Di Manakah Allah Ketika Kezaliman Terjadi?

Konflik tidak selalu berakhir dengan cepat. Bahkan bisa “mendarah daging”. Lahir dan hidup lintas generasi. Menggenang dan “abadi” dalam memori dan ingatan. Di banyak tempat, darah ditumpahkan. Hak-hak dirampas. Orang-orang lemah menjadi korban dari kekuasaan yang tiran nan lalim. Dalam keadaan seperti itu, muncul pertanyaan yang berat: di manakah Allah ketika kezaliman terjadi?

Pertanyaan ini wajar hadir dalam hati manusia. Mengusik batin. Mengoyak nalar. Namun jawabannya tidak cukup dicari hanya dari apa yang terlihat di dunia. Islam mengajarkan bahwa dunia bukan tempat terakhir bagi keadilan. Ada hari ketika seluruh perbuatan manusia diperhitungkan. Termasuk kezaliman yang mungkin hari ini tampak belum mendapat balasan. Yang dalam kaca mata buram awam, terpotret layaknya perilaku halal dan terhormat.

Mengapa Allah Menangguhkan Balasan untuk Orang Zalim?

Padahal Allah Swt berfirman, “Jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika pandangan-pandangan terbelalak.” (QS. Ibrāhīm [14]: 42)

Ayat ini adalah jaminan. Garansi kepastian ala Tuhan. Membedakan antara kelengahan dan penangguhan. Allah tidak pernah lengah terhadap penderitaan hamba-Nya. Tidak ada darah yang tertumpah, hak yang dirampas atau tangisan orang yang dizalimi yang luput dari pengetahuan-Nya. Akan tetapi, Allah memberi waktu kepada manusia untuk menentukan pilihannya. Memperlihatkan wataknya, lalu memikul akibat dari perbuatannya. Hukum “siapa menabur, akan menuai” sungguh berlaku. Seperti termaktub dalam Galatia 6:8.

Dunia Bukanlah Garis Finis Keadilan

Dunia memang tak dimaksudkan sebagai garis finis. Bukan tempat seluruh perkara diselesaikan secara tuntas. Ada orang zalim yang tampak hidup dalam kelapangan. Kemewahan dan kegembiraan. Ada pula orang baik yang harus memikul penderitaan. Kepahitan dan tangis yang tak pernah kering. Namun keadaan yang terlihat hari ini bukanlah akhir dari perjalanan manusia. Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh, pada hari Kiamat kalian benar-benar akan mengembalikan setiap hak kepada pemiliknya, sampai-sampai seekor kambing yang tidak bertanduk akan memperoleh pembalasan dari kambing yang bertanduk.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan kesempurnaan keadilan Allah. Ketelitian sekaligus kasih sayang-Nya. Bila kezaliman yang terjadi di antara hewan saja tidak dibiarkan tanpa perhitungan, maka kezaliman manusia terhadap sesamanya tentu tidak akan dibiarkan begitu saja. Pembunuhan, penindasan, pengkhianatan, perampasan hak dan segala bentuk kesewenangan akan dimintai pertanggungjawaban. Tak ada pertanyaan yang tak terjawab. Tak ada amal perbuatan yang tak terbalas.

Mengapa Manusia Diberi Kebebasan Memilih Jalan Buruk?

Allah tidak mencintai kezaliman. Akan tetapi, Dia menciptakan manusia dengan akal, hati dan kebebasan untuk memilih. Allah Swt menasehatkan, “Bukankah Kami telah menjadikan untuknya dua mata, satu lidah dan dua bibir? Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan yang tinggi.” (QS. Al-Balad [90]: 8–10)

Manusia diberi kemampuan untuk membedakan yang baik dari yang buruk. Ia dapat memilih untuk menolong atau menindas. Berkata benar atau menyebarkan fitnah. Menggunakan kekuasaan sebagai amanah atau menjadikannya alat untuk menekan orang lain. Karena itu, ketika kezaliman muncul, kesalahan tersebut kembali kepada manusia yang memilih jalan buruk. Bukan kepada Allah. Seperti petuah para tetua. Kebenaran akan selalu menemukan jalannya. Sekalipun berada dalam kesunyian.

Di situlah letak ujian kehidupan. Manusia diuji bukan hanya ketika ia berada dalam kesulitan. Tetapi juga ketika ia memiliki kekuatan. Orang kaya diuji dengan hartanya. Cerdik pandai diuji dengan ilmunya. Pemimpin diuji dengan kekuasaannya. Dan rakyat jelata diuji ketika menyaksikan kezaliman. Apakah ia diam, membela pelaku, mengambil keuntungan atau berusaha membantu korban sesuai kemampuannya? Lupakah kita dengan kalam Allah Swt, “Kami jadikan sebagian kamu sebagai ujian bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqān [25]: 20)

Kehidupan tidak dibangun hanya dari kenyamanan. Ia adalah “ceruk” penuh cerita dan dinamika. Di dalamnya ada perjumpaan antara kekuatan dan kelemahan. Kekayaan dan kekurangan. Keadilan dan kezaliman. Semua itu menjadi ruang bagi manusia untuk menunjukkan sikapnya. Tanpa kebebasan memilih, pahala dan dosa tidak akan bermakna. Kesabaran, keberanian, pengorbanan dan tanggung jawab pun tidak lagi memiliki nilai.

Sikap Seorang Muslim Menghadapi Ketidakadilan

Bagi orang yang dizalimi, penderitaan tidak selalu bermakna bahwa Allah meninggalkannya. Dalam banyak keadaan, ujian justru dapat menjadi jalan terangkatnya derajat. Bersihnya dosa dan bertambahnya pahala. Allah Swt menghibur dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. At-Taubah [9]: 120)

Sementara itu, kelapangan yang dimiliki pelaku kezaliman tidak selalu berarti bahwa ia berada dalam kebaikan. Boleh jadi ia sedang diberi kesempatan sebelum datangnya hukuman. Sejarah Fir‘aun menjadi pelajaran tentang hal ini. Ia tampil sebagai penguasa yang sangat kuat. Dikelilingi pasukan dan kekuasaan. Namun pada akhirnya, kekuatan itu tidak mampu menyelamatkannya dari keputusan Allah. Tumbang dan terhinakan dalam keabadian.

Karena itu, seorang mukmin tidak boleh memahami kesabaran sebagai sikap pasrah. Menyerah, kalah dan tanpa usaha. Kesabaran bukan berarti membiarkan kezaliman berlangsung tanpa sikap. Seorang mukmin tetap berkewajiban menjaga diri dan memperkuat kemampuan. Membela yang lemah, menolong korban serta mencegah kezaliman dengan cara yang benar dan sesuai dengan ketentuan syariat.

Kezaliman tidak boleh dianggap lumrah. Ia harus ditolak dan dicegah. Namun dalam perjuangan itu, seorang mukmin tidak boleh kehilangan keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Adil. Dunia bukan akhir dari cerita. Ada pengadilan yang tidak dapat disuap. Kekuasaan yang tidak dapat dibeli. Dan keadilan yang tidak akan salah menilai. Setiap manusia pada akhirnya akan berdiri sendiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya.

Wallāhu a‘lam.

Tags :

Mauhibur Rokhman

Khadim Bayt Mohammadi Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network