Ramadan di California, Amerika: Menemukan Saudara di Tanah Rantau

Sebelum membahas tentang Ramadan di California, saya akan memberi konteks tulisan ini terlebih dahulu. Saya adalah visiting scholar di University of California Riverside (UCR) selama enam bulan, mulai dari 21 Februari 2024 hingga 21 Agustus 2024. Saya tinggal di kota Riverside, sebuah kota yang benar-benar sangat hijau; dikeliligi pegunungan dan banyak pepohonan. Tujuan pemberian konteks ini tidak lain yaitu untuk tidak mengeneralisir hal yang saya sampaikan, karena untuk mengatasnamakan Amerika, waktu yang saya jalani dan tempat yang saya tinggali masih belum representatif.

Bagi saya, Ramadan di California menghadirkan cerita dan kesan tersendiri yang tentu mempunyai beberapa perbedaan dengan Ramadan di Indonesia. Mungkin metode komparasi ini yang saya gunakan untuk mendeskripsikan suasana Ramadan di California.

Penetapan Awal Ramadan

Tidak seperti di Indonesia yang beragam, awal Ramadan di California berlangsung serentak di hari yang sama. Sayangnya, saya belum mengkonfirmasi pada imam masjid mengenai proses penetapan awal Ramadan tersebut, apakah berdasar hisab atau ru’yatulhilal atau lainnya. Hanya saja, untuk konteks komunitas muslim Indonesia di Amerika, menurut keterangan salah satu pengunjung masjid, pelaksanaan awal puasa ini mengikuti keputusan KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) setempat. Bisa jadi, hal yang sama juga terjadi pada komunitas muslim lainnya.  

Praktik ini tidak jauh berbeda dengan keterangan di buku The Practice of Islam in America, An Introduction, untuk penetapan awal Ramadan dan Idulfitri, komunitas muslim sudah memasrahkan dan mengikuti keputusan dari lembaga setempat yang berwenang tentang hal tersebut, misal keputusan ISNA (Islamic Society of North America) untuk muslim yang berada di bawah jangkauan lembaga tersebut. Masih dalam buku yang sama, ternyata di Amerika juga ada lembaga yang mengurusi penetapan kalender bulan hijriyah. Misal di University of Chicago, berdasar keterangan Tahir Umar Abdullah, Asisten Director of Spiritual Life and Advisor of Muslim Affairs at the University of Chicago saat itu, ada dua lembaga yang mengurusi hal tersebut, yaitu Crescent Watch dan Chicago Hilal Community.

Menjadi minoritas

‘Anak-anak muslim di sini hebat, mereka tetap berpuasa, meski harus menyaksikan teman-teman sekolahnya makan siang di depan mereka, padahal mereka masih kecil. Peraturan sekolah tidak memperbolehkan para siswanya untuk tinggal di kelas pada saat jam istirahat makan siang, jadi mereka tetap harus keluar kelas, menyaksikan teman-teman mereka makan siang. Ini kontras sekali dengan pemberitaan di Indonesia yang sering menyalahkan orang yang masih buka warung makan pada saat bulan puasa, ­gitu saja langsung tersinggung dianggap tidak menghargai yang sedang puasa.’ Demikian kurang lebih cerita dari salah seorang wali siswa muslim di California yang berasal dari Indonesia.

Pemandangan yang sama dengan cerita di atas juga saya lihat di kampus UCR, di setiap sudut kampus, mulai dari ruang kelas, perpustakaan, toko buku, taman kampus, terlebih kantin selalu ramai dengan mahasiswa yang makan dan minum. Satu-satunya tempat yang ‘aman’ untuk mahasiswa muslim yang sedang berpuasa adalah meditation room.

Sedikit penjelasan tentang meditation room, ruangan ini berukuran kurang lebih 3×9 m2. Ruangan ini bisa dikatakan sebagai tempat ibadah mahasiswa dari semua agama yang disediakan oleh kampus, namun pada kenyataannya, mulai dari pertama kali saya menginjakkan kaki di tempat tersebut, ruangan itu bisa dikatakan sudah beralih fungsi sebagai musalla, karena selalu dan hanya mahasiswa muslim yang menggunakannya. Kembali tentang makanan dan minuman, saya sebenarnya juga merasakan manfaat dari suasana yang tidak ‘islami’ ini, karena di hari-hari tertentu, saya bisa mendapat takjil lebih awal untuk dibuat persiapan buka puasa.

Contohnya adalah kegiatan di hari jumat. Pada hari tersebut, mahasiswa internasional, pemegang J-1 visa seperti saya mempunyai kegiatan rutin yaitu coffee hour yang dikoordinir oleh staf kampus, bagian International Student and Scholar (ISS). Tidak seperti nama kegiatannya yang bertajuk ngopi, di kegiatan ini tidak disuguhkan kopi, tapi malah cookies. Biasanya kami, mahasiswa muslim yang hadir bisa atau terkadang juga disuruh untuk membawa pulang beberapa cookies untuk dibuat buka puasa.

War Takjil ala California

Saya turut senang ketika membaca dan mendengar pemberitaan di media sosial tentang ‘war takjil’ di Indonesia antara muslim dan non-muslim. Bayangan di kepala tentang semarak dan keriuhan war takjil cukup membuat saya tambah homesick, kangen suasana semarak Ramadan di Indonesia dan kehangatan suasana rumah. Sementara itu, di California, jangan kan war takjil, ‘war adzan, war tarhim, war imsak, war sahur’ tidak bisa dengan bebas terdengar di sini. Namun demikian, masih sangat beruntung di sini lumayan banyak Islamic Center. Dan di Islamic Center lah, saya dan teman-teman muslim bisa merasakan semarak Ramadan dan semua printilan-nya.   

Di California, sebutan untuk masjid adalah Islamic Center. Kalau membaca buku Islam in America karangan Jane I Smith, sejak tahun 1999, California sudah menjadi pusat komunitas muslim dari berbagai negara. Imigran muslim dari India termasuk kelompok pertama yang datang ke California, namun orang-orang Amerika tidak menyadarinya, karena mereka dianggap penganut Hindu. Baru kemudian komunitas muslim dari Timur Tengah, Iran, Asia Selatan, Afghanistan datang menyusul.

Latar belakang yang demikian ini sepertinya yang membuat lumayan banyak berdiri Islamic Center di daerah California. Sampai tulisan ini terbit, saya masih hanya pernah mengunjungi tiga dari beberapa Islamic Center, antara lain Islamic Center di Riverside yang dikoordinir oleh saudara-saudara Muslim dari Pakistan, Afghanistan dan Bangladesh; Nusantara Muslim Community (NMC), yaitu sebuah bangunan yang diproyeksikan untuk menjadi masjid dengan nama Masjid at-Taqwa yang bertempat di San Bernardino. Masjid ini dikoordinir oleh saudara-saudara muslim dari Indonesia; Islamic Center berikutnya yaitu Salaam Islamic Center yang bertempat di Lake Forest, masjid yang dikoordinir oleh saudara-saudara muslim Turki.

Masing-masing dari Islamic Center tersebut mempunyai karakter dan ciri khas, sesuai dengan tradisi takmir masjidnya. Yang paling jelas terlihat dari perbedaan ciri khas tersebut adalah sajian iftar yang disediakan. Menurut cerita beberapa pengunjung masjid, hampir setiap Islamic Center menyediakan iftar bersama gratis setiap jumat, sabtu dan minggu selama Ramadan.

Ketika di Islamic Center di Riverside, saya ketemu dengan nasi biryani, dal, roti semacam ‘isy, jalebi, dan banyak lagi lainnya, sayang sekali saya lupa untuk mengingatnya. Kalau di NMC, saya menemukan nasi padang, bubur sumsum, soto betawi, nasi liwet, dan tentu tidak ketinggalan, gorengan, es buah dan masih banyak lainnya. Ketika di NMC, rindu akan rumah sedikit terobati. Sedangkan di Salaam Islamic Center, saya menemukan kue khas Turki, Baklava dan teh ‘pahit’ khas Turki.

Biasanya, selain makan dan minum, kegiatan buka bersama ini, kami (saya dan teman-teman visiting scholar) jadikan kesempatan informal cultural conversation class. Dan di California ini saya melihat bahwa fungsi masjid tidak hanya untuk tempat ibadah, tapi juga untuk hal lainnya, silaturahim dan pertemuan banyak budaya dari berbagai komunitas muslim. Program dari masing-masing Islamic Center juga tidak hanya perihal ibadah, tetapi juga menjangkau perihal pengembangan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan lainnya.     

Iftar bersama tidak hanya dirasakan di Islamic Center, kami (para peserta visiting scholar) ini juga sering diundang buka bersama oleh saudara-saudara muslim Indonesia lainnya. Tentu ini merupakan hal yang sangat menggembirakan bagi kami. Kesempatan baik ini, biasanya kami manfaatkan untuk berkenalan dengan lebih banyak saudara muslim Indonesia lainnya.

Berbicara tentang iftar, biasanya buah yang identik dengannya adalah kurma. Berdasar keterangan dari beberapa saudara muslim di California, ada kurma yang asli dari California, disebut Medjool. Dikatakan asli California karena memang pohonnya tumbuh dan berbuah di suatu daerah di California. Mendengar cerita ini, teman saya langsung nyeletuk, ‘buah muslim’ di ‘negeri kafir’.

Tarawih dan Qiyam Ramadan

Untuk perihal tarawih, berbekal pengalaman tarawioh di tiga Islamic Center yang berbeda, tidak ada perbedaan yang substantif dengan pelaksanaan tarawih di Indonesia; ada yang berlangsung lama, 20 rakaat dengan durasi sekitar dua jam, ada juga yang tidak terlalu lama, tapi tidak ada yang super cepat.

Sementara untuk qiyam Ramadan, sebagian Islamic Center memulainya dari minggu kedua Ramadan, dan belanjut lebih intensif ketika memasuki minggu ketiga. Untuk kegiatan detailnya, saya kurang tahu, yang jelas masing-masing masjid mengundang beberapa pembicara, atau mungkin lebih tepatnya penceramah untuk mengisi kajian qiyam Ramadan. Untuk NMC misalnya, Ramadan kali ini mengundang Ustad Ibrahim Chaniago, Lc, untuk mengisi kegiatan tersebut. Qiyam Ramadan diisi dengan pengajian kitab Safinat an-Najah. Namun demikian, pengajian atau pengkajian mengisi qiyam Ramadan ini dilaksanakan di hari weekend (jumat, sabtu, minggu). Dipilihnya hari tersebut, karena para jamaah libur kerja di siang harinya.

Terkait dengan hari kerja, jangan dibayangkan seperti di Indonesia yang menetapkan hari libur nasional atau cuti bersama menyambut Ramadan dan Idulfitri. Di California tidak ada hari libur untuk itu, namun mendengar cerita dari beberapa saudara muslim Indonesia yang sudah lama menetap di California, mereka diizinkan oleh tempat kerjanya untuk mengajukan cuti atau izin libur dengan alasan menjalankan puasa dan Idulfitri, tentu masih dengan syarat dan kondisi tempat kerja mereka masing-masing.

Penetapan Idul Fitri

Mulai dari awal puasa, sepertinya hari Idulfitri juga ditetapkan. Ini terlihat dari kalender Ramadan yang dishare oleh masing-masing Islamic Center. InsyaAllah Idulfitri di California dirayakan pada hari Rabu, 10 April 2024. Semoga Ramadan kali ini ketemu dengan ketupat California. Taqabbal Allāh minnā wa minkum, taqabbal ya Karīm.

*6 April 2024, Unviersity Village Apartments, 266 D W Big Springs, Riverside, California 92507.

Tags :

Limmatus Sauda'

Dosen UAC Mojokerto dan penerima beasiswa Pendidikan Kader Ulama LPDP di PTIQ Jakarta

One thought on “Ramadan di California, Amerika: Menemukan Saudara di Tanah Rantau

  1. Assalamualaikum ibu. Masyaallah tabaarakallah sehat selalu guru kami.
    Panjenengan perempuan luar biasa masyaallah… Semoga bisa mengikuti jejak panjenengan bu. . . sukses dunia akhirat 🤲🤲🤲

Comments are closed.

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network