Seingat saya nadzam hidayatul adzkiya adalah salah satu nadzam yang Syaikhuna al Allamah Abdul Aziz as Syahawi terakhir hafalkan selain alfiyah siroh imam iroqi, beliau pernah memuji nadzam ini dan berkata : “Pertama kali aku buka dan baca nadzam ini aku langsung jatuh cinta dengan isinya, kemudian aku hafalkan”.
Beliau menghafalnya saat usianya 70 tahun lebih, ketika dihadiahi oleh salah satu muridnya, begitu juga alfiyah siroh imam iroqi. Beliau pernah berkata tentang keagungan nadzam ini : “Ingin jadi kekasih Allah ? Amalkan apa yang ada di hidayatul adzkiya”.
Hidayatul adzkiya terdiri dari 188 bait, dari bahr kamil. Di dalamnya menyajikan ajaran tasawuf serta banyak petuah dalam meniti jalan mengenal Allah swt. Dalam kesempatan lain Syaikhuna juga pernah mengomentari nadzam ini dengan berkata : “Hidayatul adzkiya ini sangat cocok untuk pelajar pemula tasawuf, di dalamnya banyak sekali ajaran agung tasawuf dan untaian hikmah para ulama”.
Download Kitab Hidayatul Adzkiya’ (download kitab: klik link disamping kiri)
Memang nadzam hidayatul adzkiya’ ini sarat akan arahan, motivasi dan inspirasi dalam segala aspek kehidupan. Dimulai dari Taqwa, permisalan dan pengertian dari jalan mengenal Allah, macam-macam jalannya, Taubat, Qona’ah, Zuhud, kunci selamat hidup di dunia, wajib belajar ilmu aqidah fiqih dan tasawuf, menikah, menjaga amalan sunnah, rekomendasi belajar beberapa kitab seperti (awariful ma’arif, riyadhussolihin, ihya’ ulumuddin dan al adzkar), tawakkal, ikhlas, dan uzlah.
kemudian dalam bait ke 60 an menyajikan anjuran untuk selalu menjaga adab waktu dari subuh, syuruq, dhuha, kemudian setelahnya ada yang disibukkan dengan belajar dan bekerja, bagaimana belajar dan bekerja dengan cara yang benar, hingga malam hari menjelang tidur apa saja yang harus dilakukan, hingga bangun tidur. Intinya nadzam ini menjelaskan akhlak baik seorang sufi.
Nadzam ini dikarang oleh al makhdum Syaikh Zainuddin al malibari al kabir, kalau kata teman dari Vrindavan al makhdum adalah gelar keilmuan seperti kyai kalau di jawa, Syaikh Zainuddin senior adalah kakek dari pengarang fathul mu’in, karena beliau memiliki 5 anak 3 putra dan 2 putri, putra pertama bernama yahya dan wafat saat masih kecil, kemudian putra kedua bernama Muhammad al Ghazali yang nanti bakal melahirkan Syaikh Ahmad Zainudiin al Malibari (pengarang fathul mu’in) dan putra yang ketiga bernama Syaikh Abdul Aziz al malibari.
Putra ketiga yaitu Syaikh Abdul Aziz al malibari mensyarah nadzam ini dalam dua syarah ringkas dan luas . Yang ringkas diberi nama irsyadul alibba’ dan yang lebih luas diberi nama maslakul atqiya’ yang mana sayyid abu bakar syata (penulis ianah) banyak merujuk kepadanya dalam karangannya yaitu kifayatul atqiya’, dimana beliau berkata :
وحيث قلت قال في الشرح فمرادي به شرح ابن الناظم المسمى بمسلك الأتقياء ومنهج الأصفياء .
Setidaknya Ada 5 syarh yang populer saat ini terhadap nadzam ini : 1. Kifayatul atqiya karangan sayyid syatho penulis i’anah, 2. irsyadul alibba’ dan 3. maslakul atqiya karya putra pengarang, 4. salalim fudhola karya syaikh nawawi banten, 5. minhaj al atqiya’ berbahasa arab pegon karya Kyai Soleh Darat.
Menurut Dr. Abdunnasir pentahqiq irsyadul alibba’, Syaikh Zainuddin al malibari al kabir ini pertama belajar ilmu di India di daerah (Cochin) kemudian di Ponani (fanan) kepada paman dan guru lainnya, kemudian ke Makkah dan bermukim disana beberapa tahun, kemudian melanjutkan ke al Azhar di kairo Mesir, disini beliau berguru kepada banyak guru diantaranya : Imam Sakhowi dan Imam Suyuthi. Kemudian beliau wafat di Ponani India (tahun 928 H.)
Syaikhuna Abdul Aziz Syahawi sudah mengampu beberapa syarah terhadap nadzam ini diantaranya Salalim fudhola’ karya syaikh nawawi banten dalam 27 majlis, dan juga irsyadul alibba’ di masjid al Azhar. Adapun Syarh Kifayatul atqiya’ sudah pernah dimulai tapi belum selesai karena beberapa kesibukan beliau.



