Ramadan itu ibarat sebuah kamp militer spiritual. Aturannya jelas: imsak, alias menahan. Menahan lapar, menahan haus, dan yang paling berat, menahan diri untuk tidak mengumpat saat melihat pengendara motor yang motong jalan tanpa lampu sein di jam kritis menjelang buka.
Namun, ada sebuah anomali bin ajaib yang terjadi setiap tahun. Judulnya “Puasa”, tapi praktiknya “Pesta”. Kita dibilang sedang melatih kesederhanaan, tapi statistik ekonomi berkata lain. Pengeluaran rumah tangga di bulan Ramadan justru melonjak lebih tinggi daripada tagihan listrik rumah yang AC-nya nyala 24 jam. Ini puasa atau sedang simulasi jadi sultan sehari?
Filosofi “Lapar Mata” dan Pasukan Takjil

Secara teologis, kita diajarkan bahwa setan dibelenggu di bulan Ramadan. Tapi pertanyaannya: kalau setannya dipenjara, lalu siapa yang membisiki kita di pasar kaget untuk membeli kolak, gorengan, es buah, martabak, hingga siomay dalam satu waktu? Jawabannya: Nafsu yang sedang meronta karena kaget tidak diberi makan siang.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin sebenarnya sudah memberikan “sentilan” halus tapi menohok. Beliau bilang, inti puasa itu melemahkan syahwat. Lha, kalau pas buka kita makan seperti orang kesurupan, itu namanya bukan melemahkan syahwat, tapi memindahkan jam makan ke waktu lembur dengan bonus porsi dobel.
“Bagaimana puasa bisa bermanfaat jika seseorang justru ‘mengganti’ apa yang hilang di siang hari dengan porsi berlebih di malam hari?” (Ihya Ulumuddin)
Bukber: Ajang Reuni atau Ajang Pamer?
Lalu ada fenomena “Bukber” alias Buka Bersama. Niatnya silaturahmi, tapi praktiknya sering kali jadi fashion show dadakan dan ajang pamer pencapaian hidup. Di sini, prinsip ekonomi bekerja secara brutal. Restoran penuh, harga menu naik, dan kita rela bayar mahal hanya untuk makan terburu-buru karena mengejar waktu salat Maghrib yang cuma sebentar.
Padahal Rasulullah ﷺ itu simpel banget kalau urusan buka. Cukup kurma atau air putih.
“Apabila salah seorang di antara kalian berbuka, hendaklah ia berbuka dengan kurma. Jika tidak mendapatkannya, hendaknya ia berbuka dengan air.” (HR. Abu Daud & Tirmidzi)
Kita? Bukanya pakai es teler, gorengan lima biji, lalu lanjut nasi padang porsi kuli. Akhirnya apa? Pas salat Tarawih bukannya khusyuk dengerin bacaan imam, kita malah sibuk menahan sendawa yang aromanya seperti campuran rendang dan bakwan.
Kontradiksi Dompet dan Kesalehan

Kita sering merasa sudah sangat “islami” karena sudah menahan lapar 13 jam. Tapi di saat yang sama, jari kita sangat lincah checkout barang di aplikasi belanja karena godaan “Promo Ramadan” atau “Ramadan Sale”.
Ingat, kawan, Allah menyebut para pemboros itu sebagai ikhwanusy-syayathin alias saudara-saudara setan. Jadi, kalau setannya sedang dibelenggu tapi kita masih borosnya minta ampun, jangan-jangan kita sedang mengajukan diri jadi “wakil” mereka di bumi untuk urusan konsumerisme? Naudzubillah.
Simpulan: Menuju Ramadan yang Minimalis
Ramadan bukan ajang balas dendam untuk semua penderitaan lambung di siang hari. Justru, uang yang biasanya buat jajan boba atau kopi kekinian itu dialihkan ke kotak amal atau marbot masjid yang sarungnya sudah mulai menipis.
Mari kita jujur: apakah meja makan kita saat berbuka lebih mewah daripada hari biasa? Jika iya, mungkin kita bukan sedang melatih kesabaran, tapi sedang melatih ketahanan lambung menghadapi serangan logistik massal.


