Ilustrasi gambar Pembaharuan Islam di Indonesia

Awal abad ke-20 menjadi periode krusial bagi arah sejarah gerakan pemikiran pembaruan Islam di Indonesia. Arus penyegaran pemikiran ini berhembus kuat dari Timur Tengah, dengan Mesir sebagai pusat episentrumnya. Nama-nama besar seperti Sayyid Jamaluddin al-Afghani, Sheikh Muhammad Abduh, dan Sayyid Muhammad Rashid Rida diakui sebagai motor penggerak utama. Transmisi keilmuan ini terjalin erat melalui jaringan guru dan murid yang melintasi batas samudra.

Dalam bentang sejarah ini, Majalah Al-Manar yang terbit di Kairo memainkan peran strategis. Majalah ini berfungsi sebagai jembatan intelektual yang menghubungkan pemikiran pembaru Mesir dengan wilayah Muslim di Nusantara. Melalui lembar-lembar kertasnya, Al-Manar tidak hanya menyebarkan gagasan. Publikasi ini sukses memicu lahirnya berbagai media pers Islam lokal yang mengusung semangat serupa. Jaringan media ini pada akhirnya membentuk opini publik Muslim dan mengubah arah identitas Islam di tanah air.

Majalah Al-Manar dan Jaringan Intelektual Nusantara

Pengaruh majalah Al-Manar di wilayah Hindia Belanda kala itu begitu masif. Pemerintah kolonial Belanda yang cemas akan potensi subversi politik Islam sempat melarang keras peredarannya. Kendati demikian, larangan tersebut tidak mampu membendung arus literasi pembaruan ini. Sejarawan Prof. Azyumardi Azra mencatat ada tiga jalur utama masuknya gagasan Al-Manar ke Indonesia:

  1. Jalur Penyelundupan: Majalah diselundupkan lewat pelabuhan-pelabuhan kecil yang luput dari pengawasan ketat bea cukai kolonial, salah satunya Pelabuhan Tuban di Jawa Timur.
  2. Jalur Jemaah Haji: Sejak abad ke-16, Haramain (Makkah dan Madinah) menjadi pusat jaringan Muslim dunia. Jemaah haji yang pulang membawa serta majalah ini sebagai literatur berharga.
  3. Jalur Alumni Timur Tengah: Para lulusan lembaga pendidikan di Mesir dan Makkah membawa pulang gagasan segar ini secara langsung ke kampung halaman mereka.

Peran Syekh Muhammad Tahir Djalaluddin

Ilustrasi Pembaruan Islam di Indonesia
Syekh Muhammad Tahir Djalaluddin (1869–1956 M), pelopor media Islam Al-Imam. Sumber: Wikipedia

Salah satu tokoh utama alumni Timur Tengah yang menjadi agen perubahan adalah Syekh Muhammad Tahir Djalaluddin (1869–1956 M). Ulama karismatik asal Minangkabau ini menempuh pendidikan di Hijaz dan Mesir. Di Makkah, ia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi bersama ulama Nusantara lainnya seperti Syekh Muhammad Djamil Djambek dan Syekh Amrullah Karim Amrullah.

Saat melanjutkan studi ke Mesir, Syekh Tahir banyak menyerap pemikiran reformis Sheikh Muhammad Abduh dan menjadi murid langsung dari Sayyid Muhammad Rashid Rida. Sekembalinya dari Mesir, terinspirasi oleh Al-Manar, ia mendirikan sekolah Al-Iqbal al-Islamiyyah di Singapura sebagai bentuk adaptasi kurikulum modern Al-Azhar.

Puncak kontribusinya mewujud saat ia bersama Syed Sheikh bin Ahmad al-Hadi mendirikan majalah Al-Imam di Singapura pada 23 Juli 1906. Majalah Al-Imam menjadi replika sekaligus agen resmi pembaruan Islam. Mereka menerjemahkan artikel-artikel Al-Manar, menyajikan berita dunia Islam internasional, serta menulis esai sains dan teknologi dengan memadukan bahasa Melayu klasik dan istilah Arab.

Majalah Al-Munir: Fajar Baru Pers Islam di Indonesia

Semangat literasi dari Singapura segera menjalar ke Sumatra Barat. Terinspirasi oleh pergerakan Syekh Tahir Djalaluddin, Syekh Abdullah Ahmad (1878 M) mendirikan majalah Al-Munir pada tahun 1910 di Padang. Nama Al-Munir memiliki arti “pelita” atau “penerang”. Media dua minggu sekali ini lahir dengan misi menjadi cahaya pemandu bagi umat Islam yang sedang terkungkung penjajahan Belanda melalui pintu ijtihad.

Secara struktural, dapur redaksi Al-Munir diisi oleh tokoh-tokoh hebat. Di antaranya adalah H. Abdul Karim Amrullah (ayah dari Buya Hamka), H.M. Thaib Umar, dan Sutan Muhammad Salim. Konten Al-Munir sangat beragam, mulai dari biografi Nabi, pembahasan hukum mazhab, hingga saduran tulisan Rashid Rida.

Info Sejarah Islami: Majalah Al-Munir memiliki sebaran pembaca yang sangat luas hingga ke Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Semenanjung Malaya. Bahkan, KH. Ahmad Dahlan—pendiri Muhammadiyah—dikenal sebagai salah satu pembaca setia majalah ini yang ikut terinspirasi dalam melakukan gerakan pembaruan Islam di Yogyakarta.

Meski gedung percetakannya terbakar pada tahun 1912 yang menyebabkan majalah ini terpaksa berhenti terbit, api perjuangannya tidak padam. Redaksi meninggalkan pesan terakhir yang mendalam: “Al-Munir tak dapat berlanjut lagi. Namun, kepada pembaca dan masyarakat Islam dianjurkan agar terus menambah ilmunya dengan rajin membaca.”

Transformasi Pendidikan dan Lahirnya Gerakan Sosial Islam

Gagasan pembaruan lewat tulisan ini memicu reformasi konkret di bidang pendidikan. Tradisi awal pendidikan Islam tradisional di Indonesia semula berpusat di surau atau pesantren dengan sistem yang mirip dengan pengajaran awal di Masjid Al-Azhar Kairo sebelum era modern (ditandai dengan adanya Riwaq al-Jawi). Tokoh seperti Mbah Kiai Abdul Mannan Dipomenggolo (pendiri Pesantren Tremas Pacitan) tercatat sudah belajar di Al-Azhar sejak tahun 1850-an.

Namun, masuknya arus modernisasi Mesir mengubah lanskap tersebut. Sheikh Muhammad Abduh menginisiasi reformasi kurikulum Al-Azhar dengan memasukkan sains, matematika, dan filsafat. Di Indonesia, langkah ini ditiru secara adaptif. Syekh Abdullah Ahmad mendirikan HIS Adabiyah dan memelopori Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) se-Minangkabau.

Langkah reformasi ini merupakan jawaban atas diskriminasi politik etis Belanda yang menciptakan dualisme pendidikan. Guna mempertahankan eksistensi umat, institusi Islam mulai memodernisasi sistem klasikalnya. Lembaga pendidikan tradisional seperti Surau Jembatan Besi bertransformasi menjadi Madrasah Sumatra Thawalib yang mandiri secara ekonomi berkat unit usaha Koperasi Sabun.

Gerakan ini memicu lahirnya organisasi sosial-politik modern seperti PERMI (Persatuan Muslim Indonesia), Al-Irsyad, Muhammadiyah, hingga kelak melahirkan Partai Masyumi dan PERTI. Pola pergerakan pemikiran ini membuktikan bahwa persuratkabaran dan literasi media adalah motor utama penggerak roda pembaruan Islam di Indonesia yang efeknya kita rasakan hingga hari ini.

Referensi:

  • Azra, Azyumardi. (2013). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana.
  • Azra, Azyumardi. (1999). The Transmissions of al-Manar’s Reformism to the Malay-Indonesian World: The Case of al-Imam and al-Munir. Studia Islamika.
  • Noer, Deliar. (1944). Gerakan Modernisasi Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES.
  • Rusli, Ris’an. (2014). Pembaharuan Pemikiran Modern dalam Islam. Jakarta: PT. Grafindo Persada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas