Pernahkah Anda berada di titik sangat kecewa karena dikhianati, ditipu, atau dirugikan oleh orang lain? Dalam kondisi emosi yang memuncak, rasanya sangat manusiawi jika muncul keinginan untuk meluapkan amarah. Doa orang terzalimi sering kali meluncur begitu saja dalam bentuk permohonan agar orang tersebut mendapatkan balasan yang setimpal atau bahkan lebih buruk.
Secara hukum fikih, memanjatkan doa orang terzalimi sebagai bentuk respons atas keperihan yang kita terima memang diperbolehkan. Islam memberikan hak tersebut kepada mereka yang teraniaya sebagai bentuk keadilan. Namun, pernahkah kita merenungkan efek domino spiritual dari doa-doa buruk yang kita panjatkan tersebut?
Sebuah untaian nasihat mendalam dari ulama besar asal Mesir, Syekh Mutawalli Sya’rawi, dalam sebuah rekaman video (lihat di sini), mengajak kita semua untuk melihat persoalan ini dari sudut pandang yang jauh lebih luas dan bijaksana.
Skenario Doa: Ketika Semua Sumpah Dikabulkan

Dalam nasihatnya yang menggunakan pendekatan dialogis, Syekh Mutawalli Sya’rawi memaparkan sebuah realitas yang sering kali luput dari kesadaran kita sebagai manusia. Beliau menyampaikan sebuah analogi:
”Wahai anak keturunan nabi Adam As! Kamu mendoakan buruk atas orang lain yang melakukan kezaliman pada dirimu. Di sisi lain, orang lain juga mendoakan buruk atas dirimu sebab kezalimanmu.”
Pernyataan ini seolah menjadi tamparan keras bagi ego kita. Sering kali, kita menganggap bahwa doa orang terzalimi hanya berlaku untuk kita yang sedang disakiti. Kita menempatkan diri sepenuhnya sebagai korban, tetapi lupa bahwa dalam skenario orang lain, bisa jadi kita adalah pelaku kezaliman. Kita mungkin pernah menyakiti hati seseorang tanpa sengaja atau menunda hak orang lain dalam skala sekecil apa pun.
Lebih lanjut, Syekh Mutawalli menjelaskan bahwa Allah SWT memiliki dua otoritas dalam menyikapi kondisi saling mendoakan keburukan ini:
Pertama: “Bisa saja, Aku kabulkan doa burukmu (kepada orang yang menzalimimu), juga Aku kabulkan doa buruk orang lain (yang pernah kamu zalimi) kepadamu.”
Jika skenario keadilan mutlak ini yang terjadi di dunia, maka tidak akan ada pemenang. Kita mungkin puas melihat orang yang menyakiti kita jatuh, namun di saat yang sama, hidup kita pun akan hancur karena doa buruk dari orang yang pernah kita sakiti.
Kedua: “Bisa saja, Aku tunda nanti di akhirat agar kalian berdua mendapatkan ampunan-Ku.”
Inilah manifestasi dari Rahmat Allah yang melampaui murka-Nya. Allah menahan perwujudan dari doa orang terzalimi di dunia, bukan untuk memperpanjang dendam, melainkan untuk membentangkan ampunan yang luas bagi kedua belah pihak di akhirat kelak.
Memilih Jalan Rahmat dan Introspeksi

Pesan esensial dari Syekh Mutawalli Sya’rawi ini sebetulnya adalah sebuah ajakan untuk melakukan self-correction atau introspeksi diri. Daripada menghabiskan energi untuk menyusun kalimat-kalimat sumpah serapah, alangkah bijaksananya jika kita memilih untuk melapangkan dada dan berhati-hati dalam memanjatkan doa orang terzalimi.
Saat kita memutuskan untuk menahan diri dan menyerahkan segala bentuk keadilan sepenuhnya kepada Allah, kita sedang memantaskan diri untuk masuk ke dalam golongan yang mendapatkan opsi kedua: saling diampuni di akhirat.
Mari kita renungkan bersama. Ketika rasa sakit hati itu datang, cobalah untuk menarik napas dalam-dalam. Mengubah energi amarah menjadi doa kebaikan untuk diri sendiri agar dikuatkan, serta doa hidayah bagi mereka yang berbuat zalim, adalah jalan kelas atas yang diajarkan oleh para ulama. Karena pada akhirnya, bukankah kita semua adalah hamba yang sama-sama fakir dan mengharapkan ampunan-Nya di hari akhir nanti?


