Mi’raj Spiritual Dan Kritik Glorifikasi Perempuan Penghuni Neraka

Tujuan peringatan hari-hari besar keagamaan di antaranya adalah meneladani Rasulullah dan tokoh-tokoh penting di sekitar beliau. Sedangkan tema terkait perempuan memperoleh porsi cukup besar dalam sumber otentik Islam. Karenanya, tidak mengherankan jika dalam peristiwa-peristiwa yang dirayakan banyak kita jumpai peran-peran perempuan yang cukup signifikan.

Misalnya Sayyidah Aminah yang melahirkan Baginda Rasulullah tanpa didampingi suami yang termanifestasi sebagai peringatan Maulid Nabi. Sayyidah Hajar yang berperan dalam sekian rentetan kewajiban ibadah haji dan peristiwa Idul Adha. Sayyidah Khadijah sebagai perempuan pertama yang beriman atas kenabian Rasulullah yang mengabadi dalam peringatan nuzulul al-Qur’an. Pun dalam peristiwa Isra Mi’raj. Ia merupakan tashliyah (hiburan) yang diberikan Allah kepada Rasulullah karena hantaman duka cita atas kewafatan istri Rasulullah, yang selama ini menopang perjuangan dakwah Rasulullah lahir batin. Sayyidah Khadijah sosok istri yang berkepribadian matang yang selalu penuh inisiatif.

Isra adalah perjalanan Nabi dari Masjid Haram Mekah ke Masjidil Aqsa Palestina. Ia merupakan perjalanan ruang historis manusia yang bersifat horisontal. Isra merupakan gambaran perjalanan hidup manusia dalam interaksinya dengan sesama. Sementara Mi’raj adalah perjalanan dari Masjidil Aqsa menuju Sidratil Muntaha. Ia merupakan perjalanan menuju ruang metahistroris yang bersifat vertical, Ia merupakan perjalanan hidup manusia dalam berinteraksi dengan Allah sebagai satu-satunya Tuhan.

Dalam peristiwa Isra Mi’raj, ternyata yang cukup populer adalah narasi tentang perempuan yang mayoritas menghuni neraka dengan beragam jenis dosa yang dilakukan. Tetapi tidak disertai pesan penting bahwa tidak seorangpun masuk neraka karena perbuatan buruk yang ia lakukan, bukan karena ia seorang perempuan. Begitu pula perlu disertai penegasan bahwa tidak seorang pun masuk surga karena ia seorang laki-laki, melainkan karena perbuatan baiknya. Narasi yang berkembang justru tidak membesarkan hati tetapi justru melemahkan perempuan.

Isra Mi’raj menjadi momentum penting khususnya bagi perempuan karena konstruk sosial menyebabkan mereka rentan untuk dipaksa menuhankan selain Allah dengan perwujudan taat mutlak pada laki-laki yang notabene-nya justru membawa madharat bagi dirinya. Seorang perempuan korban tindakan kekerasan yang memilih sikap menghadapinya dengan menolak, kemudian mencari pertolongan pada pihak atau lembaga yang berwenang dan Ia terbebas dari kedzaliman, artinya ia telah melakukan Isra. Begitu ia terbebas dari tindakan kekerasan dan menolak menjadi hamba suami, karena ingin kembali hanya menghamba kepada Allah, maka ia telah melakukan Mi’raj.

Adapun terkait upaya memutus circle of abuse (rantai kekerasan) berikutnya, maka perempuan harus memiliki keberanian menceritakan tindakan kekerasan yang menimpa dirinya. Tidak perlu takut bahwa ia dianggap mengumbar aib keluarganya. Jika menceritakan dianggap aib, maka melakukan tindakan kekerasan justru lebih aib lagi. Langkah ini justru merupakan teladan dari seorang sahabat perempuan yang mengalami tindakan pemukulan dari suaminya, kemudian ia mengadukannya kepada Rasulullah. Ia ingin memperoleh keadilan atas apa yang ia alami. Laki-laki dan perempuan, keduanya dipandang perlu melakukan Isra Mi’raj yaitu proses pembebasan diri dari belenggu penghambaan kepada selain Allah, baik belenggu yang mengantarnya menjadi pelaku tindak kekerasan maupun menjadi korban kedzaliman.

Tags :

Farida Ulvi Na'ima

Aswaja NU Center Sidoarjo, JP3M Nusantara, ADP IKA PMII, Aktivis Perempuan

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network