Memberikan Kebahagian Kepada Hati Merupakan Sunnah Baginda Nabi SAW

Syekh Yusri hafidzahullah Ta’ala wa ro’ah dalam pengajian Bahjat Annufusnya menjelaskan, bahwa di antara sunnah baginda Nabi SAW adalah memberikan kebahagiaan kepada seseorang yang bertanya sebelum menjawab pertanyaannya. Hal ini adalah sebagaimana hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa sayyiduna Abu Hurairah RA bertanya kepada baginda Nabi SAW tentang siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafa’atnya di hari kiamat nanti.

Sebelum baginda Nabi SAW menjawab pertanyaannya, baginda terlebih dahulu berkata kepadanya:

لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لاَ يَسْأَلَنِى عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ

Artinya “sesungguhnya saya telah mengira wahai Abu Hurairah RA, bahwa tidak ada orang yang akan bertanya terlebih dahulu dari pada dirimu tentang hadits ini, oleh karena saya melihat kegigihanmu terhadap hadits ini” (HR. Bukhari).

Imam Abu Jamrah RA mengomentari atas hadits ini, bahwa tujuan baginda Nabi SAW berkata demikian adalah untuk membahagiakan hati Abu Hurairah RA, yaitu memuji dirinya akan semangatnya terhadap hadits baginda Nabi SAW. Tidak hanya hal itu, akan tetapi baginda nabi juga mengisyaratkan bahwa baginda telah memperhatikan dirinya selama bersuhbah.

Baginda Nabi mengetahui akan kesungguhan Abu Hurairah tersebut, dengan selalu memandang akan perkataan dan tingkah lakunya. Dimana bentuk perhatian serta pandangan satu kali dari baginda Nabi kepada sahabatnya adalah merupakan kebahagiaan yang tidak ada bandingannya bagi mereka. Apalagi kebahagiaan yang telah didapat oleh Abu Hurairah RA, yang tengah diperhatikan oleh baginda pada setiap harinya, bahkan dirinya mendapatkan pujian darinya.

Syekh Yusri menambahkan, bahwa dari sinilah para ahli tashawwuf mentarbiyah para muridnya dengan pandangan.

Karena pandangan seorang wali mampu merubah perilaku serta meningkatkan himmah (semangat beribadah) para muridnya.

Pandangan seorang murabbi mampu memberikan tarbiyyah kepada para muridnya, sebagaimana baginda Nabi SAW mentarbiyah para sahabatnya “Pandangan seorang yang shalih mampu memberikan kemanfaatan bagi seseorang, sebagaimana pandangan orang yang dengki juga memberikan kemadharatan, yaitu apa yang dinamakan dengan penyakit ‘ain. Imam Nasa’i telah meriwayatkan bahwa

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَتَعَوَّذُ مِنْ عَيْنِ الْجَانِّ وَعَيْنِ الإِنْسِ فَلَمَّا نَزَلَتِ الْمُعَوِّذَتَانِ أَخَذَ بِهِمَا وَتَرَكَ مَا سِوَى ذَلِكَ

Artinya “Rasulullah SAW meminta perlindungan (kepada Allah) dari mata (pendengki) jin dan mata (pendengki) manusia, kemudian ketika telah turun dua surat pelindung (surat Al-Falaq dan surat An-Naas), maka baginda membacanya dan meninggalkan yang selainnya (bacaan do’a-do’a pelindung)” (HR. An-Nasa’i).

Wallahu A’lam.

Tags :

Redaksi Darasna Network

Tim Redaksi Darasna Network

https://darasna.net

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network