Tradisi Baik Tarawih di desa Nimrah Bashal (Mesir)

Desa Nimrat Al Basal terletak di provinsi Al Gharbiyah, termasuk salah satu Kegubernuran di Mesir yang terletak di tengah delta sungai Nil. Wilayahnya berbatasan dengan Kafr Ash-Shaykh di Utara, Al-Minufiyah di Selatan, Al-Buhayrah di Barat, Al-Qalyubiyah, Ad-Daqahliyah di Timur. Desa ini melahirkan banyak ulama mazhab Syafi’i dan juga ahlul qur’an secara turun temurun di Mesir dari keluarga Syahawi, disemayamkan juga didalamnya Syeikh Muhammad Syahawi yaitu guru dari Imam Suyuthi, juga Syeikh Abdul Hamid Syahawi guru dari guru mulia Syeikh Abdul Aziz Syahawi.

Seperti halnya di desa-desa Indonesia yang mempunyai tradisi membaca shalawat dan juga taradhdhi yang diucapkan untuk mendoakan empat khalifah pengganti Rasulullah saw, disini juga mempunyai tradisi yang sama seperti itu di sela shalat tarawih yag sudah ada sejak dahulu kala dan diwariskan secara turun temurun.

Adapun bacaan yang dibaca adalah :
Pertama : memulai ibadah tarawih dengan bershalawat kepada Rasulullah ﷺ
نَبْدأُ بالصلاةِ والسلامِ على الهادي شفيعِ الأنامِ، صلوا يا حُضَّار، على النبيِّ المُخْتارْ، صاحبِ الأنوار وسَيِّدِ الأَبْرارْ، القمرُ لأجلهِ انتَصَفْ، عفا الله عما سلفْ
Setelah rakaat ke empat bilal membaca pujian dan mendoakan khalifah pertama Sayyiduna Abu Bakar as Shiddiq ra, :
ومَن بعدَه الصديقْ، الشفيقُ الرفيقْ، رفيق ونعمَ الرفيقْ، صاحبُ المُختارْ، ومُؤنِسُهُ في الغَارْ، أَمينُ الأسرارْ، خليفة ونِعمَ الخلفْ، عفا اللهُ عما سَلَفْ.
Setelah rakaat ke delapan bilal membaca pujian dan doa untuk khalifah ke dua sayyiduna Umar bin Khattab ra, :
الأميرُ بعدَه، المَوْلى فَارَضَ حُبَّهْ، زينةُ الأصحاب، حاكمٌ بالكتابْ، ناطقٌ بالصوابْ، سيدُنا عمرُ بن الخطابْ، خليفة
ونعم الخَلَفْ، عفا الله عما سلفْ.

Setelah rakaat ke dua belas bilal membaca pujian dan doa untuk khalifah ke tiga sayyiduna utsman bin affan ra, :
ثم نمدَحُ ثالثَهم مَن بالخير جالسَهم، حبيبَ الرحمنْ، عدوَّ الشيطانْ، جامٍعَ القرآنْ، سيدَناَ عثمانْ، خليفة ونعم الخَلَفْ، عفا اللهُ عما سلفْ.
Setelah rakaat ke enam belas bilal membaca pujian serta doa untuk khalifah ke empat sayyiduna Ali karramallahu wajhah :
الرابعُ وصِيُّهُ سيدُنا عَلِيْ، وَليّ ونعمَ الوَلِيْ،صاحبُ القَبُولْ، ناصِرُ الرَّسولْ، وزَوجُ البَتُولْ، سيفُ اللهِ المَسْلُولْ، مَقامُه في أرضِ النَّجَفْ، عفا اللهُ عما سَلَفْ.
Selain juga diselingi di antara tarawih dengan tiga kali shalawat kepada baginda Nabi Muhammad saw, secara berjamaah.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد

Ada juga di beberapa desa di Mesir yang menambahkan membaca surat al ikhlas secara berjamaah di sela-sela rakaat tarawih. Lalu bagaimana hukumnya ?

Maulana Syeikh Abdul Aziz Syahawi memberikan jawaban dalam permasalahan ini, beliau berkata :
قال شيخنا : ” كل شيء إذا كان أصله في الشرع الاستحباب فلا يعد فعله بدعة كالمصافحة عقب الصلاة. والصلاة على سيدنا النبي صلى الله عليه وآله وسلم والترضي على الصحابة رضوان الله عليهم بين ركعات التراويح أمر جائز ومشروع لا حرج فيه، ومما يشهده أن الدعاء بعد السلام مشروع ومطلوب. والله سبحانه وتعالى أعلم.
Segala sesuatu yang asli hukumnya sunnah seperti halnya bersalam-salaman setiap selesai shalat maka tidak dikatakan bid’ah jika dilakukan (di waktu manapun). Bersholawat terhadap Nabi Muhammad Saw, dan taradhi (mendoakan empat khalifah arrasyidin) di sela-sela tarawih merupakan perkara yang boleh dan dianjurkan, tidak ada masalah di dalamnya. Adapun dalil yang mendukungnya adalah disunnahkahnya berdoa setelah salam.

Dalam kesempatan lain beliau pernah berkata :
Hal ini diperkuat dengan hukum asli bershalawat dan mendoakan sahabat. membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw, dalam mazhab syafi’i adalah wajib pada waktu duduk di akhir shalat (duduk tahiyyat akhir) antara ucapan tasyahud dan salam dan hukum ini yang dipilih oleh Imam Syafi’i. Terlepas dari banyaknya pendapat tentang hukum bershalawat yang ada, hendaknya kita selalu membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw, sebagai ta’dzim kita sebagai umat beliau, dan agar mendaptkan syafa’atnya kelak di hari kiamat.

Taradhi (mendoakan) sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in dan ulama hukumnya adalah sunah seperti yang dikemukakan oleh Imam Nawawi. Sebagaimana guru-guru kita juga selalu mengajarkan untuk mendoakan para sahabat setiap kali nama-nama mulia itu disebut, khususnya ketika membaca nama para sahabat yang meriwayatkan hadist karena dengan menyebut nama orang-orang mulia akan turun rahmat Allah swt.

Hukum bershalawat berdasar pada perintah Allah di dalam al Qur’an :
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu membaca shalawat kepada Nabi.”
Ayat ini mengandung perintah secara mutlak dan tidak terikat dengan zaman, tempat, perorangan dan juga keadaan. Kecuali apabila ada sebuah perintah yang mengkhususkan untuk melakukan hal tersebut maka yang paling utama adalah suatu amalan yang warid dikhususkan di waktu tersebut.

Sebagaimana membaca al Qur’an adalah wirid yang paling baik, namun menjadi kurang apabila dibaca usai shalat, karena adanya dalil wirid khusus setelah shalat, begitu juga bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad lebih afdhal dari pada membaca al Qur’an di malam jum’at dan harinya, karena adanya perintah untuk memperbanyak amalan tersebut.

Juga diperkuat dengan perkataan Imam Syafi’i yang menganjurkan untuk memperbanyak shalawat kepada baginda Nabi Muhammad Saw, setiap hari dan lebih khusus di malam jum’at dan harinya.
قال الإمام الشافعي: «يستحب الإكثار من الصلاة على النبي -صلى الله عليه وسلم- في كل يوم، ويزداد الاستحباب أكثر في يوم الجمعة وليلتها
Amalan membaca sholawat dan mendoakan empat sahabat di sela-sela rakaat tarawih hukumnya boleh, bahkan dianjurkan. Adapun yang tidak melakukannya tidak apa-apa, dan yang melakukanya juga baik. Permasalahan seperti ini tidak harus dibesar-besarkan. Sudah selayaknya menjaga kerukunan lebih diprioritaskan, dan melestarikan tradisi selama itu baik.

Dengan penuh kerendahan hati, pada malam itu beliau sendirilah yang menjadi bilal shalat tarawih dan mempersilahkan salah satu murid beliau untuk menjadi imam tarawih. Lalu berbisik kepada murid tersebut agar bacaan tarawih yang sedang saja, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek, karena melihat kondisi orang desa yang berjamaah, hal itu untuk meringankan dan menarik masyarakat agar mau dan senang ke masjid, karena banyak dari mereka pekerja berat seperti petani, pekerja buruh dll. Di akhir pertemuan beliau mempersilahkan bagi yang ingin mengamalkan tradisi baik ini di langgar atau masjidnya.
Wallahu A’lam bisshowab
18 Ramadhan ,El Mahalla El Kubra Mesir.

Tags :

Ade Rizal Kuncoro

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network