‘Ulama yang selalu berpenampilan ala santri pondokan ini lahir di Pasuruan, 16 Desember 1956. Dengan kemampuannya memahami dan membaca riwayat-riwayat qiro’at al-Qur’an telah diakui oleh guru-guru al-Qur’an dan dikenal sebagai pengajar qiro’ah sab’ah senior yang masih eksis di Surabaya. Murid-murid beliau berasal dari para pengajar Al-Qur’an di lembaga pendidikan Islam atau TPQ di Surabaya dan bahkan beberapa santrinya dari pelosok Jawa Timur.
Beliau memulai perjalanan intelektualnya dari Singosari tahun 1971 dengan belajar kepada KH. Bashori Alwi, Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) dan KH Musta’in Syamsuri, Pesantren Darul Qur’an Watugede Singosari. Beliau juga pernah mengikuti Sekolah Guru al-Qur’an tahun 1976. Lantas melanjutkan ke PTIQ Jakarta untuk mengasah keilmuannya tentang al-Qur’an sampai selesai tahun 1982.
Berbekal dari ilmu yang beliau peroleh mulai dari bangku sekolah dan kuliah, kemudian beliau berangkat ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus belajar dan mendalami ilmu-ilmu Hadits dan Fiqih dari para ‘ulama seperti Sayyid Muhammad Al-Maliki, Syaikh Ismail, Syaikh Muhammad Yasin ‘Isa al-Fadani, dll. Meskipun tidak kuliah, beliau senantiasa mengikuti perkembangan kajian-kajian dan bahasan para ‘ulama ahli Al-Qur’an yang dimuat di jurnal-jurnal universitas maupun lembaga pengkajian Al-Qur’an.
Beliau memilih tinggal di Pesantren Masjidil Harom Mekkah untuk menimba ilmu al-Qur’an dan Qiro’at yang saat itu masih jarang diminati oleh masyarakat. Hampir 2 tahun beliau mencari guru al-Qur’an di tanah suci Mekkah namun beliau belum menemukan seorang guru yang ahli khusus mengajarkan al-Qur’an dan Qiro’at sesuai yang beliau harapkan.
Dikarenakan bacaan al-Qur’an beliau sangat bagus, oleh pengasuh pesantren beliau diminta untuk membantu mengajari al-Qur’an kepada santri di pesantren. Padahal niatan beliau adalah untuk belajar.
Setelah kesana kemari mencari informasi akhirnya beliau dipertemukan dengan seorang guru al-Qur’an dan Qiro’at yang setiap hari mengajar al-Qur’an di depan Ka’bah, guru tersebut adalah Syaikh ‘Abdul Ghoffãr bin ‘Abdul Fattãh Ad-Durübi. Kepada Syekh inilah kyai Hilmi belajar al-Qur’an dan Qiro’at Sab’ah sampai khatam serta meriwayatkan banyak kitab-kitab keislaman yang lain.
Beliau merasa beruntung karena bisa dipertemukan dengan Syaikh Ad-Durûbi. Sebenarnya, tidak mudah untuk bisa bertemu dan mengaji denganya, karena beliau di Mekkah statusnya sebagai pelarian dari negara asalnya, Syiria. Konon, beliau diancam akan dibunuh oleh pemerintah negara asalnya. Oleh karena itu, tidak banyak yang mengenalnya dan murid-muridnya juga sangat terbatas.
Namun yang paling mengagumkan dari Syaikh Al-Durübi, jelas kyai Hilmi adalah masuknya Syaikh ‘Ali Ash-Shabuni, ‘ulama ahli tafsir yang sangat masyhur sebagai murid beliau. Padahal dari segi usia, jelas lebih tua Syaikh ‘Ali Ash-Shabuni. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuwan Syaikh Al-Durübi, khususnya ilmu tentang riwayat Qiro’at al-Qur’an, sudah diakui oleh ‘ulama-ulama yang lain. Satu lagi yang juga mengagumkan dari Syaikh Ad-Durübi adalah ketawadhu’annya dan penghargaannya terhadap murid-muridnya.
Sepulang ke tanah air tahun 1986, Ust Dzulhilmi mulai mengajar Al-Qur’an di kampung kelahirannya, Pasuruan Jawa Timur. Tapi waktu itu masih sebatas mengajarkan ilmu tajwid saja. Sehari penuh ia habiskan waktunya untuk mengajar murid-muridnya yang terdiri dari beberapa kelompok. Bahkan ia sempat pula mengajar di beberapa sekolah formal, khususnya di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah.
Ketika sudah berdomisili di Surabaya, beliau mulai rutin mengisi beberapa pelatihan Al-Qur’an pada lembaga-lembaga pendidikan. Beberapa masjid juga menjadwal beliau untuk menjadi khotib Jum’at tetap, seperti Masjid Nasional Al-Akbar, Masjid Muhammad Cheng Ho, Masjid Universitas Airlangga dan beberapa masjid lainnya sampai pada akhirnya beliau dipercaya sebagai salah satu Imam Besar Masjid Ampel. Namun, hal yang terpenting dari segala aktivitas beliau ialah mengajar Al-Qur’an, khususnya Qiro’at Sab’ah yang bertempat di rumahnya.
Tak terkecuali beberapa guru dari berbagi kalangan Metode pernah ngaji dan bahkan sudah khatam sama Kyai Hilmi. Di antara para guru / trainer Metode Ummi yang telah Khatam kepada kyai Hilmi adalah Ust Muzammil (alm), Ust Imam Busyairi, Ust Syarif Hidayatullah dan Ust Muhammad Amin.



