Bulan Ramadhan sebentar lagi usai. Berakhir. Meninggalkan kebahagiaan atau bahkan kesedihan. Bahagia sebab berhasil mengeksploitasi bulan Ramadhan dengan baik. Bagi mereka yang berbahagia, bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk menghidupkan kembali suasana hati atau alam batinnya. Ini yang tergambar dalam satu syair, “Sesiapa yang tak kunjung menghidupkan hatinya dalam bulan Ramadhan, maka kapan lagi dia akan melakukannya? Dan sesiapa tak segera memperkokoh keimanannya di bulan Ramadhan, maka kapankah dia akan segera menebalkan keimanannya?”
Bahkan Ramadhan juga serupa ladang subur untuk menyemai bibit-bibit ibadah yang dengan mudah akan cepat dipanen. Ibadah di dalam bulan Ramadhan bermacam-macam. Selain puasa, ada solat, qiyam al layl, membaca al Quran, sedekah, i’tikaf dan dzikir. Aneka ragam ibadah tersebut jika dilaksanakan dengan kesungguhan, maka akan membawa dampak besar bagi seorang hamba dalam perjalanan spiritualnya. Dampak atau pengaruh inilah yang mendapat penjelasan dari Maulana Syaikh Muhammad Abdusshomad Muhanna. Menurut ulama Al Azhar sekaligus pendiri Bait Muhammadi Mesir ini, bulan Ramadhan hadir dalam rangka memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhannya, sesamanya dan bahkan alam semesta. Artinya, semua ibadah yang dilaksanakan di bulan Ramadhan dengan sesuai ketentuan syariat akan berfungsi menghubungkan dan mengikat dimensi-dimensi rohani alam semesta dan manusia dengan Allah Swt. Seseorang yang berhasil mempertautkan aspek spiritualitasnya dengan alam beserta Allah Swt akan mempunyai keyakinan paripurna terhadap eksistensi Allah Swt.
Melalui penjelasannya tersebut, Maulana Syeikh Muhammad Muhanna hendak menegaskan bahwa bulan Ramadhan yang baik harus dijalani dengan memperhatikan dua aspek sekaligus: aspek individual dan aspek sosial. Bulan Ramadhan tidak bisa hanya menitikberatkan pada aspek individual semata. Keduanya harus berseiringan. Seseorang yang berpuasa tidak boleh hanya sibuk dengan ibadah personal atau privat namun abai dengan ibadah yang berdampak sosial atau komunal. Cara pandang utuh (holistik) semacam ini akan menutup kemunculan fenomena di masyarakat: seseorang tidak melakukan solat, namun berpuasa. Seseorang berpuasa namun masih menyakiti sesamanya atau seseorang tidak berpuasa namun menunaikan zakat fitrah dan ikut merayakan Idul Fitri. Maka, bulan Ramadhan yang berkualitas adalah bulan Ramadhan yang menggabungkan dimensi sosial dan personal sekaligus.
Semangat semacam inilah yang sesungguhnya terinspirasi dari hadith Nabi Saw, “Perumpamaan seseorang yang mengajarkan kebaikan pada orang lain namun melupakan dirinya seperti sumbu pelita yang menerangi manusia namun membakar dirinya.” Atau dalam bahasa ‘provokatif’ Mushtafa Shadiq Al Rafi’i (1298-1356H) dalam bukunya Wahy Al Qalam menyebutkan, “Satu kesalahan terbesar seseorang adalah terlalu peduli dengan kehidupan orang lain namun tutup mata dengan krisis dalam dirinya sendiri.”

Kebiasaan dan perilaku baik selama Ramadhan tentu tak boleh berhenti begitu saja. Inilah yang dimaksudkan sebagai “living Ramadhan”. Spirit kebaikan bulan Ramadhan harus senantiasa hidup dan berdenyut dalam pribadi setiap muslim. Kebaikan di bulan Ramadhan harus menyala terus, ajeg dan tidak boleh lenyap. Hilang di bulan bulan lainnya seperti tanpa bekas. Sebagaimana dikutip oleh Ibn Rajab dalam Latha’if al Ma’arif fima li Mawasim al ‘Am min al Wadzha’if, seorang ulama besar abad ketiga Hijriyah, Bisyr ibn al Harith al Hafiy (152-227H) memberikan pedoman bahwa muslim yang saleh adalah yang ibadah dan kualitas ibadahnya berlangsung sepanjang tahun. Bukan mereka yang bersemangat hanya di bulan Ramadhan saja. Lebih lanjut menurutnya, “sejelek-jeleknya orang adalah mereka yang hanya mengenal Allah Swt di bulan Ramadhan.” Nasehat Bisyr al Hafi ini mengarah pada mereka yang gigih dan mati-matian beribadah di bulan Ramadhan namun ceroboh dan tak lagi memedulikan keadaan ibadah dan perilakunya di luar bulan Ramadhan.
Abu Bakr Al Syibli (247-334H) juga menyatakan hal senada. Masih berdasarkan kutipan Ibn Rajab, sewaktu ditanya manakah yang lebih baik antara bulan Rajab atau Sya’ban, Al Syibli menegaskan, “jadilah kalian sebagai pribadi Rabbani! Bukan menjadi pribadi Sya’baniyy!” Pribadi Rabbani yang dimaksudkan adalah pribadi yang dalam melaksanakan ibadah tidak pragmatis. Sekalipun beberapa waktu mempunyai kelebihan dan keutamaan dalam konteks pelaksanaan ibadah, namun jangan bersikap sekadarnya dalam waktu waktu yang tidak memiliki keutamaan. Bersemangat di satu waktu dan malas serta penuh keengganan di waktu lain adalah wujud “pribadi Sya’baniyy”. Prinsip al Syibli ini menarik sebab mengajarkan sebentuk filosofi dimanapun dan kapanpun, laksanakan kebaikan dengan penuh dedikasi. Prinsip tersebut dibahasakan dalam salah satu syairnya dengan, “jika sedang sendiri dalam pertempuran melawan hawa nafsu, jadikan tiap jengkal bumi yang dipijak sebagai medan pertempuran!”
Konsistensi dalam berbuat kebaikan dan menjalankan ibadah sesungguhnya sebentuk philoshophische grondslag (jika meminjam istilah Soekarno): ‘dasar filosofis’ penghambaan manusia. Hal ini menemukan penguatnya dalam penjelasan Imam Fakhr al Din al Razi (544-604H) dalam magnum opus-nya yang bertajuk Mafatih al Ghayb. Sewaktu menafsirkan ayat وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ (al-Hijr:99) Imam Al Razi menyatakan, “sembahlah Tuhan-mu dalam hidupmu dan jangan sia-siakan momen kehidupan dengan meninggalkan ibadah!” Keterangan al Razi semakin mengukuhkan pendapat Hasan al Bashri (21-110H) yang dengan tegas menyatakan, “tak ada batasan bagi seorang mukmin dalam beribadah kecuali kematian.”
Bulan Ramadhan akan mengucapkan perpisahan dan akan kembali lagi. Namun entah bagi kita manusia? Apakah Allah Swt menakdirkan kita berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan mendatang. Mungkin kita yang beruntung dalam bulan Ramadhan kali ini. Atau justru yang gagal total. Tetapi sesungguhnya bulan Ramadhan tak pernah benar-benar pergi sebab nyala dan semangatnya akan terus ada dalam jiwa setiap mukmin. Ied Mubarak! Kullu sanah wa antum thayyibun.
Leler, 29 Ramadhan 1445H
*Khadim Bayt Mohammadi Indonesia



