Syekh Yusri hafidzahullah Ta’ala wa ra’ah dalam pengajian tafsir Al Qur’an menjelaskan, bahwa Allah Ta’ala telah memuliakan bangsa manusia di antara para ciptaan-Nya yang lain. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman Allah:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا
Artinya “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak Adam, dan kami bawa mereka di daratan dan di lautan, dan telah Kami rizkikan kepada mereka rizki-rizki yang baik, serta kami unggulkan mereka di atas makhluk banyak lainnya yang telah Kami ciptakan dengan sebenar-benar keutamaan” (QS. Al Isra: 70).
Seykh Yusri menjelaskan, bahwa kemuliaan ini mencakup seluruh umat manusia, baik yang beriman maupun yang kafir, dimana mereka semua telah diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna di antara makhluk-Nya yang lain, sebagaimana firman Allah:
لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik” (QS. At Tin: 4).
Yaitu memiliki rupa yang baik, tidak hanya berupa tulang, melainkan juga tulang yang terbungkus dengan daging dan kulit. Memakan dengan menggunakan kedua tangannya, dimana makhluk yang lain makan langsung dengan mulutnya, sehingga sering kali memakan makanan yang tidak bersih seperti makanan manusia.
Allah juga menciptakan akal dan iradah (kehendak) bagi manusia
hal tersebut tidak dimiliki oleh makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan, yang hanya sebatas diberi indera saja. “Jika kemuliaan ini adalah kenikmatan, maka suatu hari nanti Allah Ta’ala akan mempertanyakannya kepada kita untuk dimintai pertanggungjawabannya,” tegas Syekh Yusri. Allah Ta’ala telah berfirman:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Artinya “Selanjutnya, sesungguhnya kalian akan benar-benar ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang telah Allah karuniakan kepadamu)” (QS. At Takatsur: 8).
Syekh Yusri mengukuhkan bahwa wujudnya orang kafir di muka bumi ini merupakan kemuliaan bagi dirinya, karena Allah telah mewujudkan dan menjadikannya sebagai objek dari qadha dan taqdir-Nya, serta menjadi objek dari siksa-Nya di neraka kelak. Jelas ini lebih baik daripada tidak diwujudkan sama sekali. Maka dari itulah, jangan sekali-kali kita menghina dan merendahkan siapapun, karena mereka telah dimuliakan oleh Dzat yang telah menciptakannya, karena mereka adalah keturunan seorang Nabi, yaitu Adam AS, juga sesama saudara atas nama kemanusiaan.
Adapun mereka yang beriman, tentunya kemuliaan mereka jauh lebih tinggi, sehingga orang yang shalih dari bangsa manusia pun bisa lebih mulia daripada Malaikat, seperti para Nabi dan Rasul. Bahkan Baginda Nabi kita SAW merupakan makhluk Allah yang paling mulia secara mutlak. Orang-orang yang shalih selain dari para Nabi dan Rasul bisa lebih mulia daripada umumnya Malaikat, seperti para Khulafa Ar Rasyidun RA.
Adapun bangsa jin, mereka tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaan anak Adam AS. Sudah cukup kiranya menjadi dalil, tidak ada satupun dari mereka yang menjadi utusan Allah, tetapi Allah mengutuskan seorang Nabi dan Rasul untuk mereka. Hal yang perlu diingat, dimana ada kemuliaan, disitulah ada beban yang harus diemban, seperti dikatakan
التَشْرِيْفُ مَصْحُوْبٌ بِالتَّكْلِيْفِ
“Kemuliaan itu selalu disertai dengan tanggung jawab”.
Wallahu A’lam.
(ahbabdryosrygabr)



