Allah Mengangkat Ilmu Dengan Cara Mencabut Nyawa Para Ulama

Syekh Yusri hafidzahullah Ta’ala wa ro’ah dalam pengajian kitab Bahjat An-Nufusnya menjelaskan, bahwa perkara yang paling mulia di dunia ini adalah iman dan ilmu. Merupakan hikmah Allah Ta’ala dalam menjadikan dunia ini sebagai tempat makhluknya yang selalu berubah dan tidak kekal, maka atas dasar itu pula segala sesuatu yang ada di dalamnya akan selalu berkurang dan pergi.

Yang diantara sesuatu tersebut adalah ilmu dan keimanan, yang mana keduanya adalah dua perkara yang paling mulia di dunia ini. Hal ini sebagaimana sabda baginda Nabi SAW, bahwa:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ

yang artinya “Sesungguhnya Allah tidaklah mengangkat ilmu dengan cara mencabutnya dari para hambaNya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mengambil (mencabut nyawa) para ulama” (HR. Bukhari).

Ilmu yang dimaksud di sini adalah cahaya yang ada pada hati seorang muslim, bukanlah hanya sekedar ma’lumah (pengetahuan), tambah Syekh Yusri. Ilmu adalah merupakan buah dari sebuah pengetahuan yang ada dalam diri seseorang, dan bukanlah pengetahuan itu sendiri. Dan ilmu yang tidak disertai dengan tingkah laku, maka dinamakan sebagai tsaqafah (pengetahuan).

Adapun kitab atau pun buku karangan para ulama adalah merupakan simbol dari pada cahaya hati mereka, tegas Syekh Yusri. Ilmu akan terus berkurang seiring dengan menjauhnya umat ini dari masa baginda Nabi SAW, sebagaimana kita ketahui bahwa ulama adalah sebagai pewaris para Nabi, pastinya mereka di bawah para Nabi yang mewariskannya. Hal ini adalah sebuah realita yang bisa disaksikan oleh setiap orang.

Ketika ilmu dan iman adalah merupakan isi dunia yang paling mulia saja semakin berkurang dan hilang sebagaimana dalam hadits di atas, maka hal ini sebagai motivasi kita untuk zuhud (tidak cinta) kepada dunia ini. Ketika kebaikan yang berupa ilmu dan iman semakin sedikit, maka hal yang sebaliknya pun semakin banyak, yaitu kebodohan dan kekufuran yang merupakan sumber kerusakan.

Imam Abu Jamrah RA dalam mengomentari hadits ini berkata, bahwa orang yang berakal seharusnya tidak menengok kepada dunia dan berpaling dari akhirat. Sayyiduna Ali RA berkata:

لَوْ كَانَتِ الآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ وَهِيَ بَاقِيَةٌ وَالدُنْيَا مِنْ فَضَةٍ وَهِيَ فَانِيَةٌ لَكَانَ يَقْتَضِي الزُّهْدَ فِي الدُّنْيَا

yang artinya “jikalau saja akhirat itu terbuat dari tanah liat yang kekal sedangkan dunia terbuat dari perak yang tidak kekal, maka hal ini akan menjadikan zuhud di dunia”. Semua ini, oleh karena kekekalan yang menjadikan orang yang berakal untuk lebih memilihnya, apalagi yang sudah jelas bahwa kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal baginya, sebagaimana Allah berfirman:

وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

yang artinya “Dan akhirat lebih baik dan lebih kekal” (QS. Al A’la:17).

Wallahu a’lam.

Tags :

Redaksi Darasna Network

Tim Redaksi Darasna Network

https://darasna.net

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network