(Rihlah Ilmiah Situbondo, Bagian Tiga) Mendedah Tafsir Jalalain; Antara Kiai Zainal Ringinagung dan Kiai Azaim Situbondo

Di tangan Kiai Zainal Abidin, Tafsir Jalalain terasa seperti samudera ilmu bahasa. Salah satu masayikh Pesantren Ringinagung Kediri ini bernas mengulas gramatikal kitab yang ditulis oleh 2 Jalal di atas; Imam Jalaluddin al-Mahalli (791-864 H) dan Imam Jalaluddin al-Suyuthi (849-911 H). Setiap mengikuti pengajian Kiai Zainal, ilmu nahwu, shorof, dan i’lal terasa bertaji. Dengan wasis, Kiai Zainal selalu merujuk dalil teoritisnya. Mulai dari al-Ajurumiyah, al-Amrithi, hingga Alfiyah Ibni Malik. Beliau hafal masing-masing ibarat atau bait dari ketiganya. Padahal sudah puluhan tahun lalu, kitab-kitab induk itu dihafal. Tepatnya saat nyantri di Ploso Kediri.


Dari sisi shorof dan i’lal beliau detail “menguliti” kata perkata. Wazan-wazan tashrif istilahi maupun lughowi secara silmutan digunakan. Perpindahan kata dari tsulatsi mujarrad, tsulatsi mazid ruba’i, khumasi, hingga sudasi runtut dicontohkan. Dijelaskan pula faidah perpindahan dari satu wazan ke wazan lain. Apakah ta’diyah, muthawa’ah, takalluf, shairurah, thalab dan lain sebagainya. Dari model pengajian seperti ini, kami merasakan kecanggihan ilmu nahwu, shorof, dan i’lal. Khususnya sebagai piranti memahami teks Arab.


Itu kenangan manis saat 20 tahun lalu ngaji Tafsir Jalalain di Pesantren Ringinangung Pare Kediri. Pesantren sepuh yang didirikan oleh Simbah Nawawi, kisaran tahun 1825 (sebagian mencatat tahun 1870). Pengalaman mengaji Tafsir Jalalain terulang lagi saat tahun ini, 2024, kami berkesempatan mengaji pasan di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Pesantren yang didirikan tahun 1908 oleh KHR. Syamsul Arifin, ayahanda KHR. As’ad Syamsul Arifin (1897-1990), salah satu pahlawan nasional.


Di pondok yang terletak di ujung timur bagian utara Pulau Jawa ini, pengajian Tafsir Jalalain diampu oleh KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, cucu Kiai As’ad yang kini didapuk sebagai pengasuh Pesantren Situbondo. Murid Sayyid Muhammad al-Maliki (1944-2004) ini mengampu pengajian Tafsir Jalalain setiap pagi. Pukul 08.00 WIB. Bertempat di Pendopo Pengasuh. Disiarkan secara live di media pesantren. Santri membludak di Pendopo. Bahkan, meluber hingga ke teras ndalem dan musholla.


Jika Kiai Zainal suka menganalisa kata dalam Tafsir Jalalain dari sisi gramatikal, maka Kiai Azaim senang menilik dari sisi sastra atau balaghah (bayan, ma’ani, dan badi’). Dari paparan Kiai Azaim, kita dihantarkan untuk menikmati keindahan bahasa al-Qur’an. Semisal sisi ijaz, ithnab, istihdlar, munasabah, muwafaqah, majaz, kinayah, dan lain sebagainya. Selain itu, di banyak ayat, Kiai Azaim juga memberikan keterangan hikmah atau isyarat ayat. Semisal pentingnya keseimbangan raja’ (pengharapan) dan khauf (takut) kepada Allah. Pentingnya ridho terhadap maqam yang telah diberikan. Salah satu rujukan dalam tilikan tasawuf ini adalah kitab al-Hikam karya Syaikh Ibnu Athaillah al-Sakandari (658-709 H).


Selain dari sisi balaghah, di tangan Kiai Azaim, kita merasakan keluasan literatur tafsir. Meskipun yang dibaca adalah Tafsir Jalalain, tetapi beliau memberikan keterangan penting dari kitab tafsir lain. Semisal Tafsir al-Qusyairi, Tafsir al-Qurthubi, Tafsir al-Shawi, Tafsir al-Sya’rawi, dan lain sebagainya. Tentu, beliau juga mengutip keterangan Sayyid Muhammad Al-Maliki dan Syaikh Ali al-Shabuni (1930-2021). Kedua terakhir ini adalah guru Kiai Azaim. Kitab Tafsir Rawa’i al-Bayan dan Tafsir al-Muyassar sering dirujuk.


Dari kedua guru mulia ini, kita dapat menikmati keindahan dan keluasan ilmu. Masing-masing saling melengkapi. Menjadi kompas dalam kita memahami turats. Satu di antaranya adalah Tafsir Jalalain.
Semoga kelak kita dikumpulkan dengan orang-orang sholih nan mulia di surga-Nya.

Tags :

Muhammad Hanifuddin

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network