(Rihlah Ilmiah Situbondo, Bagian Satu) Merasakan Denyut Nadi Ushul Fiqih di Ma’had Aly Situbondo

Selepas Tarawih, puluhan mahasantri berjibun. Berjalan menuju mushola. Masing-masing mendekap kitab al-Risalah. Kitab induk ushul fiqih karya Imam al-Syafi’i (150-204 H). Magnum opus yang ditulis 12 abad silam. Selama 1,5 jam, santri-santri senior itu duduk bersila. Mengitari sang guru, Ust. Ahsanul Arifin. Dengan suara lantang membacakan dan menjabarkan isi al-Risalah. Dengan fokus tinggi, santri hanyut menyimak.

Dengan wasis, sang guru menjelaskan istilah-istilah kunci. Semisal, qiyas, illat, syabah, ihathah, idrak, dan lain sebagainya. Tak berhenti disitu, komparasi antar pemikiran juga disajikan. Semisal, perbedaan konsep dan istilah. Istihsan dalam madzab Syafi’iyah berbeda dengan istihsan dalam madzhab Hanafiyah. Sesekali, penjelasan Ust. Ahsanul Arifin ini mengutip dari Kiai Afifuddin Muhajir. Maestro ushul fiqih yang identik dengan Ma’had Aly Situbondo.

Itulah gambaran singkat ngaji pasan di Ma’had Aly Situbondo. Satu di antara sekian banyak unit pendidikan yang dimiliki Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Ma’had Aly yang memilih spesialisasi ushul fiqih ini sudah dirintis sejak akhir 80-an. Dipelopori langsung oleh pengasuh generasi kedua. Tepatnya adalah Kiai As’ad Syamsul Arifin (1897-1990). Dengan persiapan yang matang, di awal tahun 1990, Ma’had Aly Situbondo resmi berdiri.


Hingga saat ini, Ma’had Aly Situbondo terus eksis mengader generasi ulama. Tidak hanya jenjang S1, tapi juga sudah memiliki jenjang S2. Kitab-kitab induk ushul fiqih terus dikaji. Ghoyatul Wushul, Jam’ul Jawami’, al-Mustashfa, al-Risalah adalah salah satunya. Selain itu, dalam fikih, terdapat Fathul Mu’in, Fathul Wahab, Bidayatul Mujtahid, dan lainnya. Kitab-kitab ini, terpampang di setiap lemari mahasantri.

Alhamdulillah, bulan Ramadhan ini, kami berkesempatan ikut ngaji kilatan. Merasakan dari dekat denyut nadi kajian ushul fiqih di Ma’had Aly Situbondo. Keberadaan Ma’had Aly adalah niscaya bagi dunia pesantren. Jika dulu cukup hingga jenjang Aliyah, maka kini butuh lebih. Keberadaan Ma’had Aly untuk memfokuskan spesialisasi. Dimana dalam jenjang sebelumnya belum diberikan.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, kemunculan Ma’had Aly di pesantren-pesantren patut terus mendapat dukungan. Baik yang memilih takhoshus ushul fiqih, tafsir, hadis, fiqih, balaghah. Baik adanya juga dikembangkan Ma’had Aly yang fokus dalam bidang tasawuf, falsafah, siyasah, iqtishadiyah, dan lain sebagainya. Semoga.

Tags :

Muhammad Hanifuddin

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network