Dalam sebuah hadist, Rasullah Saw bersabda: “Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan wafatkanlah aku dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah aku pada hari kiamat bersama golongan orang orang miskin”. Kita tidak dapat menghadirkan pengertian secara tergesa-gesa terhadap hadist yang diriwayatkan imam Tirmidzi ini, karena terdapat juga hadist yang terlihat berlawanan, semisal dalam riwayat imam Bukhori dan Muslim, Rasullah Saw bersabda: “Tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang di bawah”. Artinya, untuk menjadi ringan tangan disyaratkan punya harta melebihi dari kebutuhan pribadi, sehingga ia mendapat predikat terpuji. Disamping hadist ringan tangan ini, diperkuat lagi dengan firman Allah Swt yang berbunyi: “Dan carilah (pahala) akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia” Lalu bagaimana memahami makna hadist tentang keinginan Rasullah Saw hidup dan wafatnya bersama orang miskin?
Membaca hadist di atas terdapat dua sisi makna yang terkandung didalamnya. Satu sisi, alasan Rasullah Saw ingin hidup bersama orang miskin di dunia dan akhirat karena beliau mencintai orang miskin sebab kesulitan mereka dalam rangka mencari rizki di dunia. Sehingga mereka menggantungkan hati pada kehendak Allah semata guna mencukupi kebutuhan hidup mereka. Sekurang-kurangnya Rasullah Saw telah mencoba menenangkan hati dan jiwa orang miskin dengan cara berdoa agar bersama mereka di dunia dan akhirat. Disisi yang lain, mereka juga telah bersabar dengan harta yang sedikit. Sehingga Rasullah Saw berdoa agar mereka dapat masuk surga terlebih dahulu dibanding orang kaya.
Alasan mendasar orang miskin masuk surga terlebih dahulu dibanding orang kaya sebab orang miskin tidak banyak dimintai pertanggungjawaban atas harta mereka di dunia karena harta mereka sedikit. Alasan ini yang dikemukakan Rasullah Saw saat menjawab pertanyaan sayyidah ‘Aisyah. Secara lengkap imam Tirmidzi meriwayatkan: “Sesungguhnya mereka akan masuk surga empat puluh tahun lebih dahulu dari pada orang orang kaya, wahai A’isyah jangan kamu tolak orang orang miskin walaupun hanya dengan memberikan secuil kurma, wahai A’isyah cintailah orang orang miskin dan dekatilah mereka karena Allah akan mendekatkan padamu pada hari kiamat.” Menegaskan kemudahan orang miskin masuk surga dalam hadist yang berbeda, Rasullah Saw juga bersabda, “Aku mendatangi surga maka kulihat kebanyakan penduduknya adalah para faqir”
Apakah dengan pernyataan-pernyataan Rasullah diatas akan mengurangi derajat orang kaya dihadapan Allah?
Tentu Rasullah Saw tidak bermaksud mengurangi kelebihan dan keutamaan orang kaya dalam membantu penyebaran agama Islam. Terbukti Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq RA. dan Sayyidina Usman bin Affan RA. membagi hartanya untuk kepentingan agama Islam. Melihat teladan dari dua sahabat rasullah ini, maka menjadi kaya itu penting untuk menghidupkan agama dan kemanusian secara umum. Berdasarkan hal tersebut Rasullah Saw juga bersabda agar generasi umat Islam menjadi orang-orang kaya. Anjuran agar memiliki harta melimpah dapat dilihat pada hadist yang diriwayatkan imam Bukhori dan Muslim yang berbunyi: “Kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka miskin lalu meminta-minta manusia”. Sekalipun seorang anak mendapat harta waris dari orang tua, namun ia juga tidak boleh bermalas-malasan, ia harus bekerja dan berusaha lebih tekun lagi agar menjadi orang kaya dengan cara yang halal. Dari kekayaan tersebut dapat bermanfaat untuk kebutuhan dirinya dan masyarakat secara luas.
Dengan begitu, harapan Rasullah Saw bagi orang mukmin yang kuat –dengan berbagai potensi yang dimilikinya, jauh lebih baik dari mukmin yang lemah. Jika ia sudah berusaha mencari rizki materi dan belum mendapatkannya, maka bersabar merupakan jalan terbaik. Dan yakinlah Rasullah Saw tetap bersama dengan orang miskin sepanjang tuntunan agama dijalani dengan baik.



