Imam Syafi’i Tidak Memberi Izin

Suatu jum’at di bulan ramdhan, sekitar satu jam sebelum azan jumat berkumandang Syaikhina Syahawi memanggil beberapa muridnya untuk pergi bersama shalat jum’at. Mulanya beliau ingin pergi ke Masjid Al Azhar, selain jaraknya yang dekat, disana juga bisa bertemu beberapa masayikh dan murid-murid beliau.

Akan tetapi salah satu murid beliau dari Mesir memberikan usul lain: “Maulana, bagaimana kalau kita menunaikan shalat jum’at di masjid lain saja, agar engkau tidak kelelahan. Pasti di masjid Al Azhar ramai dan banyak yang ingin bersalaman.” Biasanya memang karena saking ramainya orang, perjalanan beliau yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu setengah jam bisa molor menajdi satu jam, bahkan lebih.

Beliau mengiyakan usulan sang murid, sebagaimana biasanya beliau jarang sekali menolak permintaan demi menjaga perasaanya.

“Baik, kita ke Masjid Syeikh Salih Jakfar saja ya? Bagaimana?” Tanya beliau kepada murid-muridnya.

“Maulana waktunya masih agak lama sampai adzan jum’at, kalau kita shalat di masjid Imam Syafii, seharusnya waktunya cukup..” Usul murid lain. Dan lagi beliau menyetujuinya.

Sesampainya di depan pasar jum’at (pasar hewan) kawasan Sayyidah Aisyah jalanan terpantau lumayan sepi, tidak seramai hari hari biasa diluar bulan Ramadhan. Kemudian ketika mobil mulai memasuki gang-gang pasar untuk menuju Imam Syafi’i kami dikagetkan dengan puluhan ribu manusia berdesakan di dalam pasar. Bahkan karena saking ramainya jalanan, jalur menuju Imam Syafii pun ditutup.

Walhasil satu jam lebih kami habiskan di dalam mobil yang terjebak macet di tengah keramaian pasar. Syaikhina nampaknya pun sudah agak lelah karena terjebak lama di dalam kendaraan diantara lautan manusia.

Setelah membaca surat al Kahfi, beliau berkata : “Imam Syafi’i dan Sayid Syaikh Solih ja’fari tidak mengizinkan kita ziarah”.
‎”لا يزار الولي إلا بإذنه”.
(seorang wali tak dapat dikunjungi kecuali mendapat izinnya)

” Ini adalah teguran, karena kita merasa akan banyak orang yang menyalami ketika shalat di al Azhar, hingga Imam Syafi’i dan Syeikh Salih Jakfari tidak memberikan kita izin untuk menziarahinya”. Lanjut beliau. Kemudian terdengar beliau beristighfar berkali-kali.

Adzan jum’at sudah berkumandang, namun lautan manusia tidak kunjung surut, akhirnya kami shalat di masjid terdekat di dalam pasar. Seusai shalat jum’at beliau menasihati kami untuk membersihkan hati dari sifat sifat yang kurang baik agar diberikan futuh oleh Allah dalam segala hal, apalagi ketika ingin berziarah di maqam orang-orang shalih.

Tags :

Ade Rizal Kuncoro

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network