Ahad, 17/03/2024, untuk kesekian kalinya saya menginjakkan kaki di negeri gingseng. Kedatangan saya kali ini bertepatan dengan paruh musim dingin yang berarti perpindahan dari musim dingin ke musim semi. Karenanya, saya disambut dengan hawa dingin yang mencapai 6°C disertai sepoi angin yang sedikit menantang.
Pagi jam 7 30 saya mendarat di terminal I bandara Internasional Incheon dengan menggunakan pesawat Singapura Airlines. Sejenak setelah mendarat, saya melakukan administrasi di bagian keimigrasian. Proses ini membutuhkan waktu yang cukup lama sebab harus mengantri dan berjubel dengan warga negara asing lain. Tepat pukul 10 21, proses administasi ini selesai dan saatnya untuk mengambil bagasi. Ketika melewati pintu kedatangan, tampak wajah yang tak asing sedang menunggu yaitu ketua FKMID (Forum Komunikasi Masyarakat Indonesia Daegu), Gus Ismail Fadholi, ketua takmir masjid Al Ihsan, Kang Ja’far Shodiq dan kang Muiz sang driver handal.
Setelah berjumpa di gate D Teminal I, kami melanjutkan perjalanan darat selama kurang lebih 6 jam (sambil istirahat sejenak di rest area dan tempat-tempat yang indah untuk mengabadikan indahnya kota Soul dan Daegu) untuk menuju kota Waegwan. Sepanjang perjalanan, sembari menikmati pemandangan kotanya para oppa k-pop, kami saling bertukar cerita dan ketua takmir masjid Al Ihsan pun tak lupa memberikan informasi tentang keadaan masjid beserta para jamaah, yang ‘barangkali’ sedikit berbeda dengan masjid-masjid lain yang pernah saya kunjungi selama ini. Ala kulli hal, menurut informasi yang disampaikan, jumlah jamaah masjid di Kota Waegwan terbilang stabil, tidak mengalami pasang surut yang signifikan, sebab banyak jamaah yang tinggal di masjid Al Ihsan sendiri dan juga tinggal di sekitaran masjid.
Pukul 5 sore, kami tiba di masjid Al Ihsan Waegwan. Tak disangka, para jamaah menyambut dengan suka cita dan ceria. Ternyata hari ini bertepatan dengan hari libur kerja, sehingga mayoritas jamaah telah hadir di masjid untuk mempersiapkan agenda rutin di bulan Ramadhan.
Setelah berkenalan dan bercengkrama dengan para jamaah, saya beranjak untuk istirahat sejenak sekedar memulihkan tenaga setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Pukul 18 29, kami bersama para jamaah melakukan buka puasa dan kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan shalat tarawih dan kajian Ramadhan.
Saat ini saya tinggal di wilayah tempat lahir Kim Taehyung BTS yaitu Daegu, tepatnya di kota Waegwan yang berada di antara wilayah Busan (dataran bawah) dan Seoul (dataran atas). Saya diberi amanah untuk menjadi imam dan berdakwah selama bulan Ramadhan tahun ini di masjid Al Ihsan Waegwan, yang dirintis dan dibangun oleh para tenaga kerja yang berada di sekitar wilayah Waegwan. Pada mulanya, pembangunan masjid ini diperuntukkan sebagai sarana ibadah dan silaturrahmi antar pekerja migran di hari libur; sabtu dan minggu. Pada perkembangan selanjutnya, banyak muslim imigran asing yang bekerja dan bermukim di wilayah Waegwan, sehingga fungsi masjid ini semakin luas.
Masjid Al Ihsan Waegwan terletak di tengah-tengah pabrik indrustri. Dapat dikatakan bahwa posisi masjid ini cukup strategis karena berdekatan dengan asrama para pekerja muslim. Sehingga masjid ini berfungsi dengan baik sebagai tempat beribadah sekaligus sebagai ajang silaturahmi. Hal ini lah yang menjadi pembeda dengan masjid yang berada di tengah kota dan jauh dari asrama pekerja muslim, yang hanya ramai didatangi oleh masyarakat muslim pada hari libur saja, sementara pada hari aktif kerja, sangat sedikit yang datang memakmurkan masjid.
Puasa Ramadan di negeri hanbok kali ini terhitung lebih ringan dibandingkan Ramadhan tahun lalu. Durasi waktu puasa kali ini hampir sama dengan durasi waktu puasa di Indoensia, yaitu kurang lebih 13 jam. Waktu imsak sekitar jam 04 45 dan adzan maghrib sekitar jam 18 38 Wks petang. Artinya, durasi waktu puasa di korsel tidak berbeda jauh dengan durasi waktu di Indonesia. Namun, bila Ramadhan terjadi di musim panas, seperti tahun-tahun sebelumnya, maka durasi puasa hingga 16 jam lamanya. Waktu imsak jam 3 00 dan buka puasa pukul 20 40 Wks. Untuk waktu berbuka dan imsak di Korea berpatokan pada jadwal waktu yang di edarkan oleh KMF (Korean Muslim Federation; semacam Kemenag di Indonesia).
Puasa Ramadhan di negara yang berjuluk “Land of Morning Calm” ini memiliki dinamika yang menarik sekaligus menantang. Bulan puasa di sini terasa sangat berbeda dengan di Indonesia. Di negara dengan mayoritas penduduk merupakan non-Islam, sudah tentu tidak terdengar suara alunan tilawah ngaji atau kajian agama menjelang berbuka di sana-sini, sahut-sahutan bilal saat shalat tarawih pun tidak terdengar lantang ke segala penjuru, sebab semua masjid dilapisi dinding kedap suara. Tidak ada suasana “war takjil” memperebutkan bungeoppang, hotteok atau gorengan twigim karena restoran, kafe dan pedagang kaki lima tetap beroperasi seperti biasa sepanjang waktu. Namun hal tersebut tidak menjadikan umat Islam patah semangat dalam menjalankan ibadah puasa dan menyemarakkan Ramadhan. Tradisi Ramadhan tetap berjalan meskipun dengan cara yang berbeda. Misalnya, beberapa masjid mendatangkan da’i atau ustadz dari Indonesia untuk menjadi imam terutama saat shalat tarawih dan shalat ied sekaligus mengisi kajian selama Ramadhan. Sehingga vibes Ramadhan tetap terasa kendati hanya terbatas di dalam masjid.
Dalam rangka menyemarakkan Ramadhan juga, tidak sedikit dari masyarakat muslim yang melaksanakan buka bersama di masjid. Meskipun tantangannya cukup berat karena harus berangkat ke masjid setelah seharian bekerja dan baru selesai jam 18 30. Namun tetap mereka jabani, karena berbuka puasa bersama merupakan suatu kenikmatan tak terkira, ajang untuk menumpahkan rasa rindu berbuka bersama keluarga. Bahkan beberapa jamaah ikut serta menyiapkan menu buka puasa yang istimewa seperti es buah, es kopyor, kolak dan menu makanan khas Indonesia lainnya. Spesial di hari libur, chef handal seperti Bu Tami dan kang Ihsan terjun langsung menyiapkan menu berbuka. Sementara di hari aktif bekerja, para jamaah secara bergantian memasak dan menyajikan menu istimewa sesuai dengan asal daerah masing-masing.
Berbuka puasa di masjid Korsel dapat dibagi dua kategori; hari aktif dan hari libur kerja. Bila berbuka bersama di hari aktif, maka jamaah yang ikut serta relatif sedikit karena sebagian masih dalam perjalanan atau bahkan masih bekerja. Sedangkan bila berbuka bersama dilakukan di hari libur, maka jamaah yang datang terbilang banyak, menu yang disiapkanpun merupakan menu yang spesial. Hal ini berlaku pula pada saat pelaksanaan shalat tarawih, karena sebagian dari jamaah ada yang baru pulang bekerja dan kelelahan, bahkan ada pula yang kedapatan sift kerja pada malam hari (yagan). Terlepas dari itu semua, kekompakan seluruh jamaah tidak diragukan lagi dalam melaksanakan tradisi Ramadhan di masjid. Bahkan telah terjadwal dengan rapi sejak sebelum Ramadhan tiba, sehingga tidak ditemukan kendala yang berarti ketika waktu pelaksanaan.
Sementara itu, untuk aktifitas pengajian Ramadhan berfokus pada dua waktu; setelah pelaksanaan shalat tarawih dan selepas shalat subuh. Hampir setiap pengajian berlangsung, disiarkan pula secara live dari facebook dan Youtube masjid. Di masjid Al Ihsan Waegwan sendiri, penyiaran secara live dilakukan ketika berbuka bersama, pengajian puasa, shalat tarawih di hari libur dan khusus di hari aktif, menyiarkan shalat tarawih dan pengajian puasa selama Ramadhan.
Pada hari libur, kegiatan di masjid cukup bervariasi, seperti khataman Al Qur’an bersama, tahlil dan istighatsah, diskusi bersama para jamaah setelah shalat tarawih, adakalanya juga tadabbur alam di siang hari dengan menyusuri tempat-tempat bersejarah, melihat begitu luasnya rahmat Allah di negeri arirang ini. Inilah sepenggal kisah Ramadhanku di negeri Ginseng, bagaimana dengan kisah Ramadhanmu?!. Semoga di manapun dan bagaimanapun Ramadhan ini, dapat kita jalani dengan baik dan bahkan lebih baik dari yang lalu.
Terima kasih kepada seluruh jajaran pengurus takmir masjid Al Ihsan Waegwan; Mas Ja’far Shadiq, Mas Muiz, Mas Adhy, Mas Efendi, Mas Ihsan, Mas Heru, Mas Jajat, Kaji Arif, Mbah Minto, Mbah Siswanto, mas Ade, Mas Fajar dan lain-lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Kalian adalah 이슬람 영웅”Islam yeong-ung” (pahlawan Islam) dalam memakmurkan masjid di Bumi Allah bernama Korea Selatan.
Dan terkhusus, Untaian terima kasih tak terkira kepada Gubernur FKMID, Gus Ismail Fadholi, Gus Ulin al Huda, Ust. Syaikhoni dan teman-teman PCINU Korea Selatan.
Spesial buat Istri tercinta dan anak-anakku yang cantik-cantik. Kalian hebat, Ruh Umri.
Waegwan, South Korea, 31/03/2024



