Tuhan Tidak Bisa Dibayangkan

Hari ini saya diberi kesempatan ngaji kitab Riyadush Shalihin dan sampai di hadits Malaikat Jibril yang bertanya seputar Islam, Iman, dan Ihsan kepada Rasulullah SAW. Dalam hadits tersebut ada kalimat:


أن تعبد الله كأنك يراه

“Engkau hendaknya menyembah Allah seakan-akan Engkau melihatnya.”
Lafaz hadits ini bisa menjebak kalangan awam untuk memaknainya dengan makna: Menyembah Allah dengan membayangkan atau mengangan-angankan bentuk Allah.” Ini jelas bertentangan dengan akidah Ahlussunah wal Jama’ah. Karena dalam Ahlussunah wal Jama’ah Allah tidak memiliki rupa dan bentuk, sehingga Allah pun tidak bisa dibayangkan. Maka, Allah tidak boleh dibayangkan bentuknya. Jika Allah dibayangkan bentuknya, walau cuma-cuma di dalam angan-angan, itu tetaplah bentuk, dan itu tindakan mujassimah (menganggap Allah memiliki tubuh). Hal ini bisa saya jelaskan dalam beberapa poin berikut:

  1. Apa pun yang diangan-angankan oleh akal manusia pasti memiliki bentuk dan rupa, walaupun tidak berada di alam nyata. Setiap yang berbentuk dan berupa pasti memiliki batas. Sementara Allah tidak berbatas. Maka, Allah tidak memiliki bentuk dan rupa, sehingga Allah tidak bisa diangan-angankan atau dibayangkan oleh akal.
  2. Angan-angan manusia terbatasi oleh kemampuan daya nalar dan pengetahuan. Allah tidaklah terbatas. Maka Allah jelas tidak bisa diangan-angankan atau dibayangkan oleh akal manusia.
  3. Mengangan-angankan Allah sama saja meyakini Allah memiliki bentuk dan rupa, dan sama saja menganggap Allah memiliki batas. Ini adalah akidah Mujassimah yang benar-benar keluar dari ajaran Islam. Karena Al-Qur’an sendiri sudah menjelaskan Allah tidak sama dengan apapun. Artinya Allah tidak sama juga dengan yang ada di angan-angan manusia.

Lantas apa maksud dari kalimat:


أن تعبد الله كأنك يراه


“Engkau hendaknya menyembah Allah seakan-akan Engkau melihatnya.”?
Maksudnya kurang lebih begini:
Dalam kita menyembah Allah kita harus menghadirkan Allah sehingga memunculkan sikap tunduk, takzim, hormat, dan takut. Jika kita berada di hadapan orang terhormat saja kita akan menjaga diri dari perbuatan yang tidak baik, takzim, dan menjaga perilaku demi menghormatinya, apalagi di hadapan Allah. Seharusnya kita lebih mengjaga perilaku, lebih takzim, dan lebih menghormati. Di dunia kita tidak bisa melihat Allah, namun dengan menghadirkan Allah dalam setiap detik kehidupan kita, kita akan mawas diri, menjaga ucapan, menjaga perilaku, jujur, amanah, dan takut melanggar aturan-aturan Allah. Kurang lebih ini maksud dari kalimat Rasulullah di atas. Bukan bermakna kita beribadah sambil membayangkan bentuk Allah atau mengangan-angankan Allah.


Wallahu a’lam bish shawab

Tags :

Zulfahani Hasyim

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network