Maulana al-Allamah Syekh Abdul Aziz As-Syahawi adalah salah satu ulama senior yang Allah anugrahi hafalan yang kuat, disamping usia beliau yang sudah senja beliau masih mampu untuk menghadirkan ulang hafalan yang beliau punya. Beliau adalah salah satu ulama yang menggabungkan antara dua metode yaitu hafalan dan pemahaman, maka setiap murid yang hadir dalam kajian beliau pasti menyaksikan ciri khas beliau dalam mengajar yaitu menghiasi pemahaman dengan hafalan-hafalannya.’
Berikut ini adalah beberapa poin dari metode beliau dalam menghafal:
- Niatkan menghafal karena Allah ta’ala: Pertama-tama, dalam menghafalkan segala sesuatu, haruslah karena Allah, bukan karena ingin dilihat hafal ini dan itu, atau agar dilihat alim, dan sebagainya.
- Berdoa agar Allah memudahkan menghafal dan menjaga hafalan yang ada: Doa dari beliau untuk memudahkan hafalan: اللهم افتح علينا فتوح العارفين بحكمتك، وانشر علينا رحمتك وذكرنا ما نسينا ياذا الجلال والإكرام Dan memperbanyak dzikir salah satu dari Asma al Husna: “يا معيد.”
- Harus mengerti bahwa menghafal itu kadang mudah dan kadang sulit, dan setiap orang memiliki kemampuan menghafal yang berbeda: Menurut beliau, model orang dalam menghafal ada 4: – Cepat hafal dan sulit lupa – Cepat hafal dan cepat lupa – Lambat hafal dan lambat lupa – Lambat hafal dan cepat lupa Di manakah posisi kita, maka di situlah kita punya cara tersendiri.
- Menghafal itu mudah, tetapi menjaganya yang sulit: Beliau sering menyemangati murid-muridnya untuk selalu menjaga hafalan nadzam.
- Mulailah menghafal dari dasar: Dikatakan dalam sebuah syi’ir: “ترقَّ إلى صغير الأمر حتى # يُرقِّيكَ الصغيرُ إلى الكبيرِ فتعرفَ بالتفكر في صغيرٍ # كبيراً بعد معرفة الصغيرِ.”
- Melihat, menghayati, dan memahami bagian yang ingin dihafal berkali-kali: Ada banyak ulama yang sudah memetodekan cara menghafal, ada yang membacanya terlebih dahulu sebanyak tujuh kali, bahkan hingga 40 kali dengan fokus.
- Menulis ulang hafalan di kertas kecil atau semacam buku tulis untuk mengikat hafalan: Sering kali saya melihat di dekat tempat duduk atau istirahat beliau ada kertas yang sudah ada coretannya berbaris-baris, ternyata itu adalah cara beliau apabila mendapatkan hafalan baru yaitu dengan menulisnya kembali.
- Cari waktu di mana pikiran kita fresh: Beliau juga berkata bahwa beliau tidak memiliki waktu khusus dalam menghafal, tetapi jika pikiran kita masih fresh, maka mulailah menghafal, dan jika masih banyak pikiran yang mengganggu, maka istirahatlah.

Semua berperan dalam membantu hafalan: Beliau juga pernah berujar: “Setiap anggota tubuh mempunyai peran dalam membantu hafalan, ada yang menguatkan hafalannya dengan penglihatannya kemudian tergambar dalam pikiran, ada yang menguatkan hafalannya dengan pendengarannya, ada yang menguatkan hafalan dengan tangannya yaitu dengan menulisnya, dan ada yang menguatkan hafalannya dengan gerakan, dst.”
Menjaga hafalan:
Bagian ini adalah yang terpenting menurut beliau, karena mengulang hafalan memang terasa lebih berat, akan tetapi akan mudah jika dilakukan dengan istiqomah. Berikut adalah metode dan nasihat beliau dalam mengulangi hafalan:
- Agar hafalan mengkristal, perlu adanya mudawamah dalam pengulangan hafalan: Dalam ukuran nadzam yang jumlahnya ribuan seperti Bahjah, Nadzom tadrib, Zubad, Syatibi, Durroh, Alfiyah Sorf, Alfiyah Ibn Malik, Alfiyah sirah, dll, beliau mempunyai metode tersendiri, yaitu mengulanginya kurang lebih 200 bait sehari secara mudawamah dan tersisa 2 hari kosong untuk mengulang hafalan nadzam-nadzam yang kecil atau digunakan untuk istirahat.
- Harus ada waktu untuk mengosongkan diri, tidak terburu-buru untuk ingin segera tampil mengajar, tetapi menunggu kematangan ilmu yang sudah didapat: Dalam perjalanan keilmuannya, beliau sudah menuntaskan pendidikan dari sang paman mulai dari umur kurang lebih 20 tahun, kemudian belasan tahun beliau mengajar di Saudi, tepatnya di kota Arar yang terletak di utara Arab Saudi dekat perbatasan Irak. Selama belasan tahun beliau menghabiskan disana untuk mengajar, dan waktu mengajar beliau kala itu tidak sepadat sekarang. Maka beliau memanfaatkannya untuk menyendiri dan mematangkan pemahaman dan hafalan yang ada hingga tetap mengkristal, walau usia sudah senja.
Sampai saat ini, beliau hafal kurang lebih dua puluh satu ribu bait dalam beberapa fan keilmuan, belum dihitung hafalan beliau dalam natsr. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan untuk beliau, dan semoga kita bisa meniti jalan yang beliau lalui. Amin.
(Ahbab Syeikh Abdul Aziz Syahawi)



