Umat Islam begitu menanti datangnya bulan Ramadhan melebihi bulan lainnya. Di Indonesia ada acara khusus bertajuk ‘tarhib Ramadhan’. Di Mesir, masyarakat mulai sibuk menghiasi rumah dan jalanan dengan fanush (lantern) atau lampu hias. Berbagai media juga sudah mulai taping materi untuk bulan Ramadhan. Jadi tak heran, dua bulan sebelum kedatangan bulan Ramadhan, kaum muslimin banyak yang mengumandangkan sebaris doa terkenal:
أللهم بارك لنا فى رجب وشعبان وبلغنا رمضان
“Ya Allah, karuniakanlah keberkahan bagi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.”
Bagi anggapan sebagian umat Islam, doa tersebut bersumber pada hadits yang lemah (dha’if). Maka, mereka yang meyakini kelemahan hadits tersebut enggan untuk menerapkannya. Namun bagi sebagian umat, sekalipun hadits tersebut dha’if tidak menjadi penghalang untuk mengamalkannya. Terlebih konteks hadits tersebut berkaitan dengan urusan keutamaan amal perbuatan (fadha’il al-a’mal).
Terlepas dari kuat-lemahnya hadits tersebut, hikmah apa yang bisa kaum muslimin dapatkan dari doa tersebut? Imam Abdur Ra’uf Al Munawi Al Syafi’i (952 – 1031 H), penulis kitab Faydh al-Qadir Syarh Al Jami’ Al Shaghir dengan mengutip pendapat Ibn Rajab menjelaskan bahwa hadits tersebut adalah argumentasi bagi anjuran berdoa untuk bisa sampai dan berada di waktu baik dengan tujuan melakukan amal kebajikan. Sebagian ulama seperti Imam Al Sa’ati (1883 – 1958) dalam Bulugh al Amani min Asrar Al Fath Al Rabbani menyebut doa yang termaktub dalam hadits (dha’if) tersebut adalah dalil tentang keutamaan bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Al Sa’ati (orang yang memperbaiki jam) adalah julukan bagi ulama Mesir bernama Ahmad Abdurrahman Al Banna, ayah dari Hasan Al Banna dan Gamal Al Banna.
Dua hikmah tersebut sesungguhnya sudah sangat mencukupi bagi bekal keimanan dan keislaman seseorang. Puasa di bulan Ramadhan adalah salah satu bukti komitmen keislaman seseorang. Ia bagian dari rukun Islam. Sederhananya, berdoa agar dapat sampai ke bulan Ramadhan adalah wujud keinginan untuk melaksanakan tugas pokok (ibadah) sebagai hamba dengan baik.
Bagaimana dengan pendapat Al Sa’ati yang menyebut bulan Ramadhan memiliki keutamaan? Dalam bahasa Arab, ada satu kaidah yang menyatakan, semakin banyak nama (asma’) menunjukkan kemuliaan perkara yang diberi nama (al-musamma). Imam Muhammad ibn Ya’qub atau yang masyhur dengan nama Al Fayruzabadi (817 H) menyampaikan kaidah ini dalam salah satu karyanya, Basha’ir Dzawi al Tamyiz. Bulan Ramadhan dikenal dengan bulan Al-Quran (syahr al-Quran) syahr al-Hadyi (bulan petunjuk) dan bahkan dijuluki sebagai Sayyid al-Shuhur (bulan terbaik). Menurut ulama India berlatar belakang Al Azhar, Syeikh Muhyiddin Alwaye, Ramadhan hakikatnya adalah bulan evaluasi (syahr al-muraja’ah li atsaril madhi) atas perilaku masa lalu. Ramadhan juga sekaligus adalah syahr al-tadbir fi a’malil mustaqbal (bulan menata kembali amal di masa mendatang). Jika demikian, bulan Ramadhan adalah titik balik bagi setiap Muslim. Ramadhan serupa garis start bagi kebaikan di masa mendatang dan sekaligus garis finish bagi perilaku maksiat.
Penjelasan di atas tentang keistimewaan bulan Ramadhan menemukan argumentasinya dalam sumber keagamaan. Nabi Muhammad Saw, dalam satu riwayat Ibn Huzaymah, menyebutkan “seseorang yang melakukan kebaikan dalam bulan Ramadhan sama halnya dengan melaksanakan satu kewajiban di luar Ramadhan. Sabda Nabi Saw ini beliau sampaikan dalam ceramahnya di akhir bulan Sya’ban. “Wahai orang-orang, sungguh bulan agung, bulan penuh berkah akan menaungi kalian semua…”. Beberapa kalangan berkeyakinan hadits dari jalur Salman Al Farisi lemah (dha’if). Bahkan ada yang dengan tergesa-gesa menyebutnya sebagai hadits yang dipalsukan (maudhu’). Beberapa yang lain menganggapnya berada dalam derajat hasan sebab adanya syawahid (penguat).
Penjelasan tentang keutamaan Ramadhan juga ada di sumber-sumber lain. Melalui hadits riwayat Imam Al Tirmidzi, di bulan Ramadhan pula, kita bisa menemukan beberapa kebaikan sekaligus. Nabi Saw menyampaikan, Allah Swt menyediakan satu ruangan khusus dalam surga untuk orang dengan kriteria tertentu. Surga tersebut diperuntukkan bagi dia yang berucap santun (طيب الكلام), dia yang mau mendermakan makanan / hartanya (إطعام الطعام), dia yang melakukan puasa (مداومة الصيام) dan bagi dia yang bertahajjud atau melakukan solat malam (قيام الليل والناس نيم).
Jika demikian, ekspresi kegembiraan, keriangan dan bersukacita dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan sesungguhnya adalah bagian dari keistimewaan bulan Ramadhan itu sendiri. Menyambut Ramadhan yang istimewa menggabungkan dua dimensi persiapan sekaligus, yaitu persiapan lahir-material dan persiapan batin-spiritual, demi menggenapkan keistimewaan Ramadhan.



