Serial Fikih Haji – 3: Kisahkan Keindahan Ketika Kamu Berhaji

Tak sedikit dari kita yang saat kembali dari Tanah Suci, saat duduk bersama keluarga atau tetangga, yang paling pertama diceritakan adalah: “Wah, Masya Allah, panasnya luar biasa,” atau “Makannya itu lho, rasanya kurang otentik…”, bahkan, “Waduh, penat dan capainya begitu dahsyat.” Atau sangat mungkin cerita-cerita itu justru sudah terkabarkan melalui status media sosial dan tervisualisasikan melalui video-video pendek.

Tanpa disadari, cerita-cerita seperti ini bisa saja membuat orang lain yang mendengarkan jadi berpikir ulang: “Kalau hajinya begini, apa saya sanggup? Jangan-jangan malah menderita.” Ketakutan dan kecemasan menjadi hantu yang menghinggapi kerabat dan tetangga yang belum berhaji. Padahal, bukankah kita baru saja kembali dari tempat paling mulia di muka bumi?

Saya bersyukur, di saat sedang memulihkan kondisi badan setelah melaksanakan rangkaian proses ibadah haji, bisa membaca buku kecil berjudul Dalīl al-Ḥājj sebanyak 86 halaman yang dicetak oleh penerbit klasik nan legendaris Musthafa Bab Al Halabi. Risalah singkat yang powerfull ini merupakan karya Syeikh Muhammad Ḥasanayn Makhlūf, ulama terkemuka Al Azhar sekaligus Mufti Besar Mesir periode 1946-1950 bermazhab Maliki.

Di halaman 75–76, secara khusus, Syeikh Hasanayn Makhluf menuliskan satu pembahasan bertajuk “Pasal Kedua Puluh: Celaan terhadap sikap suka membicarakan buruknya ibadah haji dan kesulitan yang dialami para jamaah serta penduduk dua Tanah Suci”. Dalam bagian ini, menurut beliau, sikap jamaah haji yang ketika kembali ke Tanah Air, sering terjebak dalam kebiasaan menceritakan kepayahan, kekurangan pelayanan, atau kesulitan fisik merupakan sikap yang tidak sejalan dengan ruh haji yang penuh ketundukan dan keikhlasan.

“…قال: “قد تعوّد كثير من الحجاج أن يتحدثوا بإفراط حال عودتهم وبعد وصولهم إلى بلادهم عما وقع لهم من شدائد السفر، وما رأوا من أخلاق أهل تلك البلاد وغيرهم

“Telah menjadi kebiasaan banyak dari para jamaah haji untuk berbicara secara berlebihan saat mereka kembali dan setelah tiba di negeri mereka tentang apa saja yang mereka alami berupa kesulitan dalam perjalanan, serta apa yang mereka lihat dari akhlak penduduk negeri-negeri tersebut dan lainnya…”

Foto: Pixabay/Shahbaz Husain
Baca Juga: Serial Fikih Haji: Seputar Hukum Thawaf Wada’

Beliau menambahkan bahwa sikap seperti ini mencerminkan kurangnya adab terhadap tempat suci dan minimnya rasa syukur. Kita seakan lupa bahwa kita baru saja dipanggil Allah, menjadi tamu-Nya, menjalani ibadah yang tidak semua orang bisa lakukan. Mereka baru saja menjalani rukun Islam kelima yang begitu agung, mengunjungi Baitullah dan makam Rasulullah ﷺ, tempat-tempat yang disucikan oleh Allah Swt.

“وقحط من كرامة الوضع وكرامة المقام، وتنكر الناس من الذهاب إلى حج بيت الله وزيارة مدينة رسوله”

“Mereka sudah tidak lagi punya rasa hormat, baik dalam sikap maupun terhadap tempat suci. Akibatnya, banyak orang jadi enggan pergi haji ke Baitullah dan mengunjungi kota Nabi ﷺ.”

Lebih dari sekadar celaan moral, tindakan ini juga bertentangan dengan sunnah Nabi ﷺ yang melarang bicara sia-sia dan membangkitkan keluhan berlebihan setelah beribadah. Bahkan, dalam hadits sahih disebutkan:

“من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه”

“Termasuk tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.”

Haji Adalah Syiar, Bukan Sekadar Perjalanan

Haji bukanlah perjalanan wisata. Ia adalah sebentuk syiar dari gugusan keimanan: ketika berdiri di depan Ka’bah sambil menangis, melempar jumrah sambil mencampakkan hawa nafsu, dan berdoa di Arafah berharap diampuni semua dosa. Maka saat pulang, harusnya menjadi pribadi yang telah berubah: lebih tenang, lebih sabar, dan lebih bijak dalam berbicara.

Seseorang yang berhaji sejatinya saat kembali dituntut untuk membawa pesan cinta, kedamaian, dan keteladanan. Maka, sebagaimana dinasihatkan Syeikh Hasanayn Makhlūf, para jamaah haji punya kewajiban moral untuk menceritakan kebaikan yang ditemui, menyampaikan kenikmatan ruhani saat thawaf, wukuf, dan mencium Hajar Aswad.

Imam Al Ghazali, dalam pembahasan haji di kitab Ihya ‘Ulumiddin juga memberikan pesan kepada jamaah haji yang pulang. Paling tidak harus ada perubahan perilaku dalam diri jamaah haji begitu pulang dari berhaji. Menurutnya,

.وَلْيَكُنْ رُجُوعُهُ عَنِ الحَجِّ رُجُوعًا عَنْ مَعَاصِي اللهِ إِلَى طَاعَتِهِ، كَمَا رَجَعَ مِنْ وَطَنِهِ إِلَى وَطَنِهِ، فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَلَامَاتِ القَبُولِ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ حَجُّهُ مُوجِبًا لِتَغْيِيرٍ فِي أَخْلَاقِهِ وَأَعْمَالِهِ، فَلْيَخْشَ أَنْ لَا يَكُونَ حَجُّهُ مَقْبُولًا

“Hendaknya kepulangan seseorang dari ibadah haji menjadi kepulangan dari kemaksiatan menuju ketaatan kepada Allah, sebagaimana ia kembali dari tanah suci ke negerinya. Sebab, hal tersebut merupakan tanda diterimanya ibadah haji. Adapun siapa yang hajinya tidak membuahkan perubahan dalam akhlak dan amal perbuatannya, maka ia patut khawatir bahwa hajinya belum tentu diterima oleh Allah.”

Foto: Pexels/Mido Makasardi
Baca Juga: Serial Fikih Haji – 2: Meminta Doa Kepada Jamaah Haji yang Pulang

Mereka juga punya tanggung jawab untuk bisa menggambarkan getaran kerinduan yang dirasakan saat berdiri di depan Ka’bah. Bahkan lebih lanjut, mampu menjadikan pengalaman spiritual dirinya sebagai sarana menyemangati orang lain untuk berhaji, bukan membuat mereka takut dan enggan.

Beliau juga menyitir ayat-ayat dalam doa Nabi Ibrahim As yang mengajarkan kepada kita untuk menjadikan Baitullah sebagai pusat syiar, pusat solat, dan tempat lahirnya moral yang luhur:

“…رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ”

“Ya Tuhan kami, sungguh aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki tanaman…” (Ibrahim: 37)

Doa itu mengajarkan bahwa tanah haram adalah tempat penyemaian nilai, bukan keluhan.

Dalam kitab Lawaqih al-Anwār disebutkan bahwa Abu al-‘Abbās al-Mursī Ra bertanya kepada seorang lelaki yang baru pulang haji, “Bagaimana hajimu?” Ia menjawab, “Air sangat sulit dan harga barang mahal.” Maka beliau berkata kepadanya, “Aku bertanya kepadamu tentang ibadah hajimu, tentang apa yang kamu peroleh dari Allah Swt berupa terbukanya pintu-pintu ilmu, kemenangan, dan keberhasilan sebagai buah dari haji seseorang, sayangnya dia menjawab dengan cerita tentang keadaannya yang mengalami mahalnya harga dan kelangkaan air.

Maka sungguh buruk jika setelah semua pengalaman spiritual itu, seseorang justru menyebarkan aura negatif tentang haji di tengah masyarakat. Bahkan Syekh Makhlūf menyebut, orang yang demikian bisa termasuk dalam ayat:

“وما لهم ألا يعذبهم الله وهم يصدون عن المسجد الحرام”

“Dan mengapa Allah tidak akan mengazab mereka, sedangkan mereka menghalang-halangi (orang lain) dari Masjidil Haram.” (Al-Anfal: 34)

Ceritakan yang Indah, Simpan yang Berat

Sepulang dari haji, para jamaah memiliki kesempatan emas: menjadi duta kebaikan, menghidupkan kembali semangat ibadah, dan menyebarkan kedamaian. Jangan sia-siakan momen itu dengan cerita remeh, harga makanan, atau kemacetan bus. Bicaralah tentang keagungan Ka’bah, tangisan di Multazam, puncak penghambaan di Arafah dan doa yang terasa tembus ke langit.

Itulah warisan para salihin. Sebagaimana ditulis oleh Syekh Hasanayn Makhlūf:

“ثم ليقصدوا نفعهم وليوفوا نذورهم وليطوفوا بالبيت العتيق”

“Kemudian hendaklah mereka berniat untuk memberi manfaat kepada orang lain, dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka, serta hendaklah mereka melakukan thawaf di Baitullah yang mulia (al-Bayt al-‘Atiq).”

Tags :

Mauhibur Rokhman

Khadim Bayt Mohammadi Indonesia

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network