Dalam membaca al-Quran hendaklah para pembaca memperhatikan dimana ia memulai dan kapan ia mengakhiri agar sesuai dengan pembahasan atau kelanjutan makna. Oleh karena itu, dalam mushaf biasanya ditandai dengan huruf ع ‘Ain untuk menunjukkan selesainya suatu kisah / pembahasan dan beralih kepada kisah / pembahasan yang lain.
Tidak semua akhiran juz itu menunjukkan akhir kisah atau pembahasan. Berikut adalah 10 awalan juz yang patut diwaspadai karena masih ada keterkaitan pembahasan dengan ayat akhiran juz sebelumnya:
- Juz Lima (An-Nisa’: 24)
Permulaan juz lima dimulai dengan, “Wal Muhshonãtu (Dan wanita-wanita yang bersuami) dst”. Ayat ini menceritakan tentang wanita-wanita yang haram untuk dinikahi, salah satunya adalah yang sudah bersuami.
Tentunya Tidak nyambung jika memulainya dari sini. Hendaknya memulai dari ayat 23 sebelumnya, “Hurrimat ‘alaikum” (Diharamkan atas kalian) dst”. - Juz Tujuh (Al-Maidah: 83)
Tiba-tiba ayat berbunyi “Wa idzã sami’ú mã unzila ilarrosúli” (ketika mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul – Al Qur’an) dst”. Pertanyaannya, kenapa tiba-tiba mereka, siapakah mereka?
Nah, agar lebih jelas ceritanya, bisa dimulai dari ayat 82: “Latajidanna asyaddan nãsi…”. - Juz Sebelas (At-Taubah: 94)
“Ya’tadzirûna ilaikum” (Mereka beralasan kepada kalian) Siapa mereka? mengapa mereka beralasan?… Mereka adalah orang² munafiq yang enggan untuk berjihad tanpa alasan yang dibenarkan.
Biar nyambung ceritanya, maka sebaiknya dimulai dari ayat 90 yang berbunyi, “Wa jã al mua’dzdzirûna minal a’rõbi” (dan di antara orang-orang arab badui datang kepada Nabi untuk mengemukakan alasan) - Juz Tiga Belas (Yusuf: 53)
“Wa mã ubarriu nafsï” (dan aku tidak menyatakan diriku bebas)
Agar ceritanya nyambung alangkah baiknya dimulai dari ayat 50: “Wa qõlal maliku’tünï bih” (dan raja berkata: bawalah ia kepadaku) - Juz Enam Belas (Al Kahfi: 75)
“Qõla alam aqullak” (Nabi Khidir berkata: Bukankah aku telah berkata padamu).
Agar lebih jelas ceritanya sebaiknya dimulai dari ayat 60 yang menceritakan awal kisah Nabi Musa belajar kepada Nabi Khidir.
Atau sekalian saja kisah pertemuan Nabi Musa & Nabi Khidir dituntaskan sampai pada ayat 82. Karena ayat berikutnya (ayat 83) menceritakan kisah Dzul Qornain. - Juz Dua Puluh (An Naml: 56)
Sebagian pembaca sering tertipu dengan adanya rubu’ (tanda bintang) di Al Qur’an. Pokoknya ada rubu’ maka disitu berhenti dan memulai pada permulaan setelah rubu’ tersebut, contoh: awal juz 20. Meski awal ayat adalah permulaan rubu’ namun maknanya tidak sempurna.
Tiba-tiba awal ayat berbunyi: “Famã kãna jawãba qoumihï illã an qõlü” (Tidaklah jawaban kaumnya melainkan mereka berkata …). Ayat ini adalah jawaban kaum Nabi Luth ketika menolak dakwah beliau.
Supaya lengkap, bisa dimulai pada 2 ayat sebelumnya, yaitu ayat 54, “Wa Lûthon idz qõla liqoumihï…” (dan ketika Nabi Luth berkata kepada kaumnya: …) - Juz Dua Puluh Dua
“Wamay yaqnut” (Barang siapa yang patuh diantara kalian). Permulaan ini juga kurang sempurna.
Solusinya bisa memulai dari ayat 28: “Yã Ayyuhan nabiyyu qul liazwãjika” (wahai nabi, katakanlah kepada istri²mu) agar ceritanya lebih sempurna. - Juz Dua Puluh Lima (Fusshshilat: 47)
Sebenarnya tidak masalah memulai dari awal ayat: “Ilaihi Yuroddu ‘ilmussã’ah” (kepada-Nya lah ilmu tentang hari kiamat itu dikembalikan).
Yang perlu diperhatikan adalah setelah membaca ta’awudz dianjurkan membaca basmalah agar maknanya tidak rancu. Kenapa?
Karena jika memulai bacaan ta’awudz saja. lalu membaca, “Ilaihi yuroddu..”. Maka artinya akan rusak. “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. (lalu awal ayat) Kepadanyalah ilmu pengetahuan tentang kiamat dikembalikan“.
Seakan-akan setanlah yang tahu ilmu tentang kiamat, padahal hanya Allah Ta’ala yang mengetahui. - Juz Dua Puluh Enam (Al Jatsiyyah: 33)
Sekalian saja dituntaskan sampai akhir surat al-Jatsiyah, nanggung banget hanya separuh halaman. Jadi untuk mengawali juz 26 bisa dimulai dari awal surat Al Ahqof. - Juz Dua Puluh Tujuh (Adz-Dzariyat: 31)
Agar lebih sempurna ceritanya bisa dimulai dari ayat 24: “Hal atãka hadïtsu dhoifi ibrõhïmal mukromïn” yang bercerita tentang kisah Nabi Ibrahim kedatangan tamu para malaikat.
Kesimpulannya, mari kita catat dan ingat selalu 10 awalan Juz berikut: 5, 7 11, 13, 16, 20, 22, 24, 26, 27 yang patut diperhatikan cara memulainya, supaya mengaji kita lebih sempurna dan tepat dari segi kisah dan maknanya. karena salah satu inti dari pokok ilmu Al Qur’an adalah Waqaf (berhenti) Wal Ibtida’ (memulai). Semata-mata demi menjaga kemuliaan makna Al Qur’an



