mencari pengakuan. Melalui tagar populer, gaya berpakaian, challenge viral, atau cara bicara tertentu, mereka menegosiasikan identitas digitalnya. Identitas ini dikonstruksi secara performatif di ruang simbolik media sosial.

Hanaf (2025) menambahkan bahwa budaya tren memiliki sifat yang sangat cepat, viral, dan populer, sehingga menciptakan ekosistem baru bagi pencarian jati diri remaja. Identitas tidak lagi dibangun semata lewat interaksi tatap muka, tetapi melalui representasi digital. Validasi daring—likes, komentar, dan jumlah followers—menjadi tujuan akhir. Dengan bahasa Stuart Hall, hal ini adalah representasi sosial komunitas digital, terutama melalui aspek visual seperti fashion, warna, ekspresi wajah, hingga gaya konten.

Foto: unplash/ Zidan Abidin
Tren Kalcer: Fenomena Generasi Z

Salah satu tren yang mulai meresahkan kalangan pesantren adalah tren kalcer. Memang tidak semua santri terpengaruh, tetapi tanpa langkah preventif yang memadai—berupa literasi digital dan critical thinking—budaya ini berpotensi masuk ke ruang-ruang belajar pesantren.

Tren kalcer lahir dari dinamika kehidupan remaja yang sangat cepat mengikuti arus zaman. Tren ini mendorong remaja untuk tampil modern, stylish, dan aktif di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Ia menyebar tanpa memandang latar belakang sosial atau intelektualitas, berjalan otomatis dalam lingkaran pergaulan digital, sering kali tanpa mempertimbangkan moralitas dan nilai kepatutan. Fashion kekinian, musik populer, atau gaya “healing” di kafe menjadi simbol dari tren ini.

Lebih jauh, tren kalcer juga mencerminkan keresahan, keunikan, bahkan kreativitas Generasi Z dalam menavigasi kehidupan modern. Polanya adalah saling menciptakan dan mengadaptasi konten dengan dukungan masif media digital.

Membaca Arah Budaya Populer

Meski tampak santai dan spontan, tren kalcer sebenarnya dapat menjadi cermin arah budaya populer ke depan. Namun tetap harus ada sikap kritis, sebab budaya instan dan viral tidak selalu sejalan dengan nilai Islam. Jika diarahkan dengan tepat, tren ini bisa menjadi media ekspresif yang sehat dan produktif, khususnya bagi Generasi Z yang lebih banyak berinteraksi melalui media sosial.

Asy’ariy (2024), dengan merujuk pada teori agenda setting Maxwell McComb dan Donald L. Shaw (1972), menegaskan bahwa media tidak sepenuhnya mencerminkan realitas, melainkan menyaring isu tertentu agar tampak lebih menonjol. TikTok, misalnya, terbukti menjadi salah satu platform dengan pertumbuhan tercepat sekaligus mampu membentuk persepsi publik.

Strategi Pesantren Menghadapi Tantangan

Menghadapi realitas ini, pesantren perlu mengoptimalkan soft skill santri maupun guru: kemampuan adaptasi, kepemimpinan, kreativitas, dan kolaborasi, tanpa meninggalkan nilai dasar pesantren. Pendidikan Islam yang kuat, pengembangan keterampilan, serta upgrading pengetahuan adalah kunci penting agar pesantren tetap relevan di era modern.

Abdul Muid dan Bustanul Arifin (2024) menekankan bahwa dakwah digital harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Santri milenial harus memiliki pemahaman agama yang kokoh, etika komunikasi di dunia maya, serta kemampuan menghadapi risiko digital seperti hoaks, radikalisasi online, hingga penggunaan teknologi secara destruktif.

Penutup

Pesantren memang tidak bisa menolak arus zaman, tetapi ia bisa menjadi navigator yang menuntun generasi muda agar tetap teguh pada nilai-nilai Islam di tengah derasnya tren digital. Dengan literasi yang memadai dan komitmen dakwah yang kuat, pesantren akan tetap berdiri sebagai mercusuar peradaban Islam di era modern.

Wallāhu a‘lam.

Tags :

Eko David Syifaur Rohman

Pegiat literasi keislaman kontemporer

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network