Dalam Islam, kekuasaan bukan sekadar amanah, tetapi juga ujian yang berat. Banyak pemimpin yang zalim menjadikan jabatan sebagai sarana untuk memperkaya diri, menindas rakyat kecil, dan melupakan keadilan yang seharusnya ditegakkan.
Fenomena semacam ini masih nyata di Indonesia saat ini, di mana korupsi, penyalahgunaan wewenang, serta gaya hidup mewah pejabat yang kontras dengan penderitaan masyarakat kecil kerap menghiasi berita. Sejarah mencatat dan membuktikan bahwa kezaliman tak pernah abadi. Balasan dari Allah datang dengan cara yang tak terduga.
1. Fir’aun: Simbol Keangkuhan Kekuasaan
Fir’aun, penguasa Mesir yang menentang Nabi Musa, adalah contoh klasik pemimpin zalim. Ia memperbudak Bani Israil dan bahkan mengklaim dirinya sebagai Tuhan:
فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلْأَعْلَىٰ
“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24)
Namun, ketika ia mengejar Nabi Musa dan kaumnya, Allah menenggelamkannya di Laut Merah. Bahkan saat ia mencoba beriman di detik terakhir, malaikat Jibril menjejali mulutnya dengan lumpur laut agar ia tidak sempat mengucap kalimat tauhid.
2. Namrud: Raja yang Ditaklukkan Seekor Nyamuk
Namrud, penguasa Babilonia, menantang Allah dan membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup. Ia pun mengklaim bisa memberi hidup dan mati. Balasannya? Seekor nyamuk masuk ke otaknya dan menggerogotinya perlahan hingga ia mati dalam penderitaan. Sebuah ironi: raja perkasa ditaklukkan oleh makhluk kecil yang tak terlihat.
Baca Juga: Kisah Inspiratif: Pemimpin yang Pro terhadap Rakyat

3. Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi: Ketegasan yang Berujung Murka
Al-Hajjaj dikenal sebagai gubernur yang menumpas pemberontakan dengan kekerasan, bahkan menyerang Ka’bah demi menundukkan Abdullah bin Zubair. Ia juga menindas banyak ulama dan rakyat Irak. Meski berjasa dalam administrasi, banyak ulama menyebutnya sebagai pemimpin zalim. Ibnu Katsir mencatat dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah:
“Ia adalah seorang yang amat membenci keluarga Ali karena kecenderungannya kepada Bani Umayyah. Ia angkuh, berani menumpahkan darah hanya karena kesalahan yang samar, dan dikenal dengan ucapan-ucapan yang keji.”
Ia wafat dalam kesakitan, dan rakyat bersorak gembira atas kematiannya.
4. Khalifah Al-Mustakfi: Boneka Kekuasaan yang Dilengserkan
Pada abad ke-4 Hijriyah, Baghdad dilanda krisis. Harga-harga melonjak, keamanan memburuk, dan rakyat hidup dalam ketakutan. Di tengah kekacauan itu, Khalifah Al-Mustakfi justru tampil lemah dan tidak mampu mengendalikan pemerintahan. Kekuasaan sejati berada di tangan panglima militer dan pejabat ambisius yang mempermainkan kebijakan negara.
Rakyat kecewa. Mereka melihat sang khalifah hanya sebagai simbol kosong, bukan pemimpin sejati. Ketika Muʿizz ad-Dawla dari Dinasti Buyid masuk Baghdad dengan kekuatan militer, rakyat tidak melawan. Mereka justru berharap kekuatan baru bisa membawa ketertiban. Al-Mustakfi pun dilengserkan, menjadi pelajaran bahwa pemimpin yang lalai akan kehilangan kepercayaan rakyat.
Refleksi untuk Indonesia: Ketika Rakyat Merindukan Keadilan

Fenomena kezaliman pemimpin bukan hanya milik masa lalu. Di Indonesia, masyarakat kerap menyuarakan keresahan terhadap praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan hukum. Ketika hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, rakyat mulai bertanya: di mana keadilan?
Kisah para pemimpin zalim dalam sejarah Islam mengajarkan bahwa kekuasaan yang disalahgunakan akan berujung pada kehancuran. Fir’aun tenggelam, Namrud mati oleh nyamuk, dan Al-Hajjaj wafat dalam murka rakyat. Semua itu menjadi peringatan bahwa Allah tidak tidur. Seperti firman-Nya:
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱللَّهَ غَٰفِلًا عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّٰلِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ ٱلْأَبْصَٰرُ
“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim.” (QS. Ibrahim: 42)



