Salah satu kewajiban pertama bagi pemeluk agama Islam adalah memiliki kesadaran secara merdeka, keyakinan dalam hati, serta diutarakan secara gamblang bahwa tiada tuhan selain Allah. Hal tersebut merupakan rukun Islam yang pertama. Akan tetapi, rukun Islam yang pertama tersebut sudah seharusnya tidak hanya sebagai simbol maupun legalitas, melainkan sebagai gerbang utama menuju keyakinan penuh terhadap Allah Swt. Oleh karena itu, usaha menanamkan keyakinan pada diri sendiri atas adanya Allah adalah suatu keniscayaan yang konstruktif.
Dalam agama Islam, meyakini adanya Allah Swt merupakan bagian dari ilmu tauhid. Ilmu tauhid erat kaitannya dengan keyakinan yang berada dalam hati. Oleh karena itu, hal-hal ghaib yang tidak bisa dicerna dengan panca indera, tidak mampu diakses dengan alat canggih, dan tidak bisa dideteksi keberadaanya, maka satu-satunya cara adalah dengan ilmu tauhid.
Untuk memperoleh keyakinan atau ketauhidan, salah satunya dengan cara berpikir dengan rasional, dalilaqli. Berikut ini, beberapa kisah menarik bagaimana ulama atau orang terdahulu merasionalisasikan adanya Tuhan sehingga terbentuknya suatu keyakinan terhadap-Nya secara utuh. Kisah tersebut disampaikan oleh Gus Rektor, Dr. H. Mauhibur Rokhman, Lc., MIRKH saat pengajian kitab Khulashoh al-Aqoid fi al-Islam karya al-Ustadz al-Imam as-Sayyid Muhammad Zaki Ibrohim di masjid raya Universitas Pesantren KH. Abdul Chalim.
Dalilaqli pertama dikisahkan dari Imam Abu Hanifah. Suatu saat, seorang ateis mendatangi Kholifah ‘Abasyi dan ia meminta suatu perdebatan terkait adanya Allah. Lantas, Sang Kholifah mengutus Imam Abu Hanifah. Akan tetapi, Imam Abu Hanifat datang terlambat pada waktu yang dijanjikan untuk berdebat. Lalu, Sang Kholifah bertanya mengenai sebab keterlambatan Sang Imam. Beliau menjelaskan bahwa Ia telah berada di tepi sungai dalam waktu yang cukup lama menunggu perahu yang dapat mengantarkannya kembali. Tiba-tiba, sungai tersebut mengeluarkan papan-papan dan paku-paku. Dengan mata kepala Sang Imam sendiri, papan dan paku tersebut bergabung dengan sendirinya sehingga menjadi sebuah perahu. Tanpa pikir panjang, Sang Imam segera menaikinya dan akhirnya tiba di tempat yang dijanjikan untuk debat. Mendengar pernyataan Sang Imam tersebut, orang ateis tersebut menyangkal seraya bertanya:
“Wahai Imam, bagaimana mungkin papan dan paku dapat saling bergabung dan merekat dengan sendirinya sehingga menjadi sebuah perahu? Sungguh ini tidak masuk!”
Imam Abu Hanifah menjawab dengan santai dan lugas, “apabila hal sederhana itu tidak masuk akal kecuali ada pelaku yang membuatnya, jadi, bagaimana mungkin alam semesta ini tidak memiliki Tuhan yang telah menciptakannya?”
Mendengar jawaban Sang Imam, seorang ateis tersebut diam seribu bahasa dan pergi meninggalkan.
Dalilaqli kedua dikisahkan dari Imam As-Syafi’i. suatu ketika Beliau diberikan pertanyaan terkait petunjuk atau dalil adanya Allah. Lantai Imam As-Syafi’i menjawab:
“Daun murbei memiliki satu rasa, satu warna, satu asal, hingga memiliki satu aroma. Akan tetapi ketika daun tersebut dimakan oleh ulat sutra, maka yang dikeluarkan adalah sutra. Ketika daun tersebut dimakan oleh lebah, maka yang dikeluarkan adalah madu. Ketika daun tersebut dimakan oleh domba, maka yang dikeluarkan adalah kotoran domba. Ketika daun tersebut dimakan oleh kijang, maka minyak kesturi berkumpul di tempat atau sumber kesturi dari kijang tersebut. Lantas, siapakah yang dapat menjadikan daun murbei beraneka ragam hasilnya, kalau bukan Allah Swt?
Selain datangnya dari para ulama, daliqali lain muncul dari interpretasi seorang arab badui yang mengatakan bahwa:
“Adanya kotoran hewan berarti menunjukkan adanya seekor unta, adanya jejak berarti menunjukkan adanya seorang musafir. Lantas, apakah langit yang begitu indah, bumi yang terbentang, serta lauatan yang penuh dengan deburan ombak tidak menunjukkan pada Sang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui?



