Malam Takbir atau Malam Dugem? Antara Syiar dan “Jedag-Jedug” yang Kebablasan

Malam ini adalah malam takbir, sebuah garis finis yang dinantikan dengan penuh haru oleh banyak orang. Bukan cuma buat para mujahid subuh yang puasanya full sebulan penuh, tapi juga buat mereka yang hobi “mokel” alias buka puasa prematur di jam dua siang gara-gara alasan cuaca yang “tidak bersahabat”. Aroma rendang sudah mulai menusuk hidung dan hilir mudik pemudik yang bikin jalanan macet total, ada satu fenomena “ikonik” yang rutin menyapa telinga kita di malam Idulfitri: suara sound system “horeg” raksasa.

Dulu, malam takbir adalah waktu di mana surau dan masjid bersahutan melantunkan pujian pada Ilahi. Syahdu, menenangkan, sekaligus bikin merinding haru. Tapi sekarang? Di beberapa daerah, suasana syahdu itu berganti jadi parade truk pengangkut sound horeg. Alih-alih takbir murni, telinga kita justru dihajar oleh takbir yang sudah diremix dengan bass yang bikin jantung mau copot. Ya, takbir rasa DJ.

Keutamaan yang Terpinggirkan oleh Bass

Padahal, kalau kita buka lagi kitab-kitab klasik, malam Idulfitri itu bukan malam buat hura-hura nggak jelas. Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm pernah menyebutkan bahwa ada lima malam di mana doa-doa tidak akan ditolak, dan salah satunya adalah malam Idulfitri.

Menghidupkan malam di sini maksudnya adalah dengan ibadah, zikir, dan tentu saja takbir yang penuh penghayatan. Sayangnya, makna “menghidupkan” ini sering disalahartikan menjadi “memekakkan”. Kita lebih sibuk memastikan subwoofer bekerja maksimal daripada memastikan hati kita benar-benar bertakbir.

Mari Kita Renungkan

Foto oleh Suci Rahayu via Kompas

Gini lho, Lur. Kita semua paham kalau ekspresi kemenangan itu perlu dirayakan. Tapi kalau takbir sudah dicampur aduk dengan musik DJ yang biasanya kita dengar di kelab malam atau hajatan nikahan yang sampai menggetarkan jendela tetangga, apakah esensi “kembali fitrah”-nya masih ada?

Takbir itu ibadah. Ibadah punya adab. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk mengagungkan nama Allah dengan penuh ketundukan. Nah, kalau kita bertakbir sambil mutar musik DJ di atas truk dengan volume yang mengganggu orang sakit, bayi yang mau tidur, atau orang tua yang butuh ketenangan, apakah itu masih bisa disebut syiar? Jangan-jangan itu cuma ego yang dibungkus label agama.

Ulama kontemporer sering mengingatkan bahwa syiar Islam itu seharusnya membawa rahmat dan rasa aman. Kalau suara bass dari musik DJ itu malah bikin kaca jendela rumah warga bergetar dan orang merasa terganggu, bukannya pahala yang didapat, malah bisa jadi dosa karena menzalimi kenyamanan orang lain.

Baca Juga: Makna Idul Fitri Bagi Perempuan

Malam takbir seharusnya menjadi momen refleksi setelah sebulan penuh berpuasa. Sebuah transisi spiritual dari menahan lapar ke arah kemenangan jiwa. Namun, melihat realita di lapangan, batas antara religiusitas dan hiburan murahan jadi makin abu-abu.

Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri di tengah dentuman bass yang memekakkan telinga itu: Kita ini sebenarnya sedang mengagungkan kebesaran Tuhan, atau sekadar sedang merayakan keberisikan kita sendiri yang gagal move on dari budaya dugem?

Tags :

Anwar Sa'bani

Orang yang kadang suka bercerita. Saat ini sedang mengabdi di Bayt Mohammadi Indonesia.

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network