Ilustrasi gambar haji mabrur

Ummul Mukminin Aisyah Ra, suatu waktu, berujar kepada Rasulullah Saw. Halus dan penuh takzim. “Wahai Rasulullah, kami memandang jihad sebagai amal yang paling utama. Tidakkah kami juga berjihad?” Rasulullah Saw menjawab, “Tidak. Akan tetapi, jihad yang paling utama bagi kalian adalah haji yang mabrur.” (HR. al-Bukhari)

Hadis ini adalah argumentasi kokoh. Tentang tingginya kedudukan haji mabrur dalam Islam. Haji bukan sekadar perjalanan ke Makkah. Bukan pula hanya rangkaian ihram, tawaf, sai, wukuf dan melempar jumrah. Lebih dari itu, haji adalah perjalanan iman yang menguji niat, kesabaran, kejujuran serta akhlak seseorang.

Haji merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Kewajibannya berlaku bagi setiap muslim yang telah balig, berakal, merdeka dan memiliki kemampuan. Kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan biaya, tetapi juga kesehatan, keamanan perjalanan serta kecukupan nafkah bagi keluarga yang ditinggalkan. Bagi kebanyakan muslim, haji mungkin hanya dilakukan sekali sepanjang hidup. Karena itu, para ulama menyebutnya sebagai “ibadah al-umr”. Ibadah yang menjadi puncak perjalanan hidup seorang hamba.

Makna Haji Mabrur

Para ulama memberikan beberapa penjelasan tentang haji mabrur. Ada yang memaknainya sebagai haji yang bersih dari dosa dan riya. Ada pula yang menjelaskannya sebagai haji yang disertai kemurahan hati, kepedulian kepada sesama dan akhlak yang baik. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Haji mabrur tidak memiliki balasan selain surga.”  Ketika Rasulullah Saw ditanya tentang ciri haji mabrur, beliau menjawab, “Memberikan makanan dan menyebarkan salam.”

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri perbuatan dosa. Adapun Imam al-Qurthubi menyatakan bahwa berbagai pendapat mengenai makna haji mabrur pada dasarnya saling berdekatan. Kesimpulannya, haji mabrur adalah haji yang ditunaikan sesuai ketentuan syariat dan dilaksanakan dengan cara yang paling baik.

Dari sini dapat dipahami bahwa kemabruran tidak hanya diukur dari sah atau tidaknya manasik. Seseorang mungkin telah menyelesaikan seluruh rukun dan wajib haji. Tetapi kemabrurannya tetap berkaitan dengan niat, sumber biaya, sikap selama perjalanan, hubungan dengan orang lain serta perubahan hidup setelah kembali ke tanah air.

Persiapan haji tidak cukup hanya dengan mempelajari tata cara manasik. Calon jemaah juga perlu menyiapkan hati dan menyelesaikan tanggung jawab yang masih tertunda. Langkah pertama adalah bertobat dengan sungguh-sungguh. Ia perlu menyesali dosa, meninggalkan maksiat, dan bertekad tidak mengulanginya. Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah)

Tobat menjadi pintu awal perjalanan menuju Baitullah. Seseorang datang memenuhi panggilan Allah dengan hati yang ingin dibersihkan, bukan dengan membawa kebiasaan buruk yang tetap dipelihara. Biaya perjalanan haji juga harus berasal dari harta yang halal dan bersih dari syubhat. Tidak selayaknya perjalanan menuju rumah Allah dibiayai dengan harta hasil penipuan, korupsi, riba, atau pengambilan hak orang lain. Harta yang halal merupakan bagian penting dari ketulusan ibadah.

Niat pun harus dijaga. Hati perlu dibersihkan. Dari kotoran dan penyakit. Seseorang berangkat bukan untuk memperoleh gelar dan menaikkan kedudukan sosial. Apalagi memamerkan kemampuan ekonomi atau mencari pujian. Ia berangkat semata-mata untuk memenuhi panggilan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Hanya ketundukan total. Juga kepasrahan paripurna seorang hamba pada Pencipta.

Sebelum berangkat, utang yang telah jatuh tempo perlu dilunasi. Barang titipan harus dikembalikan. Perselisihan dengan orang lain sedapat mungkin diselesaikan. Apabila ada hak sesama manusia yang pernah diambil, ia wajib mengembalikannya atau meminta kerelaan pemiliknya. Calon jemaah juga dianjurkan menulis wasiat, terutama yang berkaitan dengan utang, tanggungan, hak Allah dan hak sesama manusia. Wasiat bukan pertanda buruk. Ia merupakan bentuk tanggung jawab agar tidak ada hak yang terbengkalai apabila terjadi sesuatu dalam perjalanan.

Perjalanan haji tidak boleh membuat seseorang melupakan orang-orang yang ditinggalkan. Ia perlu meminta kerelaan kedua orang tua, guru, kerabat, tetangga dan orang-orang yang selama ini berhubungan dengannya. Berpamitan bukan sekadar memberi tahu rencana keberangkatan. Pada saat itulah seseorang meminta maaf, memohon doa dan berusaha menenangkan hati orang-orang di sekitarnya. Bila pernah terjadi salah paham, keberangkatan haji dapat menjadi kesempatan untuk memperbaikinya.

Ia juga wajib memastikan bahwa kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya telah tercukupi sampai ia kembali. Tidak tepat seseorang berangkat menunaikan ibadah, tetapi meninggalkan keluarga dalam kesulitan. Para ulama juga menganjurkan agar calon jemaah bersedekah ketika hendak berangkat. Sedekah menjadi ungkapan syukur sekaligus permohonan agar Allah memberikan kelancaran dan keselamatan.

Menjaga Akhlak di Tanah Suci

Haji mempertemukan jutaan manusia dari berbagai bangsa, bahasa, kebiasaan dan latar belakang. Dalam keadaan padat, lelah, dan terbatas, kesalahpahaman mudah terjadi. Karena itu, kesabaran menjadi bekal yang sangat penting. Allah melarang rafats, kefasikan dan perdebatan selama haji. Rafats berkaitan dengan ucapan dan perbuatan yang mengarah pada hubungan suami istri ketika ihram. Kefasikan mencakup berbagai bentuk pelanggaran terhadap ketaatan. Adapun perdebatan yang dilarang adalah pertengkaran yang lahir dari keinginan mempertahankan ego dan menyakiti orang lain.

Jemaah haji perlu menjauhi kebiasaan mempersoalkan hal-hal kecil, saling menyalahkan, bertengkar ketika berbelanja atau membuat keributan dalam rombongan. Kepadatan, antrean, cuaca, keterlambatan kendaraan serta keterbatasan fasilitas merupakan bagian dari ujian perjalanan. Dalam keadaan seperti itu, akhlak seseorang terlihat. Orang yang biasa ingin didahulukan perlu belajar mengalah. Orang yang mudah marah perlu belajar menahan diri. Orang yang gemar mengeluh perlu belajar menerima.

Ada ungkapan yang menyebutkan bahwa kehormatan seseorang dalam perjalanan tampak dari kesediaannya berbagi bekal, sedikitnya perselisihan dengan teman, kemampuannya mencairkan suasana tanpa melanggar batas agama serta kesabarannya menghadapi gangguan. Haji bukan tempat mempertontonkan ego. Di hadapan Allah, seluruh jemaah mengenakan pakaian ihram yang hampir sama. Kekayaan, jabatan, gelar dan kedudukan sosial tidak lagi menjadi ukuran. Semua datang sebagai hamba.

Salah satu amalan yang perlu diperbanyak selama haji adalah zikir. Talbiyah, takbir, tahlil, doa dan istigfar seharusnya tidak hanya terdengar di lisan, tetapi juga menghadirkan kesadaran di dalam hati. Ketika Rasulullah Saw ditanya tentang jemaah haji yang paling utama, beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat Allah.” (HR. Ahmad) Beliau juga bersabda, “Haji yang paling utama adalah al-‘ajj dan ats-tsajj.” (HR. at-Tirmidzi)

Al-‘ajj berarti mengeraskan suara ketika membaca talbiyah. Sedangkan ats-tsajj berarti mengalirkan darah hewan hadyu. Talbiyah yang terus diucapkan selama ihram merupakan jawaban seorang hamba terhadap panggilan Tuhannya, “Labbaik Allahumma labbaik.” Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah. Kalimat itu bukan sekadar ucapan. Talbiyah berarti kesediaan untuk menaati Allah, meninggalkan larangan-Nya dan menempatkan kehendak-Nya di atas keinginan diri sendiri.

Keutamaan Haji Mabrur

Haji yang ditunaikan dengan benar menjadi sebab diampuninya dosa. Amr bin al-Ash Ra pernah meminta agar dosa-dosanya diampuni ketika hendak berbaiat kepada Rasulullah Saw. Beliau kemudian bersabda, “Tidakkah engkau mengetahui bahwa Islam menghapuskan dosa-dosa sebelumnya, hijrah menghapuskan dosa-dosa sebelumnya, dan haji menghapuskan dosa-dosa sebelumnya?” (HR. Muslim) Dalam riwayat lain, haji digambarkan sebagai ibadah yang membersihkan dosa sebagaimana air membersihkan kotoran.

Harta yang dikeluarkan dalam perjalanan haji juga memiliki nilai besar di sisi Allah. Rasulullah Saw menyebutkan bahwa nafkah dalam haji seperti nafkah di jalan Allah, yang pahalanya dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali. Jemaah haji dan umrah juga disebut sebagai tamu-tamu Allah. Rasulullah Saw bersabda, “Orang-orang yang menunaikan haji dan umrah adalah tamu-tamu Allah. Jika mereka berdoa kepada-Nya, Dia mengabulkan doa mereka. Jika mereka memohon ampun kepada-Nya, Dia mengampuni mereka.” (HR. Ibnu Majah) Kedudukan sebagai tamu Allah adalah kemuliaan, tetapi sekaligus tanggung jawab. Seorang tamu harus menjaga adab di hadapan tuan rumah. Karena itu, orang yang berada di tanah suci sepatutnya lebih berhati-hati dalam berbicara, bersikap dan memperlakukan sesama.

Kemabruran Terlihat Setelah Pulang

Haji mabrur tidak berhenti ketika tawaf wada selesai atau ketika jemaah tiba kembali di rumah. Tanda kemabruran justru mulai terlihat setelah seseorang kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Orang yang hajinya memberi bekas akan lebih menjaga salat, lebih berhati-hati terhadap harta haram, lebih santun kepada keluarga, lebih peduli kepada orang miskin dan lebih mampu menahan amarah. Ia tidak merasa lebih suci daripada orang lain hanya karena telah menyandang gelar haji.

Apabila setelah pulang seseorang tetap gemar menyakiti orang lain, berlaku curang, meremehkan ibadah atau mempertontonkan kesombongan, ia perlu kembali merenungkan perjalanan yang telah ditempuhnya. Sebab tujuan haji bukan hanya sampai ke Makkah, tetapi sampai kepada ketaatan.

Balasan haji mabrur adalah surga. Namun kemabruran tidak diperoleh hanya dengan menyelesaikan rangkaian manasik. Ia tumbuh dari niat yang tulus, harta yang halal, tobat yang sungguh-sungguh, akhlak yang terjaga, kesabaran selama perjalanan dan perubahan nyata setelah kembali. Haji adalah perjalanan menuju Baitullah. Pada saat yang sama, ia merupakan perjalanan pulang kepada Allah.

Khadim Bayt Mohammadi Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas