Mesir. Negeri para Firaun yang kini hanya bisa kutempuh lewat angan. Nuansa Ramadan di sana terasa berbeda. Sebagai lulusan al-Azhar Mesir yang kini berada di Indonesia, ada kerinduan yang kerap singgah di bulan suci ini. Tahun lalu masih di Mesir dengan suasananya yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Tahun ini sudah di Indonesia dengan rencana untuk menggapai masa depan baru.
Hangatnya Buka Puasa Bersama: Iftar Berlimpah dan Silaturahmi yang Melekat

Saat azan Maghrib berkumandang, Kairo mendadak bertransformasi. Hiruk pikuk warga yang berburu takjil memenuhi jalanan. Aroma khas penganan Mesir seperti Umm Ali yang manis legit dan Qatayef dengan isian kacang yang gurih menggoda penciuman. Tapi yang paling kurindukan adalah tradisi buka puasa bersama, atau yang biasa mereka sebut Maidatu Rahman.
Momen berbuka bersama teman dan keluarga, tak melulu di rumah, kerap dilakukan di masjid atau lapangan terbuka. Meja panjang dipenuhi dengan hidangan berlimpah. Ada Fattoush yang segar, Mulukhiyah berkuah kental, dan Konafah yang manis. Kebersamaan memecah keheningan saat menahan lapar seharian. Suasana hangat dan penuh berkah itu terasa begitu spesial dan sulit tergantikan.
Terawih dengan Nuansa Mistis nan Syahdu: lantunan Quran yang Merdu dan Lampu Fanoos yang Temaram
Malam hari di Ramadan Mesir terasa berbeda. Lampu Fanoos warna-warni, dengan kaca mozaik yang memesona, menghiasi jalanan dan rumah warga. Cahayanya yang temaram menambah nuansa mistis yang syahdu. Kerlap-kerlip lampu ini seperti bintang kecil yang bertebaran di bumi, menambah semarak suasana Ramadan.
Usai salat Isya, masjid-masjid dipenuhi lautan manusia yang akan melaksanakan salat tarawih. Imam masjid melantunkan ayat suci Al-Quran dengan suara merdu, hening khusyuk menyelimuti para jamaah. Suaranya berpadu dengan lantunan para jamaah, menciptakan harmoni yang syahdu. Momen ini selalu membuat hati tenang dan khusyuk.
Kedermawanan yang Mengalir Sepanjang Ramadan: Buka Puasa Gratis dan Sentuhan Hati yang Mulia
Kedermawanan masyarakat Mesir di bulan Ramadan sungguh luar biasa. Masjid-masjid dan orang kaya menyelenggarakan buka puasa gratis. Mereka menyediakan makanan berlimpah untuk siapa saja yang ingin berbuka bersama.
Melihat antrean panjang warga yang kurang mampu untuk mendapatkan makanan gratis itu membuat hati tersentuh. Kebaikan ini menjadi salah satu hal yang paling kurindukan dari Ramadan di Mesir. Para dermawan ini tak hanya memberikan makanan, tapi juga menebarkan kehangatan dan semangat berbagi di bulan suci.
Meskipun kini berada jauh dari Mesir, Ramadan di Indonesia tetap terasa khusyuk. Namun, memori indah tentang kebersamaan, kekhusyukan, dan kedermawanan di Mesir akan selalu membekas. Semoga kelak, bisa kembali merasakan Ramadan yang penuh berkah di tanah para Firaun itu.



