Membanggakan Nasab

Bukan hanya membanggakan nasab dari Nabi Muhammad Saw, yang lazim disebut Habib, tetapi juga bangga karena keturunan ulama atau Kiai, pejabat, orang kaya, dan seterusnya, tidaklah baik dan bijak, meskipun secara manusiawi betapa wajar. Begitu seterusnya orang kebanyakan juga cenderung bangga dengan jabatan dan kedudukan, bisa dilihat dari gaya duduk, bicara, makan, dan lain sebagainya. Sampai hari ini, saya hampir belum pernah menemukan orang sebagaimana yang saya harapkan, sebagai orang yang sekiranya mendekati kepribadian yang “low profile.”

Terlalu banyak orang yang gampang tersinggung, marah dan inginnya selalu dihormati. Keturunan, jabatan dan kedudukan sama sekali tidak menjamin seseorang bisa semakin rendah hati dan bijaksana. Lagi-lagi manusiawi, meskipun tidak layak diikuti, bahwa setiap orang cenderung ingin dipuji, dimuliakan dan dilayani. Bahkan dalam level tertentu, saya sendiri kesulitan, apa batasan kita dalam menghormati orang lain, apakah mesti berjalan menunduk, cium tangan, berjalan ngesot, atau bahkan hanya berdiam diri. Apa yang disebut sebagai “adat ketimuran” ini ternyata mengandung sedikitnya dua makna, sebagai manifestasi akhlakul karimah atau jebakan anggah-ungguh yang membodohi.

Entah sejak kapan, persisnya saya tidak tahu, saya sudah tidak mau menganggap orang lain secara berlebihan, apakah ia seorang Habib, ulama atau Kiai, pejabat, pengusaha, orang kaya, intelektual, cendekiawan dan lainnya. Bagaimana saya terus berusaha agar dalam memperlakukan orang lain tetap proporsional. Saya meyakini, manakala saya bersikap proporsional dan biasa-biasa saja, sikap itulah yang akan memantul sehingga orang lain pun akan menganggap saya secara proporsional dan biasa-biasa saja.

Karena saya tumbuh dalam salah satu tradisi Pesantren, di sinilah saya belajar tentang kehidupan, termasuk soal betapa pentingnya ihwal keturunan dan anggah-ungguh. Sebut saja Akbar. Ia seorang santri, alumni dan anggap saja seorang Ustadz muda. Setiap kali menghadap kepada Kiai yang menjadi gurunya, ia tampak begitu berhati-hati, mulai dari cara mengetik pintu, mengucapkan salam, berjalan dengan mengesot, mencium tangan bolak-balik, duduk kaku berdiam diri tanpa reaksi, membenarkan semua apa yang diucapkan Kiainya begitu seterusnya.

Baca Juga: CHILDFREE: Islam-kah?

Tadinya saya menganggap bahwa adat ketimuran seperti itu sebagai sebuah sikap yang wajar dan bahkan wajib, tetapi sampai sekarang ini, saya merasa bahwa anggah-ungguh seperti itu banyak mudaratnya. Sampai sekarang ini juga saya tidak ikut-ikutan seperti kebanyakan orang, seberapapun mulianya nasab seseorang itu. Kalaupun cium tangan dan hendak menunjukkan sikap rendah hati tetap dalam ukuran yang proporsional. Mengapa berbahaya? Saya akan mencoba merunut jawabannya. Manakala kita bersikap berlebihan seperti itu, secara langsung atau tidak, kita sendiri akan mengharapkan orang lain untuk memperlakukan kita sedemikian istimewa. Sampai ketika nanti ada orang lain yang tidak memuliakan kita, ia pun akan dicap sebagai orang yang su’ul adab. Istilah “adab dulu baru ilmu atau adab di atas ilmu”, ini juga mengandung pengertian yang salah.

Sungguh ini merupakan turunan dari bahayanya membanggakan nasab. Setiap orang tentu saja tidak mau dianggap sebagai orang yang membanggakan nasab, tetapi sadar atau tidak dalam realitas begitu adanya. Nasab ini menjadi semacam keunggulan, sebetulnya bukan hanya nasab, siapapun yang merasa unggul dengan menggunakan alat apapun, perilaku tersebut tidaklah baik dan bijak. Hanya saja karena kali ini tengah membahas ihwal nasab, anggap saja ini menjadi renungan bahkan evaluasi bagi siapa saja yang kebetulan Allah berikan nasab yang dianggap mulia secara sosial.

Menjadi tantangan tersendiri bagi siapa saja yang merasa mulia nasabnya dan membanggakan diri karena nasab, untuk bisa menjadi manusia yang tetap memanusiakan manusia, siapapun manusianya, tanpa pandang darahnya biru atau tidak. Bukan perkara mudah menjadi manusia yang misalnya nasabnya mulia tetapi merasa biasa-biasa saja dan mampu memperlakukan setiap manusia secara sama dan setara.

Melalui catatan harian ini, saya hendak mengajak untuk mengakhiri polemik membangga-banggakan nasab. Manusia yang merasa keturunan Nabi, Walisongo, ulama/Kiai dan seterusnya, kita ini sama-sama keturunan Nabi Adam, lebih-lebih ciptaan Allah Swt., secara mutlak. Apakah ada yang memalsukan nasab, memalsukan kuburan, dst, demikian yang memprotes, melakukan kesombongan yang serupa, tidak mau berdamai dan saling memaafkan, saya yakin itu semua bukan perilaku baik yang diajarkan Nabi Adam dan Nabi Muhammad. Masih banyak yang perlu mendapatkan perhatian serius daripada debat kusir soal nasab, apakah mengkritik Pemerintah, terlebih kontribusi masing-masing kita terhadap transformasi sosial. Itu artinya nasab itu tidak penting kalau hanya untuk dibangga-banggakan.

Wallahu a’lam

Tags :

Mamang M Haerudin (Aa)

Pimpinan Al-Insaaniyyah Center & Pengurus Lazisnu PCNU Kabupaten Cirebon

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network