Bagaimana Al Qur’an Mengajari Kita Beretika Kepada Allah

Yang Hilang dari Kita: Akhlak, begitu salah satu judul buku karya Mufassir Senior Indonesia, Prof. Quraisy Shihab. Akhlak —atau yang terkadang penggunaannya tumpang tindih dengan istilah etika— semakin dirasakan kebutuhannya, telebih di era miskin nilai seperti sekarang. Sehingga tidak mengherankan, salah satu pokok kandungan Al Qur’an adalah etika.

Dalam menyampaikan pesannya Al Qur’an tidak selalu menjelaskan secara gamblang. Adakalanya pesan itu disampaikan melalui perlambang (kinayah), pilihan kata (diksi) yang dipakai, atau bahkan shigat (bentuk) kata yang digunakan. Misalnya pada ayat terakhir Surah Al Fatihah.

[الفاتحة : 7] صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Ayat ini adalah penjelasan dari ayat sebelumnya, permohonan agar diberi petunjuk mengikuti jalan kebenaran. Jalan kebenaran adalah jalan yang ditapaki oleh orang-orang yang telah Allah beri nikmat, yaitu para Nabi, Syuhada, dan orang-orang Saleh. Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat.

Pada bagian awal, Al Qur’an menyebutkan lafadz “أنعمت”, yang telah Engkau beri nikmat. Subjek dari kata kerja ini berupa kata ganti orang kedua yang merujuk kepada Allah. Namun selanjutnya, alih-alih menggunakan redaksi “غضبت عليهم” orang-orang yang Engkau murkai dan “أضللتهم” orang-orang yang Engkau sesatkan, Al Qur’an lebih memilih redaksi “المغضوب” orang-orang yang dimurkai dan “الضالين” orang-orang yang tersesat, tanpa menyebutkan subjeknya.

Dalam ayat lain ditemukan hal serupa.

وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَن فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا [الجن : 10]

“Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.”

Lagi-lagi, kita menemukan perbedaan shighat pada ayat ini. Pada bagian kedua yang berkaitan dengan kebaikan (رشدا), Al Qur’an menggunakan kata kerja aktif “أَرَاد”, menghendaki, dengan subjek “ربهم”, Tuhan mereka. Namun pada bagian pertama yang berkaitan dengan keburukan (شر), alih-alih menggunakan shighat yang sama, Al Qur’an memilih kata kerja pasif “أُرِيْدَ”, yang dikehendaki, tanpa menyebutkan subjeknya.

Lalu, apa pesan yang bisa kita dapatkan? Kedua contoh diatas sedang mengajarkan kita untuk beretika kepada Allah, dengan menisbatkan kebaikan kepada-Nya namun tidak dengan keburukan. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.”

Detail-detail semacam ini tidak bisa kita tangkap, kecuali dengan pembacaan yang jeli. Tadabbur, begitu ‘sepertinya’ istilah kerennya. Konsekuensi logis dari model pembacaan semacam ini, membaca Al Qur’an tidak lagi dijadikan ajang balapan.

Tags :

Muhammad Nur Hidayatulloh

Mahasiswa PBA Universitas KH. Abdul Chalim. Anggota YOURS (Youth Writers of Islamic Studies), komunitas kepenulisan dan studi keislaman di UAC

Artikel Pilihan

Artikel Terbaru

Darasna Network adalah media yang menyajikan konten Islami yang moderat dan dapat dipercaya.

Ikuti terus konten-kontennya di media sosial kami.

© 2026 Darasna Network