Abdurrahman bin Mahdi merupakan sosok yang dikenal dengan ahli hadist di zamannya. Komentar positif para ulama menghujani Abdurrahman bin Mahdi, misalnya Ali bin al-Madini salah satu guru al-Imam Bukhari mengatakan bahwa Abdurahman bin Mahdi dikenal sebagai ilmuan muslim yang paling berpengetahuan dalam bidang hadist. Ditambah lagi predikat yang datangnya dari Syamsuddin al-Dzahabi, beliau menjuluki Abdurrahman bin Mahdi sebagai sayyid al-Huffad (panglima penghafal hadist).
Ratusan pujian juga ditemukan dan dapat ditelusuri dalam karya yang berjudul Hilyat al-Auliya’ wa Thabaqaat al-Ashfiya pada urutan tokoh ke-414yang disusun Abu Na’im Ahmad bin Abdullah al-Ashfahani. Uniknya, Abu Na’im menceritakan Abdurrahman bin Mahdi bergandengan dengan Imam Syafi’i dengan urutan nomor tokoh ke-415. Bisa jadi, peletakan urutan ini dilihat dari sisi tahun kelahiranya, jika Abdurrahman bin Mahdi dilahirkan ditahun 135 Hijriah, imam Syafi’i lahir 15 tahun setelahnya, tepatnya ditahun 150 Hijriah.
Sebagai pembela sunnah (anshor al-sunnah) di zamannya, Abdurrahman bin Mahdi sering menolak pandangan-pandangan agama yang terlalu mengedepankan akal, yang menurut beliau telah melampaui koridor hadist Rasullah SAW. Sehingga pada suatu kesempatan, beliau mengirim surat pada imam Syafi’i untuk menjawab kegelisahan itu via surat. Al-Khatib al-Baghdadi memberikan informasi pada kita tentang komunikasi surat menyurat dua tokoh tersebut.
Alkisah, sebagaimana ditulis al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh al-Baghdad, bahwa Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat yang dialamatkan secara khusus pada imam Syafi’i. Konon, secara jenjang umur, imam Syafi’i masih muda menerima permintaan tersebut, saat itu para pakar sejarah memperkirakan umur beliau antara 27-29 tahun, dan ada pula pendapat yang menyebutkan umur imam Syafi’i di atas 30 tahun. Berkat keluasan ilmu yang melekat pada imam as-Syafi’i, Abdurrahman bin Mahdi meminta imam Syafi’i untuk menulis sebuah kitab yang memuat tentang makna-makna al-Qur’an, hadist-hadist yang dapat diterima, argumentasi konsensus ulama, penjelasan tentang nashkh dan mansukh dalam al-Quran dan Sunnah. Kemudian, imam Syafi’i menjawab permintaan tersebut, dan menamai kitabnya dengan judul “ar-Risalah”. Mendapat tanggapan yang serius dari imam Syafi’i, Abdurrahman bin Mahdi menuturkan sebuah pengakuan bahwa disetiap sholat selalu melangitkan doa untuk imam Syafi’i. Seraya berkata:
“ما أصلي صلاة إلا وأنا أدعو للشافعي فيها”

Meskipun para pakar sejarah berbeda pandangan terkait kapan kitab “ar-Risalah” ditulis, apakah ditulis di Baghdad atau di Mesir? Yang jelas, sangatlah tampak posisi imam al-Syafi’i saat itu sebagai pembela ahlu al-Hadist sekaligus pakar dalam bidang ilmu fiqh; kedudukan ini sama halnya dengan imam Malik selaku guru dari imam Syafi’i sebagai Anshor al-Sunnah. Maka wajar jika sesama pembela sunnah, Abdurrahman bin Mahdi meminta jawaban atas kegelisahannya pada imam Syafi’i.



