100 tahun lalu, bersama sejumlah kiai, Hadlaratussyaikh Hasyim Asy’ari (1871-1947) mendirikan NU. Organisasi kebangkitan ulama. Bangkit untuk membangun peradaban. Prinsip NU digali dari spirit wahyu; al-Qur’an dan hadis. Salah satunya tertuang dalam kitab Arbain. Kitab anggitan Hadlaratussyaikh Hasyim Asy’ari. Memuat 40 hadis.
Pemilihan 40 hadis ini tentu ada pertimbangan. Tidak serta merta hanya sebagai risalah atau diktat. Lebih dari itu, harus menjadi rujukan perjuangan. Demikian tegas KH. Afifuddin Muhajir Situbondo, Wakil Rais ‘Am PBNU. Dengan kata lain, kitab Arbain di atas harus menjadi panduan khidmah pengurus dan warga NU. Yakni mewujudkan peradaban Indonesia merdeka dan tata kelola dunia.
Dari kebutuhan itulah, Syarah Lathif ini penting dibaca. Karya Ust. Khoiruddin ini menjabarkan satu per satu 40 hadis dalam kitab Arbain. Terbit Februari 2024. Tebal 130 halaman. Diberi kata pengantar 2 halaman oleh KH. Afifuddin Muhajir. Di setiap lembar, disajikan paparan yang bernas, dengan diksi bahasa Arab yang mudah. Kehadiran kitab syarah karya Khatib Ma’had Aly Situbondo ini adalah bagian dari kebangkitan mengarang kitab di dunia pesantren.
Setidaknya ada 3 hal menarik. Pertama, dari sisi sistematika penulisan, kitab ini terbagi menjadi 2 bagian. Di bagian awal disajikan matan 40 hadis pilihan Hadlaratussyaikh Hasyim Asy’ari. Komplit dengan rujukan kitab hadisnya. Baik dari Kutubussittah ataupun lainnya. Semisal Musnad al-Bazzar, Musnad Ibnu Abi Dunya, dan lain sebagainya. Setelah itu, di bagian berikutnya disajikan syarah masing-masing hadis.
Kedua, di bagian syarah, penulis menjelaskan kata-kata kunci. Dilanjutkan dengan pendapat ulama. Baik klasik maupun kontemporer. Selain itu, juga disajikan perbandingan riwayat. Di bagian akhir, dipaparkan kontekstualisasi pengamalan hadis. Di titik inilah, kita merasakan bagaimana relevansi 40 hadis yang menjadi prinsip perjuangan NU. Khususnya saat memasuki abad kedua.
Ketiga, contoh-contoh yang diangkat adalah fenomena kekinian. Salah satunya adalah digitalisasi. Saat menjelaskan hadis yang kedua, yakni tentang kecakapan dai, maka penting kiranya menggunakan akun-akun media sosial. Dai perlu memiliki tingkat literasi digital yang memadai. Semisal menggunakan Instagram, Facebook, Youtube, Twitter, dan lain sebagainya.
Lantas tertarikah anda?



