Puasa dan Manajemen Kebahagiaan

Alkisah, ada seorang laki-laki mengeluhkan kehidupannya yang mulai terasa berat. Orang tersebut merasa tidak bahagia karena harus tinggal bersama keluarga besarnya di sebuah rumah kecil yang sangat sempit. Dia merasa perlu konsultasi kepada orang pandai di kampungnya untuk mencari jalan keluar dari permasalahannya.

“𝘕𝘢𝘴𝘳𝘶𝘥𝘥𝘪𝘯, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘤𝘦𝘳𝘥𝘢𝘴. 𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘥𝘰𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘭𝘶𝘴𝘪” Kata laki-laki tersebut yang merupakan tetangganya Nasruddin Hoja. Nasruddin Hoja atau Joha (penyebutan orang arab) adalah sosok yang terkenal dengan kecerdasan dan kekocakannnya. Banyak sekali anekdot-anekdot lucu yang selalu bikin ketawa dari sosok satu ini. Meski keberadaannya masih diperdebatkan, namun kisah-kisahnya banyak yang mengandung pesan-pesan kehidupan yang mendalam.

“𝘉𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪…” Orang itu melanjutkan curhatnya. “𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘚𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬. 𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢. 𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶”

Mendengar itu Nasruddin malah menyarankan laki-laki tersebut membeli dua ekor kambing dan dipelihara di dalam rumahnya. Padahal rumahnya sudah terasa sempit. Sontak tetangganya melongo kebingungan.

“𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩. 𝘎𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘪𝘩!” Tetangganya kesal sekali mendengar nasehat Nasruddin Hoja yang tidak masuk akal. Namun karena percaya Nasruddin bisa membantunya mendapatkan jalan keluar, laki-laki tersebut akhirnya mengiyakan.

Seminggu kemudian tetangganya datang kembali ke rumah Nasruddin Hoja. Setelah Nasruddin memastikan perintahnya dilaksanakan dengan baik, dia bertanya apakah orang tersebut sudah bahagia.

“𝘉𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘢𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢! 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘴𝘢𝘳𝘢!” Jawab tetangganya kesal.

Mendengar kekesalan tetangganya, Nasruddin malah tersenyum dan menyuruhnya kembali membeli lima ekor ayam dan dipelihara di rumahnya juga. Sebenarnya tetangganya merasa semakin kesal. Namun apa daya dia tidak berkutik di hadapan Nasruddin yang cerdas itu.

Minggu berikutnya tetangganya benar-benar frustasi. Bagaimana tidak, sebelumnya saja rumahnya sudah terasa sesak, malah ditambahi dua ekor kambing dan lima ekor ayam tinggal di dalam rumah yang sama. Bukannya mendapatkan jalan keluar, pemuda tersebut hampir dibuat gila oleh ide-ide aneh Nasruddin.

“𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨! 𝘈𝘥𝘢 𝘩𝘦𝘸𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘢𝘮𝘱𝘶𝘳 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘳𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘒𝘢𝘤𝘢𝘶 𝘱𝘰𝘬𝘰𝘬𝘯𝘺𝘢!” Tetangganya mencak-mencak di hadapan Nasruddin karena tidak kuat menahan emosinya.

Nasruddin malah tersenyum melihat tetangganya emosi. “𝘖𝘬𝘦, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘯𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘫𝘶𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘮𝘣𝘪𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶. 𝘐𝘯𝘴𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢”

Minggu depannya, tetangganya menghadap Nasruddin dengan wajah yang sudah ceria. Dia merasa bahagia karena rumahnya sudah lebih lega dari sebelumnya. Dua ekor kambing yang cukup mengganggu itu akhirnya tidak ikut tinggal bersama lagi di rumahnya. Tidak hanya itu, ia juga mendapatkan uang dari hasil pejualan kambing itu.

“𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴.. 𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴.. 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘢𝘭 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘢𝘺𝘢𝘮-𝘢𝘺𝘢𝘮 𝘪𝘵𝘶. 𝘐𝘯𝘴𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪” Ujar Nasruddin menyemangatinya.

Seminggu kemudian tentangganya datang lagi menghadap Nasruddin dengan wajah yang jauh lebih bahagia. Semenjak ayam-ayamnya juga ikut dijual, ia merasakan rumahnya semakin lega. Keluarganya juga bersyukur sekali dengan kondisi rumahnya sekarang. Tidak ada hewan-hewan yang mengganggu dan ikut memenuhi rumahnya. Rumahnya sekarang sudah terasa damai layaknya istana.

Seperti itulah kebahagiaan. Mudah sekali direkayasa dan disiasati. Apapun kondisinya, setiap orang sebenarnya mudah sekali bahagia. Selama memiliki kecerdasan dalam mengelola pikiran dan merekayasa keadaan.

Kisah Nasruddin dan tetangganya di atas mengajarkan kita bagaimana mengelola kebahagiaan dengan cara merekayasa problem hidup yang lebih berat. Sehingga ketika problem hidup yang lebih berat dihilangkan, problem yang sebenarnya tidak akan terasa lagi karena tertutupi perasaan bahagia yang lahir dari hilangnya problem rekayasa tersebut.

Di bulan suci Ramadhan, ada satu kebahagiaan yang mudah sekali dirasakan oleh umat islam, yakni momen makan dan minum di saat berbuka puasa. Padahal jika direnungkan kembali, aktifitas makan dan minum adalah hal yang biasa kita lakukan setiap hari. Tidak ada yang istimewa. Lantas kenapa ketika dilakukan di bulan Ramadhan di saat maghrib menjadi sangat membahagiakan?

Jawabannya sederhana. Karena puasa. Orang yang berpuasa selama seharian penuh dilarang makan dan minum. Suatu kenikmatan yang sebelumnya dilarang kemudian diperbolehkan kembali tentu akan melahirkan kebahagiaan. Dalam hal ini, kebahagiaan timbul dari hasil mengelola kenikmatan makan dan minum yang sementara dihilangkan. Ketika kenikmatan ini diberikan kembali maka akan menimbulkan kebahagiaan.

Kebahagiaan inilah yang dimaksud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diberikan kepada orang yang sedang berpuasa. 𝘓𝘪 𝘢𝘴-𝘴𝘩𝘢𝘢𝘪𝘮𝘪 𝘧𝘢𝘳𝘩𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯𝘪, 𝘧𝘢𝘳𝘩𝘢𝘵𝘶𝘯 𝘩𝘪𝘪𝘯𝘢 𝘺𝘶𝘧𝘵𝘩𝘪𝘳𝘶 𝘸𝘢 𝘧𝘢𝘳𝘩𝘢𝘵𝘶𝘯 𝘩𝘪𝘪𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘭𝘲𝘢𝘢 𝘙𝘢𝘣𝘣𝘢𝘩𝘶𝘶. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya.

Tags :

Mohammad Jazuli S

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network