Pentingnya Menanam Tauhid pada Anak Sejak Dini

Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya menanamkan keyakinan atas keesaan Allah pada sanubari anak sejak usia dini. Hal tersebut telah dicerminkan oleh keluarga Luqman yang menasihati anaknya untuk tidak syirik atau tidak menduakan Allah Swt. Karena perbuatan syirik adalah perbuatan dosa atau kezaliman yang paling besar di hadapan Allah. Sebagaimana nasihat Luqman kepada anaknya tersebut telah diabadikan dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 13, yang berbunyi:

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِه وَهُوَ يَعِظُه يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Artinya: “(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.”

Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa nasihat Luqman tersebut ditujukan agar seorang anak memiliki keyakinan yang mantap tanpa keraguan sedikit pun bahwa Allah itu pasti dan Maha Esa. Oleh karena itu, memiliki keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa adalah dasar keberhasilan kehidupan.

Terkait tauhid kepada Allah, ada kisah menarik yang disampaikan oleh Gus Rektor saat pengajian kitab kitab Khulashoh al-Aqoid fi al-Islam karya al-Ustadz al-Imam as-Sayyid Muhammad Zaki Ibrohim di masjid raya Universitas Pesantren KH. Abdul Chalim. Yaitu kisah dari buahnya tauhid Imam As-Sanusi.

Imam As-Sanusi merupakan ulama terkemuka yang menyusun banyak kitab, di anataranya Umm al-Barahin, kitab yang membahas akidah dan ilmu kalam Asy’ari. Beliau bernama al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Yusuf As-Sanusi at-Tilmisani. Kecerdasan intelektual dan emosional beliau telah tercerminkan saat beliau masih kecil.

Suatu ketika, saat As-Sanusi masih kecil, ayahandanya wafat, kembali pada haribaan Allah Swt. Sesaat jenazah ayahandanya dikebumikan, As-Sanusi kecil merasa sedih dan berlinangan air mata seraya memandang langit yang luas. Ketika Ia memandang langit, pandangannya terhentikan pada suatu gunung. Ia bergumam dalam hatinya, “sungguh, gunung ini sangat indah sekali, terlebih lagi Dzat yang telah menciptakannya”.

Setelah beberapa hari berlalu, beberapa sahabat ayahandanya mengalami mimpi bertemu dengan almarhum. Mereka bertanya kepadanya, “wahai Abi Yusuf As-Sanusi, hal apa yang membuat anda berhasil dan memperoleh kenikmatan yang sangat indah ini? Apakah karena ibadahmu?

Ayahanda As-Sanusi menjawab, “semua kenikmatan dan keindahan ini saya peroleh bukan karena ibadahku, melainkan karena tadaburnya anakku”.

mereka bertanya kembali, “tadabur seperti apa itu wahai Abi Yusuf As-Sanusi?”

“Saat Saya dikebumikan, anakku bersedih, namun kesedihannya terhentikan saat ia merenung pada sebuah gunung yang indah. Kemudian Ia memperoleh kesimpulan dari renungannya bahwa tidak ada yang mampu menciptakan gunung indah ini, melainkan oleh Dzat Allah Yang Maha Indah”, terang Ayahanda As-Sanusi.

Dari kisah tersebut, dapat diketahui bahwa renungan terhadap semesta dengan segala isinya adalah petunjuk keberadaan dan kebesaran Allah Swt. Sehingga, ketika petunjuk tersebut ditanamkan pada diri akan melahirkan sebuah akidah yang kuat. Terlebih lagi, hal tersebut dapat menjadi modal keberhasilan di akhirat kelak.

Tags :

Muhammad Rifki

Anggota Pemuda Ansor Cianjur, alumni Universitas KH. Abdul Chalim. Penulis bisa disapa di @arqymansur.

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network