Dalam menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.”
Imam al-Baghawi mengutip perkataan Imam Syafi’i, bahwa ujian takut itu artinya takut kepada Allah, ujian lapar artinya puasa Ramadhan, ujian kekurangan harta artinya membayar zakat, ujian diri artinya sakit, dan ujian buah-buahan artinya kematian anak. Lima jenis ujian inilah yang akan diujikan Allah kepada umat manusia. Penafsiran Imam Syafi’i ini juga dikutip oleh Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Mafātīh al-Ghaib.
Namun saya memiliki pemikiran lain, bahwa ujian takut itu mewakili masalah-masalah psikologis manusia seperti cemas, gelisah, dan stress. Ujian lapar itu mewakili permasalahan biologis manusia seperti lapar, haus, dan hasrat seksual. Ujian kekurangan harta itu mewakili masalah-masalah ekonomi manusia. Ujian diri itu mewakili masalah-masalah terkait bentuk dan rupa manusia. Dan ujian buah-buahan mewakili ujian-ujian komoditas pangan manusia. Setiap manusia yang hidup di dunia akan terkena ujian psikis, biologis, ekonomi, rupa diri, dan komoditas pangan.
Jika kita melihat dunia modern saat ini, betapa kehidupan manusia dipenuhi rasa takut, cemas, dan khawatir. Manusia modern cenderung mudah stres meskipun hidup sudah berkecukupan, dilayani oleh teknologi canggih, dan sudah banyak mampu mengendalikan alam. Namun semua itu tidak bisa mencegah manusia dari rasa takut dan cemas akan hal-hal di depannya. Imam Ar-Razi menafsirkan “takut” sebagai rasa sakit yang diderita hati karena menanti sesuatu yang tidak menyenangkan baginya. Dengan kemampuan manusia modern memprediksi berbagai hal di masa depan, seperti cuaca, fluktuasi ekonomi, perkembangan politik, hingga tuntutan-tuntutan hidup sehari-hari menjadikan mereka semakin tenggelam dalam ketakutannya karena mereka seolah-olah sedang menanti sesuatu yang buruk yang akan segera datang.
Ujian dari Allah datang pula dari sisi biologis manusia. Manusia yang juga merupakan makhluk biologis pada akhirnya juga menghadapi permasalahan-permasalahan biologis, seperti kebutuhan makanan, seksual, dan pemenuhan unsur-unsur biologis lainnya. Manusia diuji dengan kebutuhan makanan sehingga mereka yang kelaparan bisa saja mencuri demi memenuhi kebutuhan makanannya. Manusia yang serba berkecukupan dihadapkan dengan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh makanan-makanan. Demikian pula urusan seksual, demi memenuhi hasrat seksualnya manusia bisa saja menghalal segala cara, mulai dari berzina hingga LGBTQ. Bahkan bagi yang sudah terpenuhi kebutuhan seksualnya, bisa saja masih melakukan zina karena tidak puas dengan satu pasangan.
Ujian dalam bentuk ekonomi juga menjadi cobaan berat baik bagi yang memiliki harta ataupun yang tidak memiliki harta. Para pemilik harta akan selalu dihantui dua pemikiran, yaitu bagaimana hartanya bisa dipertahankan, dan kedua, bagaimana harta itu bisa bertambah. Dua hal ini sebenarnya membuat para pemilik harta pada akhirnya menderita kecemasan terus menerus. Itu mengapa Allah mensyariatkan zakat dan sedekah agar para pemilik harta tidak diperbudak oleh hartanya.
Di sisi lain, orang-orang yang tidak memiliki harta juga diuji dengan tidak bisa terpenuhinya berbagai kebutuhan hidupnya akibat kekurangan harta. Jika mereka lemah iman, mereka bisa saja terjerumus dalam perbuatan-perbuatan jahat dan kriminal demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Dari sini Islam memberi solusi berupa ajaran sikap qana’ah yaitu sikap merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Sikap qana’ah ini diharapkan menghindarkan seseorang dari keserakahan dan keterjerumusan dalam perbuatan jahat dan kriminal seperti mencuri dan merampok.
Ujian dalam bentuk rupa dan bentuk diri juga menjadi ujian yang tidak kalah berat yang datang dari Allah. Manusia yang memiliki rupa kurang baik, akan mengerahkan segala daya upaya dan bahkan harta demi memperoleh rupa yang lebih baik. Manusia yang telah memiliki rupa yang baik akan menggunakan rupa dan bentuknya untuk menjual auratnya. Bahkan bentu dan rupa itu dikapitalisasi untuk untuk mendapatkan keuntungan materi dan menjadi previlage tersendiri bagi pemiliknya.
Ujian terakhir yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 155 ini adalah ujian dalam bentuk buah-buahan yang bisa diartikan sebagai berbagai komoditas pertanian, peternakan, dan bahkan perdagangan. Kehidupan manusia tidak lepas dari kebutuhan akan pangan yang dipenuhi melalui sektor pertanian dan peternakan. Namun dua sektor ini adalah dua hal yang manusia sulit untuk mengontrol dan mengendalikannya. Pertumbuhan tanaman dan kehidupan ternak adalah hal yang di luar kendali manusia. Oleh karena itu manusia diuji untuk bisa bersikap tawakal dan pasrah kepada ketentuan Allah yang berlaku pada tanaman dan ternak mereka. Terkadang kebun yang telah ditanami atau ternak yang dipelihara tidak menghasilkan hasil sesuai dengan yang diharapkan manusia. Oleh karena itu manusia harus pandai-pandai menyikapinya agar tidak jatuh dalam keputusasaan yang membuat manusia terpuruk. Dengan sikap tawakal yang ditumbuhkan dalam diri, manusia akan selalu siap menerima hasil apapun yang ditentukan Allah untuk kebun dan peternakannya.



