Wali Allah (waliyullah) adalah seorang yang hidup sebagaimana layaknya orang biasa lainnya. Mereka makan, minum, tidur, menikah, bergembira, bersedih, sakit, serta melewati apa yang manusia biasa lewati. Maka dari itu, para waliyullah itu tidaklah nampak, karena mereka berjalan ditengah-tengah manusia. Penjelasan Syekh Yusri Rusydi dalam majlis Hikam yang diadakan di Masjid Asyraf Kairo.
Beliau juga menambahkan sebagaimana kita terhijab dari melihat Allah dengan alam semesta ini, begitu pula para waliNya, kita tidak bisa melihat mereka karena kita terhijab akan perkara dunia ini, sehingga tidaklah kita bisa melihat Allah kecuali melalui ciptaanNya, yaitu alam seisinya.
Sebagaimana Nabi bersabda:
تفكروا فى خلق الله ولا تفكروا فى ذات الله
Yang artinya “Bertafakkurlah kalian akan ciptaan Allah, dan janganlah kalian berpikir tentang Dzat Allah” (HR. Thabrani).
Alam semesta dan isinya ini dalam bahasa Arab disebutkan dengan kata “العالم” yang artinya adalah tanda, suatu petunjuk. Hal ini tidak lain karena alam ini sebagai petunjuk bahwa ada Dzat yang telah menciptakannya, yaitu Allah SWT.
Syekh Yusri hafidzahullah menjelaskan, begitu pula dengan wali Allah. Agar kita bisa melihat mereka, maka kita harus melihat kepada sebuah hakikat. Jika tidak, maka kita tidak akan bisa mengenal mereka meski kita hidup beratus-ratus tahun lamanya. Bisa jadi seorang istri tidak tahu kalau suaminya adalah seorang waliyullah, begitu pula seorang anak, tidak tahu kalau bapaknya termasuk waliyullah. Hal ini dikarenakan apa yang mereka lihat hanyalah rutinitasnya. Yang mereka kira adalah manusia biasa, karena mereka tidak melihat rahasia kekhususan seorang wali pada dirinya.
Beliau menambahkan apabila Allah menghendaki kebaikan untuk dirimu, maka Allah akan membukakan rahasia kekhususan ini untukmu. Sebagaimana ketika Allah telah menghendaki kebaikan bagi orang yang beriman, mereka akan melihat kenabian pada diri Nabi dan tidak melihat Nabi sebagai manusia biasa, sehingga mereka beriman kepadanya.
Karena para waliyullah itu adalah pewaris para nabi, dan nabi itu manusia yang memiliki rutinitas seperti khalayak manusia, maka orang yang tidak melihat dengan mata hakikat, dia akan mengatakan mereka adalah manusia biasa, bukan seorang nabi. Begitu halnya ketika mereka melihat seorang waliyullah. Orang kafir mengatakan tentang Nabi Muhammad SAW dengan sifat manusianya. Allah menjelaskan tentang pandangan orang kafir terhadap para nabi-Nya alaihimussalam “هل هذا إلا بشر مثلكم”. Yang artinya “tidaklah ia melainkan manusia biasa seperti kalian” (QS. An-Anbiya 3). Sambung Syekh Yusri dalam penjelasannya.
Allah telah memperlihatkan kepada kita tentang rahasia kekhususan seorang wali, yaitu dari segi kehidupannya, pandangannya terhadap dunia, akhlaknya, mustajab doanya, serta ketenangan yang kita dapatkan ketika melihat kepadanya sehingga kita langsung berdzikir kepada Allah.
Para waliyullah itu, hanya dengan melihatnya dan tanpa berucap kepada kita, maka kita akan ingat kepada Allah, yang ahli maksiat akan tergerak untuk bertaubat, mendidik kita dengan pandangannya, tanpa memerintah dan melarang dengan kata-katanya. Allah berfirman
والله يتولى الصالحين
Artinya “Dan Allah senantiasa menjaga para orang-orang yang salih” (QS. Al-A’raf 196), yaitu para wali-Nya.
Syekh Yusri menambahkan, selagi jiwa kamu suci, dan tidak ada perasaan sombong ataupun merasa paling suci, maka Allah akan memperlihatkan dan mengenalkan para wali-Nya kepada kamu. Jika kamu ingin mengenal wali Allah tetapi kamu masih belum memiliki sifat-sifat ini, maka pergilah kepada para wali Allah yang sudah meninggal, maka kita akan melihat para wali Allah yang masih hidup datang untuk menzirahi mereka. Maka dari itu, orang-orang salih suka untuk menghadiri perayaan haul para wali, karena di situlah berkumpullah rohani para wali, sehingga dirinya berharap untuk naik derajat atas keberkahan para wali tersebut.
Syekh Yusri selalu mengajarkan kepada kita sebuah doa untuk dibaca di mana saja kita berada, yaitu
“يا رب العالمين حببنى إليهم وحببهم إلي اللهم اللهم عرفنى بأولياءك فى هذا المكان وفى كل مكان
Yang artinya “Wahai Allah, kenalkan hamba ini dengan para wali-Mu yang berada di tempat ini dan di manapun mereka berada. Ya Allah, jadikanlah hamba untuk senantiasa dicintai oleh mereka, dan jadikanlah mereka orang-orang yang senantiasa hamba cintai, wahai Allah Dzat pemilik semesta alam.”
Beliau menambahkan bahwa tidaklah pada setiap masa dan tempat kecuali Allah menempatkan wali-Nya di sana. Maka dari itu, janganlah kita menyakiti para wali Allah, dengan tidak menyakiti sesama orang mukmin. Hormatilah mereka semua, karena kita tidak tahu satu persatu di antara mereka. Nabi bersabda:
من عاد لى وليا فقد آذنته بالحرب
Yang artinya “Barang siapa yang memusuhi kekasihku, maka sesungguhnya saya telah menyiapkan perang dengannya” (HR. Bukhari).
Maka, apabila kita telah menyakiti seorang mukmin, maka minta maaflah kepadanya, dan doakanlah kebaikan untuk dirinya. Janganlah menganggap dirimu paling suci, dan janganlah menyakiti orang mukmin, maka kamu akan melihat para wali Allah.
Wallahu A’lam.



