Memilih menjalani puasa dengan tidak mencukupkan diri pada level menahan lapar dan dahaga adalah pilihan terbaik sebagai seorang Muslim. Apalagi jika merupakan pilihan yang didorong kesadaran untuk secara benar mengeksplorasi bulan Ramadhan. Bukan kah bulan Ramadhan seringkali begitu singkat (ayyaman ma’dudat)? Terlewat begitu saja. Kering dari makna dan berujung kehampaan. Atau bahkan kesia-siaan.
Syaikh Mutawalli Sya’rawi (1911-1998), seorang ulama besar kecintaan masyarakat Mesir, dalam satu kajiannya mengutip satu hadits riwayat Imam Al Tirmidzi. Dalam hadits tersebut, Nabi Saw menyampaikan, “betapa ruginya seorang Muslim yang bisa menikmati bulan Ramadhan dan gagal mendapatkan ampunan Allah Swt sewaktu bulan Ramadhan lewat.” Pengarang kitab Al Mafatih fi Syarh al Mashabih, Imam Mudhzir al Din Al Husein ibn Mahmud ibn Al Hasan al Zaydani (727H) menjelaskan, mereka yang mengalami kerugian tersebut adalah mereka yang tak memberikan penghormatan pada bulan Ramadhan.
Penghormatan ini bisa dilakukan dengan cara bertaubat dan menghentikan perbuatan maksiatnya. Bisa juga dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas ketaatan. Jika demikian, bulan Ramadhan tidak dapat diperlakukan layaknya bulan bulan lain. Harus ada nuansa ibadah yang beda dalam bulan Ramadhan.
Melalui pembacaan lain, dalam redaksi hadits tersebut, Nabi Saw menyandingkan kerugian sebab kegagalan memanfaatkan potensi bulan Ramadhan dengan dua hal lainnya: kerugian bagi Muslim yang tak mendoakan solawat sewaktu nama Rasulullah Saw disebut dan kerugian bagi seseorang yang tak memberikan kasih sayangnya pada orang tuanya yang memasuki masa senja.
Dua perkara tersebut sesungguhnya menyiratkan satu hal penting. Betapa memanfaatkan bulan Ramadhan tak ubahnya seperti dua sisi mata uang: sisi pertama nampak mudah dan sisi kedua seperti berat dan memerlukan keteguhan. Ketika Nabi Saw menyampaikan, merugilah mereka yang sewaktu nama Nabi Saw disebut namun tidak mendoakan solawat, maka dalam kehidupan sehari-hari berapa banyak dari umat Islam yang kerap lalai dalam melakukan tuntunan ini?
Mengucapkan solawat saat mendengar nama Rasulullah Saw adalah hal ringan namun cenderung banyak yang meremehkannya. Sementara di sisi lain, merawat dan membahagiakan orang tua di masa tua mereka adalah hal berat. Sebab dinilai berat dan membuat payah, sampai ada ungkapan “satu ibu dapat merawat dan membahagiakan sebelas anaknya namun kesebelas anak belum tentu bisa merawat dan membahagiakan ibunya di masa tuanya.”
Umat Islam dalam bulan Ramadhan telah banyak mendapatkan privilese dari Allah Swt. Keistimewaan inilah yang sering kali disebut sebagai keutamaan (fadha’il) bulan Ramadhan. Dalam satu hadith riwayat Al Nasa’i, Nabi Saw menyampaikan “bulan Ramadhan adalah bulan dimana pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan para pemimpin setan dibelenggu.” Ada banyak ragam tafsir atas hadits ini. Qadi ‘Iyadh (476-544H), misalnya, sebagaimana dikutip Imam Al Nawawi (631-676H) dalam Syarh Shahih Muslim, menjelaskan tentang kemungkinan hadits tersebut bermakna secara harfiah: pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup serta setan dibelenggu bermaksud sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan Ramadhan.
Pemaknaan kedua atas hadits tersebut adalah dengan cara memaknainya secara majas atau kiasan. Artinya, pintu surga yang dibuka adalah lambang tentang banyaknya pahala dan ampunan. Sedangkan setan yang dibelenggu dan pintu neraka yang ditutup menjadi simbol ketakberdayaan setan melakukan tipu daya kepada manusia. Akibatnya, sedikit manusia yang terjerumus masuk ke dalam neraka.
Tafsir ketiga bagi hadits ini menggambarkan hal lain. Masih menurut Qadhi ‘Iyadh, dibukanya pintu surga bermaksud bahwa Allah Swt membuka pintu pintu ketaatan jauh lebih banyak dibandingkan dalam waktu selain bulan Ramadhan. Jalan kebaikan menjadi beraneka ragam. Umat Islam tinggal menentukan pilihan. Namun, bagaimanapun tafsir yang dipedomani, hadits ini memberikan pesan, keistimewaan bulan Ramadhan haruslah dapat dimanfaatkan dengan baik. Bulan Ramadhan wajib dieksploitasi secara maksimal.
Cara paling mudah mengeksploitasi bulan Ramadhan, sebagai upaya menghindari kerugian di bulan yang suci ini sebagaimana dipesankan Nabi Saw melalui hadits di atas, adalah dengan memahami benar privilege bulan Ramadhan dengan baik. Salah satu bagian terpenting yang diburu dan ditunggu adalah Lailatul Qadar. Kenapa dinanti?
Imam Al Qurthubi (671H) dalam tafsirnya memberikan alasan kenapa Lailatul Qadar layak dikejar dan tak boleh terlewatkan. Menurutnya, di momen Lailatul Qadar, Allah Swt membagikan kebaikan yang tidak bisa ditemukan pembandingnya dalam masa seribu bulan. Bagi para penafsir lain, alasannya cukup sederhana, yaitu sebab amal perbuatan di malam tersebut jauh lebih baik dibandingkan amal perbuatan dalam masa seribu bulan yang tanpa Lailatul Qadar.
Menariknya, seperti yang dituturkan Ibn Rajab (736-795H) dalam Latha’if al Ma’arif fima Limawasim al ‘Am min al Wadha’if, Rasulullah Saw, dalam rangka memburu Lailatul Qadar, sampai melakukan iktikaf pada masa sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Dan ini beliau lakukan berulang kali. Tak hanya sibuk berburu Lailatul Qadar, Rasulullah Saw juga mengajarkan tentang anjuran melakukan solat tarawih. Keutamaannya begitu dahsyat. Siapa yang melakukannya atas dasar keimanan dan murni mengharapkan kerelaan Allah Swt akan mendapatkan pengampunan dosa. Dosa kecilnya diampuni dan dosa besarnya diringankan. Atau jika mengejar Lailatul Qadar seperti mission impossible dan mengerjakan solat tarawih terasa berat, sesorang bisa saja mengeksploitasi bulan Ramadhan dengan memperbanyak baca al Qur’an. Apalagi di bulan Ramadhan, al Qur’an diturunkan oleh Allah Swt. Meskipun bagi sebagian ulama, termasuk Syeikh Abdul Aziz al Shahawi, tidak perlu dengan mencerna dan memahami maknanya al Qur’an.
Sedemikian banyaknya nilai istimewa bulan Ramadhan, tentu yang paling dahsyat adalah memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan. Sedekah inilah yang akan melengkapi kesempurnaan kualitas bulan Ramadhan seseorang. Ini mengapa, sebagian kalangan menyebut bulan Ramadhan sebagai syahr al muwasah (bulan untuk berempati). Pada momen inilah, bulan Ramadhan bermanifestasi dalam wujud ibadah yang altruistik: memberikan kebermanfaatan sosial. Tak heran jika sebagian ulama menyebutkan, “sholat bisa mengantarkan seseorang setengah perjalanan (nishf al thariq), puasa mendekatkan seorang muslim di depan pintu Allah Swt (bab al malik) dan sedekah akan menggenggam tangan pemberi sedekah dan mengantarkannya berjumpa dengan Allah Swt (fa tudkhiluhu ‘ala al malik).”



