Pada suatu malam Sayyid Ahmad al-Marzüqi bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ dalam mimpi. Beliau melihat Rasulullah beserta para sahabat sedang berdiri mengerumuni dirinya. Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: “Bacalah manzhumah tauhid yang jika siapa saja menghafalnya akan masuk surga dan akan mendapatkan segala kebaikan sebagaimana yang telah tertera dalam al-Qur’an dan sunnahku“. Dengan rasa penuh penasaran, Sayyid Ahmad bertanya: “Apakah manzhumah itu wahai Rasulullah?” Lalu para sahabat berkata: “Dengarkanlah apa yang diucapkan oleh Rasulullah ﷺ ” Setelah itu Rasulullah mengatakan: Ucapkanlah: “Aku memulainya dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih…” hingga sampai pada nazhom “Dan pada lembaran-lembaran Kholil dan Kalim ….(Nabi Ibrahim As yang menjadi kekasih Allah dan Nabi Musa As yang telah berbicara kepada-Nya secara langsung tanpa hijab), di dalamnya terdapat kalam-kalam hikmah serta pengetahuan.”
Seusai Rasulullah ﷺ mendiktekan, Sayyid Ahmad kembali mengucapkan apa yang didengarnya sembari didengarkan langsung oleh Nabi dan para sahabat. Tak lama kemudian, beliau tersadar dari tidur. Berusaha mengingat apa yang terjadi dalam mimpi, beliau mencoba kembali mengucapkan apa yang disampaikan Rasulullah ﷺ kepadanya. Dengan rasa syukur dan gembira, ternyata dirinya masih menghafal perkataan Rasulullah dalam keadaan sadar.
Pada malam selanjutnya, Sayyid Ahmad kembali terlelap setelah berat menahan kantuk yang menimpa dirinya dikarenakan sibuk dalam menelaah ilmu dan ibadah. Pada malam itu, beliau kembali berjumpa dengan Rasulullah. Nabi berkata: “Wahai Ahmad, Bacalah apa yang telah aku kumpulkan di hatimu sebelumnya.” Lalu Sayyid Ahmad membacanya dengan fasih dan lancar dari awal hingga akhir di hadapan Rasulullah. Sementara itu, para sahabat ikut menyaksikan di sekelilingnya sembari mengucapkan ãmïn setiap kali dibacakan satu bait. Selepas membaca bait yang terakhir, Nabi Muhammad ﷺ berkata: “Semoga Allah Ta’ala memberikanmu taufiq dan ridha kepadamu, serta menerima apa yang kamu bacakan. Semoga Allah senantiasa memberkahimu dan kaum mu’minin dan menjadikan ilmumu bermanfaat di antara hamba-hamba-Nya. Ãmïn.“
Berita ini pun tersebar ke masyarakat luas, sehingga mereka mengetahui dan bertanya langsung apa yang terjadi kepada Sayyid Ahmad. Beliau pun menjawab semua pertanyaan yang mereka lontarkan dengan sebenar-benarnya. Kemudian beliau menambahkan mandzumah dari bait:
وكل ما أتى به الرسول فحقه التسليم والقبول
yang artinya: “Dan seluruh apa yang datang dari Rasul, itulah adalah benar dan diterima” berlanjut hingga bait terakhir. Itulah serangkaian kisah awal mula terciptanya Nazhom ‘Aqïdatul ‘Awãm yang didiktekan langsung oleh Rasulullah ﷺ kepada Sayyid Ahmad Marzüqi dalam mimpinya. Kemudian dilengkapi oleh beliau hingga akhir bait. Riwayat ini shahih, bersanad langsung kepada Sayyid Ahmad. Beliau sendirilah yang telah menyampaikan langsung kepada para muridnya dan terus berlanjut dari masa ke masa hingga sekarang. Dengan izin Allah Ta’ala, manzhumah Aqïdatul ‘Awãm ini menjadi pondasi dasar akidah Ahlus sunnah wal jama’ah. Wallahu a’lam
Dikutip dari kitab: Jalãul Afhãm Syarh Aqïdatul ‘Awãm, karya KH Muhammad Ihya’ Ulumiddin pengasuh pesantren Nurul Haromain Pujon.



