Shalat Witir boleh dilaksanakan setelah menjalani shalat Isya’. Waktunya memanjang hingga sebelum waktu Subuh.
Rasulullah bersabda:
أوتروا قبل أن تصبحوا
“Berwitirlah kalian sebelum memasuki waktu Shubuh.”
Rasulullah menganjurkan agar menjadikan penghujung akhir shalat sunnah di malam hari dengan shalat Witir. Namun, jika dikhawatirkan tidak bisa bangun malam, maka kita dianjurkan Witir di awal malam sebelum tidur.
Kira-kira, demikianlah mengapa tradisi yang berkembang selama ini, setelah Tarawih kaum muslimin banyak yang langsung melaksanakan shalat Witir. Di samping praktis, dan memang boleh, hal ini unjuk njagani jika kita ketiduran dan belum sempat Witir di akhir malam.
Dalam mazhab Syafii, setidaknya Witir dilaksanakan satu rakaat, dan maksimal sebelas rakaat, dengan cara setiap dua rakaat, dipisah dengan satu salam. Pada rakaat terakhir, dilaksanakan satu rakaat yang ditutup dengan salam. Rasulullah memberi petunjuk, sesuai dengan hadits riwayat Ibn Hibban, ” Sesungguhnya Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam memisah shalat Witir antara hitungan genap dan ganjil.”
Pada konteks Ramadhan, setelah dilaksanakan Tarawih kemudian ditutup dengan Witir tiga rakaat, apakah masih dibolehkan melaksanakan Witir ketika waktu sahur atau selepas kita bangun tidur, kemudian shalat Tahajud, dan dipungkasi dengan Witir?
Pada dasarnya, Witir itu dilaksanakan dalam satu kali kesempatan, dan tidak perlu diulang. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibn Majah sebagai berikut,
عَنْ طَلْقِ بْنِ عَليٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقولُ: «لاَ وِتْرَانِ في لَيْلةٍ»، رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالثَّلاَثةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.
“Tidak ada dua kali Witir dalam satu malam.“
Perintah dalam hadis tersebut bukan bermakna wajib, sehingga berkategori sunah. Dianjurkan menjadikan witir sebagai penutup karena Witir lebih utama dibandingkan shalat malam yang lain, sehingga diharapkan seluruh shalat malam yang telah dilakukan mendapat berkah dari keutamaan Witir.
Sebagian ulama menjelaskan, bahwa perintah dalam hadis tersebut tidak berlaku secara umum, tetapi khusus bagi orang yang melakukan shalat sunah di akhir malam.
Dengan demikian, sesiapa yang di awal malam telah melaksanakan shalat Witir, kemudian bangun di akhir malam untuk melaksanakan shalat sunah misalnya Tahajud, maka Witir yang telah dilaksanakan tidak perlu diulang. Cukup Witir sebelum tidur itu saja. Inilah yang masyhur dalam mazhab Syafi’i.
Imam An-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menjelaskan:
فرع إِذَا اَوْتَرَ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ ثُمَّ قَامَ وَتَهَجَّدَ لَمْ يَنْقُض الوِتْرُ عَلَي الصَّحِيْحِ الْمَشْهُوْرِ وَبِهِ قَطَعَ الْجُمْهُوْرُ بَلْ يَتَهَجَّدُ بِمَا تَيَسَّرَ لَهُ شَفْعًا،
“Ketika seseorang telah melaksanakan Witir sebelum tidur, kemudian bangun untuk melaksanakan Tahajud, maka Witir yang telah dilakukan tidak batal menurut pendapat yang shahih dan masyhur. Mayoritas ulama memutuskan dengan pendapat tersebut, dan orang tersebut boleh tahajud sesukanya dengan rakaat genap.“
Walau demikian, ternyata ada ulama yang memberikan alternatif solusi sehingga Witir dapat dilaksanakan di akhir malam, walaupun sebelumnya Witir ini sudah dilaksanakan di awal malam setelah Tarawih.
Ada dua teori, yang dengan menggunakan teori ini, Witir dapat dilaksanakan kembali, pertama teori Naqdh (pengguguran Witir bakda Tarawih), dan kedua teori Takmil (menyempurnakan bilangan rakaat Witir bakda Tarawih).
Teori Naqdh, dengan narasi berikut ini,
قالت طائفة ينقضه، فيصلي في أول تهجده ركعة تشفعه، ثم يتهجد، ثم يوتر في آخر صلاته، حكاه ابن المنذر عن عثمان ابن عفان وعلي وسعد وابن مسعود وابن عمر وابن عباس….
“Segolongan ulama (membolehkan Witir di akhir malam dengan cara setelah bangun tidur) menggugurkan Witir pertama, maka pada awal ketika shalat Tahajud, ia menambah satu rakaat shalat sunnah sebagai pengenapan Witir (yang sebelum tidur), kemudian ia shalat Tahajud kemudian ia Witir di akhir shalat malamnya…“
Sehingga, ketika Witir yang pertama telah digenapi, maka tidak ada lagi dua witir, yang ada hanyalah witir yang dilakukan terakhir kali.
Teori takmil (penyempurnaan), yaitu dng cara menyempurnakan witir pertama. Witir bakda Tarawih misalnya dilaksanakan dengan 3 rakaat. Maka setelah ia bangun tidur, ia kemudian Witir lagi dng bilangan genap, 8 rakaat. Sehingga total Witirnya menjadi 11 rakaat.
Menjelaskan hal ini, Sayyid Abdurrahman bin Muhammad dalam Bughyah Al-Musytarsyidin menyatakan,
وَلَوْ أَوْتَرَ بِثَلَاثٍ ثُمَّ أَرَادَ التَّكْمِيْلَ جَازَ، قَالَهُ البَكْرِيُّ وَابْنُ حَجَرٍ وَالْعَمُوْدِيُّ، وَقَالَ (م ر) لَا يَجُوزُ
“Jika seseorang ingin melaksanakan Witir tiga rakaat, kemudian ingin disempurnakan, maka hal tersebut diperbolehkan. Ini adalah pendapat al-Bakri, Ibnu Hajar dan al-Amudi. Sedangkan menurut Muhammad ar-Ramli, tidak boleh menyempurnakan Witir tersebut.”
Umar bin Muhammad as-Segaf dalam Mukhtashar Tasyyidul Bunyan menyatakan,
وَلَوْ أَوْتَرَ بِثَلَاثٍ بَعْدَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ مَثَلًا، وَأَرَادَ تَكْمِيْلَهُ آخِرَ اللَّيْلِ، أَوْ مَتَى شَاءَ، صَلَّى البَقِيَّةَ ثَمَانِيًا بِنِيَّةِ الْوِتْرِ، كَمَا قَالَهُ البَكْرِيُّ فِي فَتَاوِيْهِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ العَمُوْدِيّ فِي حُسْنِ النَّجْوَى، وَابْنُ حَجَرٍ فِي فَتَاوِيْهِ، وَاعْتَمَدَهُ شَيْخُنَا وَغَيْرُهُ … وَلِهَذَا لَا يُوْصَفُ بِأَنَّهُ أَوْتَرَ مَرَّتَيْنِ
“Ketika seseorang melaksanakan Witir tiga rakaat setelah Isya’, umpamanya, dan dia ingin menyempurnakan Witir tersebut pada akhir malam, atau kapan saja, maka dia boleh menyempurnakan kekurangannya sebanyak delapan rakaat dengan niat Witir, sebagaimana dijelaskan oleh al-Bakri dalam Fatawinya, Abdurrahman al-Amudi dalam Husnu an-Najwa, Ibnu Hajar dalam Fatawinya, dan ini adalah pendapat terpercaya menurut Syaikuna dan lainnya. Dengan cara ini seseorang tidak disebut melakukan witir dua kali.”
Dengan demikian, dapat disimpulkan ada dua pendapat yang berbeda tentang mengulangi Witir dalam satu malam:
Pendapat pertama tidak memperbolehkan, karena memedomani sabda Nabi Muhammad, “Tidak ada dua witir dalam satu malam”.
Pendapat kedua memperbolehkan, dengan salah satu dua cara. Pertama, dengan cara membatalkan Witir yang pertama dengan shalat satu rakaat, setelah itu barulah diperbolehkan melakukan Tahajud sesukanya, lalu ditutup dengan Witir kedua. Kedua, dengan cara takmil, yaitu menyempurnakan Witir pertama yang belum sempurna. Semisal Witir pertama dilaksanakan tiga rakaat, maka Witir kedua dapat disempurnakan dengan menambah delapan rakaat. Wallahu A’lam.



