Visualisasi Kenikmatan Surga

Ramai beberapa waktu lalu, influencer yang menjelaskan “balasan” perempuan mukminah di surga adalah perhiasan, sedangkan laki-laki mukmin diproyeksikan mendapatkan bidadari. Hal tersebut karena pertimbangan kecenderungan puncak kenikmatan yang paling ‘diinginkan” keduanya. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah karena ada sebagian ulama ahli tafsir memang menyatakan demikian. Berangkat dari QS. Al-Fushilat: 31,

وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِىٓ أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

artinya: “Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.”

Surga merupakan tempat semua orientasi kenikmatan tertinggi manusia dapat tercapai, dan orientasi kenikmatan tertinggi setiap orang itu berbeda-beda. Dalam fikih disebutkan bahwa hukum menikah bisa haram bagi yang tidak menyukai aktivitas seksual karena tidak semua orang menyukainya. Nabi Yahya merupakan panutan yang tidak memiliki insting seksual dan lebih memilih beribadah, seperti dalam QS. Ali Imran: 39:

اَنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيٰى مُصَدِّقًا ۢ بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَسَيِّدًا وَّحَصُوْرًا وَّنَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

Artinya: “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.”


Hashur maknanya adalah lelaki yang tidak pernah menyetubuhi wanita. Lafadz ini digunakan al-Qur’an dalam konteks memuji Nabi Yahya yang tidak pernah menggauli wanita dan tidak menikah seumur hidupnya sampai beliau wafat dibunuh tentara Romawi (as Subki, Thabaqat as-Syafi’iyah al Kubra, Cet.II, Hajar: Kairo, 1993, VIII: 395).

al-Qur’an dan hadis membahas semua jenis orientasi kenikmatan manusia sesuai jangkauan akalnya dan menjanjikan balasan sesuai dengan kecenderungannya masing-masing. Kesenangan tersebut ada yang bersifat material maupun immaterial. Kenikmatan kedua ini tentunya capaian kenikmatan yang paling bonafit.

Pertama, Ada seseorang yang obsesi terbesarnya adalah Allah (QS.al-Qiyamah: 23). Hal ini merupakan capaian kenikmatan tertinggi yaitu berupa melihat Allah. (Ibn Khamis, Tabaqat as-Sufiyyah Abu Dhabi: Dar Al- Baroudi, 2006, I: 204).

Kedua, ada yang tambatan hidupnya adalah Rasulullah. Fanatisme cintanya dibuktikan dengan berusaha meniru teladannya, ia juga gemar membaca shalawat, karenanya di surga nanti dia dijanjikan bisa hidup dengan Rasulullah. Riwayat jaminan hidup bersama Rasulullah ini begitu banyak jumlahnya.

Baca juga: Pilih Kaya atau Miskin

Ketiga, bagi lelaki yang obsesinya adalah wanita, maka disebutkan bahwa di surga nanti akan disediakan bidadari yang selalu perawan dan tentu cantik luar biasa. Bagi lelaki yang menganggap seks adalah puncak kenikmatan, maka iming-iming bidadari ini ditujukan ditujukan. (Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Dar at-Thaibah: 1420, II: 19).

Keempat, bagi yang orientasinya makanan dan minuman, maka digambarkan bahwa sungai-sungai surga mengalir air susu yang rasanya tidak berubah dan mengalir sungai-sungai madu (QS. Muhammad: 15). Bagi yang mampu menahan diri dari mabuk selama di dunia, maka di surga nanti akan disediakan khamr yang sangat nikmat (QS. Muhammad: 15). Khamr penduduk surga tidak memabukkan dan tidak menghilangkan akal (QS. As-Saffat: 47). Sedang makanan di surga akan lebih menggoda selera dan lebih lezat. Ia terbebas dari segala macam kekurangan,seperti cepat basi, mudah rusak, dan jumlahnya terbatas (QS.at-Thur: 22). Buah-buahan juga berlimpah ruah jumlahnya, para penghuninya bisa mengambil apa saja yang mereka inginkan (QS ar-Rahman: 52).

Kelima, bagi yang orientasinya rumah mewah, surga digambarkan bahwa materialnya berupa bata emas dan bata perak. Perekat antara kedua bata itu adalah misk yang sangat wangi semerbak. Batu-batunya berupa intan dan yaqut sedangkan tanahnya za’faran (HR. at-Tirmidzi)

Keenam, bagi yang orientasinya kongkow bersama kawan-kawan, maka digambarkan penghuninya akan duduk di atas dipan yang bertahtakan emas permata (QS al-Waqi’ah: 15)

Ketujuh, bagi yang orientasinya adalah keluarga, maka disebutkan bahwa di sana seseorang bisa dikumpulkan kembali dengan leluhur dan keturunannya (QS. At-Thur: 21).

Seluruh kenikmatan-kenikmatan material tersebut di atas hanya gambaran kasar, bukan level kenikmatan yang sebenarnya akan dirasakan nanti sebab kenikmatan surga itu tak terbayangkan. Rasulullah menggambarkan hakikat surga sebagai berikut:

ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت، ولا خطر على قلب بشر

artinya: “Apa yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga, tak pernah terbesit dalam hati seorang manusia pun. (HR Bukhari – Muslim)

Lantas bagaimanakah dengan kesenangan seseorang yang orientasinya dianggap rendah dan menyimpang?,Jawabannya adalah tidak ada. Misal seperti orang yang menyukai sesama jenis, menyukai kenikmatan seksual dengan hewan, merasa nikmat ketika menyiksa orang lain, atau puas ketika memfitnah orang, kanibal dan sebagainya tidak akan menyukai kembali hal-hal tersebut bila ia ternyata tercatat sebagai penghuni surga. Allahu A’lam

Tags :

Farida Ulvi Na'ima

Aswaja NU Center Sidoarjo, JP3M Nusantara, ADP IKA PMII, Aktivis Perempuan

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network