Puasa, Idul Fitri dan Spiritualitas Perempuan

Salah satu kesadaran yang dibangun oleh Islam sejak legalitasnya diturunkan Allah dalam al-Qur’an adalah kesadaran bahwa perempuan adalah manusia seutuhnya, sama seperti halnya laki-laki, ia adalah subyek penuh kehidupan, bukan mesin reproduksi, apalagi sekedar alat pemuas nafsu seksual belaka. Kesadaran yang perlu ditanamkan berikutnya adalah bahwa manusia, baik laki-laki maupun perempuan ia tidak hanya sebagai makhluk fisik semata, melainkan juga makhluk intelektual yang berakal, insan spiritual yang berbudi dan berhati nurani. Akal berfungsi membedakan kebaikan dan keburukan, sedangkan hati nurani digunakan untuk keberpihakan pada sebuah kebaikan bersama, antar sesama manusia bahkan kepada sesama makhluk Allah.

Puasa Ramadhan sejatinya melatih mental kita untuk waspada dengan tidak mengakses atau menggunakan hal-hal halal yang notabene-nya menjadi milik kita sepanjang siang, agar jiwa kita terlatih tetap waspada saat ia kembali diperbolehkan aksesnya sepanjang malam. Jika mampu slow di hadapan hal halal dan sudah menjadi hak kita, maka kita akan jauh lebih waspada di depan hal syubhat yang belum tentu halal terlebih di depan hal haram dan bukan milik kita.

Mengatasi kelaparan “raga” sangatlah mudah dilakukan. Selapar-laparnya kita sepanjang siang, saat maghrib berkumandang nyatanya kita hanya mampu makan dan minum dalam jumlah yang terbatas. Semakin dipenuhi, kita semakin kenyang dan sistem tubuh akan menolaknya otomatis jika berlebihan, tapi kelaparan “jiwa” justru sebaliknya. Semakin dipenuhi, ia akan terasa terus kekurangannya. Sudah “makan” sepeda motor ingin yang lebih bagus lagi demi sebuah pengakuan. Sudah “makan” jembatan layang ingin jalan tol, begitu seterusnya.

Baca Juga: Makna Idul Fitri Bagi Perempuan
Ilustrasi gambar perempuan yang berjalan menuju masjid
Foto oleh Nick Fewings via Unplash

Secara bahasa, Idul Fitri bermakna kembali berbuka. Ia menjadi momen pertarungan jiwa kita setelah dikader selama sebulan. Dalam jangka panjang, keberhasilan gemblengan tersebut akan terlihat pada sikap kita terhadap kesenangan ragawi dan duniawi, baik skala kecil maupun skala besar. Kita dianggap menghamba pada Allah jika mampu menjaga jarak aman sehingga mampu menjadikan semua hal yang bersifat duniawi sekedar sebagai sarana mewujudkan kemaslahatan pada sesama makhluk Allah di muka bumi, sebagaimana mandat kita sebagai Khalifaullah fil Ardl. Inilah fitrah kemanusiaan, yakni hanya tunduk pada Allah dengan tunduk pada kemaslahatan bersama.

Atas dasar ini, maka spirit 1 Syawal tidak hanya sebagai hari kemenangan tapi sejatinya adalah hari pertama pertarungan yang baru dimulai. Semoga kita sama-sama mampu menjaga mental puasa selamanya, setidaknya sampai dengan Ramadhan berikutnya tiba, agar kita bisa menjalani hidup sebagai makhluk spiritual yang mampu mengendalikan, tidak perlu mematikan segala hal duniawi, tapi bagaimana ia kita jadikan sebagai media kemaslahatan atas nama iman, bukan sebagai tujuan hidup yang akan diperjuangkan dengan cara apapun yang dilarang agama.

Tags :

Farida Ulvi Na'ima

Aswaja NU Center Sidoarjo, JP3M Nusantara, ADP IKA PMII, Aktivis Perempuan

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network