Bulan Ramadhan tidak hanya dijadikan sebagai momentum mendekatkan diri kepada Allah, namun sekaligus merekatkan kerukunan antar umat beragama. Seperti yang tengah viral baru-baru ini, fenomena perang takjil atau oleh warganet disebut “war takjil” ramai diperbincangkan di jagad dunia maya. Tentunya penyebutan perang disini bukan dalam artian negatif, namun justru menggambarkan keseruan umat antar agama dalam hal berebut takjil meski tidak ikut berpuasa. Semisal pada postingan video yang memperlihatkan pendeta bernama Steve Marcel, ia menyampaikan khotbahnya sambil bercanda, “soal agama kita toleran, tapi soal takjil kita duluan,” katanya dalam potongan video yang viral di medsos. Ungkapan ini sontak disambut dengan gelak tawa serta menuai beragam respon positif dari warganet. Salah satu komentar menggelikan kemudian disampaikan, “bagimu agamamu, bagiku takjilmu,” tulis akun imkhaa_ dalam laman intagramnya. Komentar tersebut mewakili keseruan umat antar agama dalam menyemarakkan suasana Ramadhan tahun ini.
Fenomena ‘war takjil’ juga kaya akan nuansa toleransi, dimana kedekatan umat Islam dan non islam menjadikan praktik beragama terasa lebih mudah dan menyenangkan. Alih-alih menebar kebencian dan menaruh rasa curiga, praktik beragama semacam ini mewujudkan ruang untuk saling menghargai, memberikan keselamatan, hidup berdampingan dengan damai, serta memiliki hak yang sama dalam perlindungan. Islam datang sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin melarang keras berbuat aniaya dan mencaci-maki penganut agama lain. Hal ini telah dijelaskan dalam QS. Al-Kafirun[109]: 1-6 mengenai seruan untuk bersikap toleransi. Dari kalangan ulama kontemporer, Quraish Shihab dalam karya tafsirnya Al-Misbah menyebutkan bahwa surat tersebut merupakan surat penolakan (baraa’). Diceritakan bahwasanya sebagian kaum kafir Makkah dan Madinah telah datang kepada Nabi Saw. Mereka menemui Nabi Saw bermaksud untuk mengajukan suatu kompromi agar nabi Muhammad Saw berkenan menerima segala bentuk percampuran amal ibadah mereka. Namun bukannya menerima, Allah menurunkan potongan ayat 1-5 dan secara tegas menyerukan kepada Nabi Saw agar menolak segala usulan mereka.
Hal ini dikarenakan tidak adanya titik temu antara keyakinan yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw dengan mereka yang disebabkan oleh kekufuran sehingga mustahil terjadinya kompromi baik masa kini maupun masa yang akan datang. Maka jika demikian, bagaimana konsep toleransi yang dimaksud dalam Alquran? Setelah menegaskan ketidakmungkinan adanya pertemuan keyakinan ajaran Islam dan kepercayaan kaum musyrikin, ayat ke-6 dalam surat al-Kafirun secara lebih tepat telah memberikan solusi tentang bagaimana menetapkan cara hidup dalam bermasyarakat. Yaitu pada ayat lakum di nukum wa liyadin (bagimu agamamu dan bagiku agamaku). Ayat tersebut menegaskan kepada kita bahwa masing-masing pemeluk agama dapat melaksanakan apa yang dianggapnya benar sesuai dengan keyakinan yang dianutnya tanpa memaksakan keyakinannya terhadap agama lain.
Sikap toleransi sebagaimana yang telah diajarkan dalam Alquran tersebut sudah seharusnya tercermin dalam diri tiap muslim, terlebih dalam momentum bulan puasa ini. Dengan adanya trend ‘war takjil’ menjadikan Ramadhan sebagai kesempatan untuk menjalin kedekatan umat Islam dan nonmuslim dengan cara seru dan menyenangkan. Karena praktik toleransi beragama bisa jadi tidak melulu diawali dengan segala macam teori, namun dapat dirasakan dengan hal yang sangat sederhana. Sesederhana santapan takjil beraneka rasa dan suasana buka bersama.



