Makna Idul Fitri Bagi Perempuan

Bagi anak-anak, hari raya Idul Fitri menghadirkan kegembiraan tersendiri. Riuh petasan malam takbiran, bisa kembali makan sepuasnya di pagi hari, berbaju baru, semangat silaturahim karena pulangnya akan membawa banyak uang lebaran. Hari di mana semua berbahagia dan tidak ada kesedihan.

Bagi orang dewasa, hari raya  merupakan pertaruhan harga diri untuk berani memaafkan seteru kita. Dalam sebuah pertengkaran, yang paling penyayang adalah yang meminta maaf, bukan yang paling banyak salahnya. Orang paling penyayang adalah orang yang mampu memaafkan, bahkan ketika ia mampu membalas. Karenanya, orang yang paling banyak mendapat maaf dari Allah, adalah orang yang banyak memaafkan orang lain.

Bagi perempuan dengan beragam pengalaman-pengalamannya, ia akan membawa kisahnya sendiri-sendiri. Perempuan pekerja akan berharap kontraknya terus diperpanjang oleh perusahaan dan berharap-harap dengan bahagia diberikan Tunjangana Hari Raya (THR), di sisi lain banyak perempuan lain tengah santai rebahan sambil belanja online tanpa sibuk berjibaku dengan debu jalanan.

Perempuan yang tidak lagi memiliki pasangan, di mana ia harus berjuang seorang diri mempertahankan kelangsungan kehidupan keluarganya di masa-masa mendatang. Di sisi lain ada banyak perempuan yang masih memiliki sosok penopang ekonomi utama, sehingga ia tidak begitu susah payah mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dan bisa fokus sepenuhnya pada tumbuh kembang anak-anaknya.

Perempuan lajang, saat hari raya sering ditanya kapan menikah, padahal usaha yang sudah dilakukan bukan main, bahkan sudah pada titik menghilangkan rasa malu. Setiap kolega dan saudara bahkan kyai sekalipun sudah dimintai pertolongan dengan harapan menjadi perantara bertemunya jodoh.

Perempuan berkeluarga tak luput dari incaran pertanyaan kapan punya momongan. Padahal mereka tak putus berikhtiar demi mendapatkan keturunan. Segala saran coba direalisasikan. Upayanya juga beragam, ada yang perlu menabung demi bisa sekedar konsultasi ke Dokter kandungan. Ada yang cukup mampu melakukan program inseminasi buatan (bayi tabung).

Seorang ibu dari anak anak kadang juga terus ditanya kapan menambah momongan. Memang secara kodrati perempuan memiliki rahim, tetapi secara ikhtiari perlu diatur sedemikian rupa, dan kesiapan dalam hal ini setiap keluarga pasti berbeda-beda.

Kembali fithrah berarti meyakini sepenuhnya bahwa Allah adalah penolong. Allah dalam firman-Nya menyeru perempuan secara eksis, bahkan beberapa wahyu diturunkan juga karena perempuan. Kembali fithrah artinya meyakini sepenuhnya bahwa Allah tidak pernah merendahkan perempuan. Allah justru mengajarkan konsep egaliter bahwa manusia (baik laki-laki maupun perempuan) terbaik adalah yang paling bertaqwa di hadapan-Nya.

Perempuan pekerja yang berada di ranah publik, Ibu Rumah Tangga yang sigap menyelesaikan urusan domestik, perempuan yang masih lajang, janda yang membesarkan putra putrinya seorang diri, perempuan menikah tapi belum memiliki keturunan maupun seorang ibu seluruhnya mengemban amanah sebagai hamba Allah. Ridha dengan segala ketentuan Allah merupakan bentuk ketaatan terbesar kepada Allah. Manusia sutuhnya dihargai keunikan fisik, fikiran, perasaan dan kondisinya bukan sebagai standar tunggal kebaikan mereka. Setiap orang dituntut menjadi versi diri yang terbaik sesuai kemampuan sehingga bisa memberikan kemanfaatan secara optimal di sekitarnya.

Mari kita rayakan idul fitri dengan secukupnya, tapi tidak dengan mental kemenangan. Karena mental kemenangan itu justru bisa membuat kita tidak waspada di ujian 11 bulan lainnya. Semoga momen Ramadhan memudahkan kita untuk segera kembali kepada-Nya saat tergelincir (min al ‘aidin) dan memenangkan pertarungan melawan keinginan diri untuk berbuat dzalim (wal faizin)

Tags :

Farida Ulvi Na'ima

Aswaja NU Center Sidoarjo, JP3M Nusantara, ADP IKA PMII, Aktivis Perempuan

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network