Mengapa Aku Harus Mati dengan Cara Seperti Ini?

Mungkin sudah genap dua pekan Lelaki itu tergeletak lemas di pembaringan. Berhari-hari menangis membuat matanya sembab, raut wajahnya mengiba, membikin sedih setiap orang yang mengunjunginya. Puluhan kawan, kerabat, handai taulan yang menjenguknya sudah berusaha menghiburnya, namun semuanya sia-sia. Ia tetap merasa menjadi lelaki paling menyedihkan di dunia.

Ia tak sedang menangisi sakitnya. Ia paham betul sakit itu bagian dari takdir Tuhan. Bukankah apapun yang dari yang terkasih selalu menawan? —Seperti perkataan Qais si Gila, “Cinta menjadikan sesuatu tampak menawan. Namun yang tampak menawan tak selalu menyebabkan jatuh cinta”.— Yang ia sayangkan, mengapa pula, sepertinya, sakit itu harus ia rasakan di sisa terakhir hembusan nafasnya. Sakit itu, dalam dugaannya, yang pada akhirnya akan mengantarkan pertemuan dengan yang dicinta.

Ia tak sedang menangisi cara kematiannya yang menyedihkan. Sungguh. Ia tak mendambakan mati dengan tenang: tanpa sakit, Izrail datang, memberi salam, meminta izin, ditariknya roh perlahan; sungguh bukan itu yang ia idam-idamkann. Justru sebaliknya. Yang selama ini membuatnya nelangsa, yang selalu berputar-putar dalam benaknya, mengapa ia harus mati tak berdaya di pembaringan. Mengapa ia tak mati dalam medan perang, mati dengan membawa gelar “syahid fi sabilillah”. Pikirannya kalut, hatinnya pilu, sungguh malang diri ini, gumamnya.

Adalah Khalid bin Walid, salah satu pembesar kafir Quraisy pada masa jahiliyah. Rival Umar bin Khattab ketika sebelum keduanya masuk Islam. Konon, keduanya pernah battle ketika keduanya masih kafir.

Khalid bin Walid, panglima perang yang pasukannya bisa segala jenis persenjataan: pedang, panah, tombak, bahkan tangan kosong. Panglima yang menyelamatkan dan memenangkan pasukan muslimin saat menyerang tentara Romawi saat Nabi masih hidup. Panglima yang jika berangkat perang pasti menang. Sampai-sampai Napoleon Bonaparte ketika ditanya “siapa gurumu dalam strategi perang?” Ia menjawab “Khalid bin Walid”.

Entah pada hari keberapa setelah ia ambruk, Bilal bin Rabah, sahabatnya yang juga salah satu sahabat terkasih Rasulullah, datang menjenguk. Ia mengadukan kesedihan dan keprihatinannya —terhadap dirinya sendiri— kepada Bilal.

“Wahai Bilal,” ia mulai menumpahkan kegalauannya. “Mengapa aku harus mati dalam keadaan seperti ini. Kenapa aku harus mati di balai-balai ini. Aku ditakdirkan untuk berjuang di jalan Allah. Tak ada sejengkal pun dari tubuhku kecuali disitu ada bekas pukulan, tikaman, dan juga lemparan (senjata). Namun mengapa aku harus mati tak berdaya di ranjangku seperti seekor keledai? Mengapa seperti ini, Bilal?”

“Sahabatku, Khalid.” Dengan wajah teduh Bilal mulai menjelaskan. “kau adalah satu-satunya orang yang dijuluki saifullah oleh Rasulullah. Engkau adalah pedangnya Allah. Engkau tidak boleh dipatahkan oleh pedang kafir. Apa kata orang jika pedang Allah mati terkapar terhunus oleh pedang kafir. Kau harus mati disini.”

Mendengar penjelasan Bilal bin Rabbah, air muka Khalid mulai berubah. Kesedihan yang selama ini memenuhi bilik kecil khalid berubah menjadi ketenangan. Khalid akhirnya memahami apa yang sedang Allah rencanakan untuknya. Tak ada kata lain selain Ridha atas apa yang telah Allah gariskan untuknya. Memang ini skenario terbaik yang sudah Allah rencanakan.

Begitulah keadaan Muqarrabin, orang-orang yang mempunyai kedekatan ruhani dengan Allah dan Rasulnya. Ketajaman bashirahnya membuat mereka selalu bisa menemukan hikmah dan rahasia di balik semua peristiwa yang terjadi. Mereka paham betul bahwa segala sesuatu yang menimpa manusia merupakan skenario terbaik yang Allah anugerahkan untuk umatnya.

Begitu juga dengan kehidupan kita. Apa yang telah Allah gariskan untuk kita merupakan jalan cerita terindah versi Tuhan. Hanya saja kita jarang bisa menangkap hikmah-hikmah di balik setiap kejadian itu. Bagaimana tidak. Hati yang kian hari kain tebal karatnya tak akan mungkin mampu menyingkap hijab antara kita dengan Tuhan. Tapi tak ada salahnya untuk terus berharap. Biar bagaimanapun karat itu masih bisa dibersihkan. Tidak bisa instan memang. Perlahan. Mungkin butuh satu tahun, tiga tahun, sepuluh tahun, lima puluh tahun, bahkan mungkin seumur hidup —dan itupun belum tentu berhasil. Tapi, bukankah lebih baik mati ketika sedang tertatih-tatih merangkak meraih puncak pengharapan, daripada mati sedang kita hanya meringkuk dalam kubangan keputusasaan.

*Disarikan dari pengajian Khulasah Nurul Yaqin KH Nurul Huda, kitab Usdul Ghabah Fi Marifah as Sahabah, dan beberapa sumber yang lain. Dengan beberapa perubahan.

Tags :

Muhammad Nur Hidayatulloh

Mahasiswa PBA Universitas KH. Abdul Chalim. Anggota YOURS (Youth Writers of Islamic Studies), komunitas kepenulisan dan studi keislaman di UAC

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network