Berdo’a merupakan salah satu bukti penghambaan seseorang kepada Tuhannya. Dengan berdo’a, seseorang menyadari bahwa tiada tempat untuk menyematkan segala harap dan angan kecuali kepada Allah Swt
Pada dasarnya, setiap waktu adalah kesempatan untuk melangitkan do’a. Selama hayat masih di pangkuan badan, sepanjang itulah peluang untuk melangitkan do’a. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Hakim dari Ibnu Umar, Rasulullah mengingatkan kepada umatnya untuk senantiasa berdo’a, karena sejatinya do’a itu membawa kebermanfaatan, baik apa yang dido’akan tersebut telah diperwujudkan maupun belum (Mukhtarul ahadist, hadis ke 610).
الدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ (رواه الحاكم عن ابن عمر)
“Do’a itu bermanfaat baik terhadap apa yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Hendaklah kalian berdo’a”.
Terlepas cepat atau lambatnya do’a itu dikabulkan, dan bagaimana bentuk dikabulkannya, Dr. KH. Mauhibur Rokhman, Khodim Bayt Mohammadi Indonesia, menyampaikan bahwa apabila do’a belum dikabulkan di dunia, sejatinya do’a akan menjelma menjadi hal yang sangat luar biasa di akhirat kelak. Sehingga dapat dikatakan bahwa do’a yang dipanjatkan oleh seorang muslim merupakan sebuah investasi untuk dirinya.
Untuk memperoleh kesempatan dikabulkannya do’a sesuai dengan harapan, ada beberapa malam yang berpotensi menyimpan do’a mustajab, yaitu: malam pertama bulan rajab; malam nisfu sya’ban; malam jum’at; malam idul fitri dan malam idul adha. Sebagaimana yang tercantum dalam hadis berikut:
خَمْسُ لَيَالٍ لَاتُرَدُّ فِيْهِنَّ الدَّعْوَةُ: أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبَ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَةُ الجُمْعَةِ وَلَيْلَةُ الفِطْرِ وَلَيْلَةُ النَّحْرِ(رواه ابن عساكر عن أبي أمامة)
“Ada 5 malam yang (apabila seseorang berdo’a pada malam tersebut), do’anya tidak akan ditolak, yaitu: Malam pertama memasuki bulan rajab; malam pertengahan bulan sya’ban (nisfu sya’ban); malam jumat; malam idul fitri; dan malam idul adha”.
Dalam kitab Khoshoish al-Ummah al-Muhammadiyah, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki menyebutkan bahwa hari jum’at merupakan hari yang paling agung dan sebaik-baiknya hari dalam Islam. Keagungan malam jum’at tersebut berkorelasi dengan agungnya hari jum’at itu sendiri. Hal ini karena hari jum’at merupakan hari di mana nabi Adam diciptakan, diturunkan ke bumi, dan diwafatkan, serta hari di mana kiamat akan terjadi, juga hari di mana malaikat muqorrob, malaikat penjaga langit, bumi, angin, gunung dan laut hanya berbelas kasih pada hari jum’at. Dan pada hari jum’at menyimpan waktu do’a mustajab yang apabila seseorang memohon pada waktu tersebut, Allah akan mengabulkannya selama permintaan tersebut bukan hal yang diharamkan.
وَفِيهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ اللهَ فِيْهَا العَبْدُ شَيْئًا إلاّ أعْطَاهُ إيَّاهُ مَا لمْ يَسْأَلْ حَرَامًا (رواه أحمد وابن ماجه)
“Dan pada (hari jum’at) terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba memohon apapun kepada Allah, melainkan Allah memberinya (mengabulkannya) untuknya selama hal yang diminta bukanlah hal yang diharamkan”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Baca Juga: Taubat Nabi Adam dan Doanya
Kemudian, hal yang dapat dimaksimalkan untuk memperoleh waktu mustajab pada hari jum’at di antaranya dengan melaksanakan qiyamu al-lail di malam jum’at disertai memperbanyak do’a. Dalam kitab Khoshoish al-Ummah al-Muhammadiyah pula, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki mengisahka bahwa Rasulullah pernah berwasiat kepada sayyidina Ali Ra untuk menyempatkan qiyamu al-lail di malam jumat meskipun tidak pada sepertiga malam terakhir, yakni pada sepertiga malam pertama maupun kedua. Hal itu disampaikan Rasulullah, karena pada malam jum’at terdapat do’a yang mustajab.
إذَا كَانَ ليلةُ الجمعَةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أنْ تَقُوْمَ في ثُلثِ اللَّيْلِ الآخرِ فَإنها سَاعَةٌ مشهودةٌ والدُّعَاءُ فِيْهَا مُسْتَجَابٌ. فَإنْ لم تستطعْ فقُمْ في وسَطهَا فإن لم تستطع فقم فِي أولها.
“Ketika malam jum’at tiba, apabila kamu mampu melaksanakan sholat malam di sepertiga malam terakhir, maka itulah waktu yang disaksikan dan do’a pada malam itu akan terkabul. Jika kamu tidak mampu (sholat di sepertiga malam terakhir), maka sholatlah di sepertiga malam kedua, jika tidak mampu maka sholatlah di sepertiga malam pertama”.
Pada keempat malam lainnya, tentunya memiliki makna dan keistimewaannya masing-masing, seperti malam idul fitri yang menjadi istimewa salah satunya karena telah melewati ibadah puasa selama satu bulan. Dan esensi dari puasa itu sendiri seperti menahan dari segala godaan dan hawa nafsu, sejatinya dapat terus diimplementasikan seterusnya. Dan untuk malam nisfu sya’ban, yang merupakan bulan kedelapan dalam kalender hijriah, adalah momentum untuk mengintrospeksi diri atas apa yang telah dilakukan pada setahun terakhir. Dan malam rajab dan malam idul adha merupakan malam yang bertepatan pada salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah (yakni: rajab, dzulqo’dah, dzulhijjah, muharrom).
Selain terletak pada bulan yang dimuliakan, bulan dzulhijjah memiliki keistimewaan yang tidak dapat ditemukan pada bulan lainnya, yakni terkumpulnya pokok-pokok ibadah pada bulan dzulhijjah, yakni: sholat, puasa (di antaranya puasa sunnah tarwiyyah dan ‘arofah), sedekah, dan ibadah haji. Sehingga pada 10 hari pertama bulan dzulhijjah, seseorang sangat dianjurkan untuk meningkatkan amal ibadahnya. Hal ini disampaikan oleh Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhori, sebagai berikut:
والّذِي يظْهرُ أنَّ السببَ فِي امتيازِ عشْرِ ذي الججةِ لمكانِ اجتماعِ أمّهاتِ العبادة فيه وهي الصلاة والصيام والصدقة والحق ولا يتأتَّى ذلك في غيرِه
“Dan sebab keistimewaannya 10 hari pertama bulan dzulhijjah karena di dalamnya terkumpul pokok-pokok ibadah seperti sholat, puasa, sedekah, dan haji yang tidak tersedia pada hari-hari yang lain.”
Di samping anjuran untuk meningkatkan amal ibadah, berarti bermunajat pada malam idul adha atau malam kesepuluh bulan dzulhijjah adalah momentum untuk menyematkan harap agar do’a mudah untuk dikabulkan.
Dari keterangan di atas, dapat diketahui bahwa malam jum’at adalah malam yang berpotensi dapat dijumpai oleh umat muslim pada setiap pekan. Sedangkan untuk empat malam lainnya, potensi dapat dijumpainya hanya sekali pada setiap tahun. Namun sebagaimana do’a adalah ibadah, dan ibadah dilakukan sepanjang berada di dunia, maka sepanjang itulah untuk terus berdo’a. Bukankah seseorang merasa bahagia manakala do’a dikabulkan dan bukankah Allah sangat senang manakala mendengar lirihan do’a hambanya? Semoga Allah menganugerahkan kepada kita usia panjang dengan kondisi sehat dan penuh ketaatan kepada-Nya.
اللَّهُمَّ طَوِّلْ عُمْرَنَا فِي طَاعَتِكَ وَصِحَةٍ وَعَافِيَةٍ.
6 Dzulhijjah 1445 H.



