Dalam rangka memakmurkan masjid, para pengurus masjid memiliki agenda-agenda yang dapat memancing jamaah datang ke masjid. Di antara salah satu agenda hari libur kerja; sabtu minggu, sebagian para jamaah masjid al-Ihsan melakukan jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat bersejarah atau tempat tempat distinasi wisata berjamaah sebagai hiburan setelah lima hari bekerja.
Pada ahad 24/03/2024, pengurus masjid al-Ihsan memutuskan untuk melakukan tadabbur alam ke suatu tempat. Hari ini tepat seminggu saya tinggal di kota Waegwan. Dalam agenda ini jamaah mengajak saya untuk ikut tadabbur alam dan untuk mengenalkan kota Waegwan. Sebagian pengurus dan jamaah ikut dalam agenda ini adalah Ketua Takmir Masjid, Kang Ja’far Shodiq, Kang Heru Arba’, yang berposisi sebagai pemandu wisata, Mbah Minto dan Ipung sang Fotografer.
Tempat yang akan kami kunjungi adalah Museum tentara Chilgok Patriots & Peace Memorial,Waegwan, yang tidak jauh dari masjid al-Ihsan. Museum ini merupakan peninggalan sejarah perang masa kelam yang terjadi antara Korea Selatan dan penjajah. Berbagai sisa peninggalan dan persenjataan masa lalu terpajang dengan rapi di Museum ini. Di samping itu, untuk menunjang inforamsi tentang peperangan yang terjadi pada lampau, di dalam museum ini disediakan video yang menyajikan peperangan masa lampau serta didukung replika patung kecil yang menggambarkan peperangan dengan artektur yang indah sehingga membawa yang memandangnya ke masa lampau.
Menurut penuturan seorang polisi keamanan Korea Selatan yang datang mengunjungi kami di masjid, wialayah Waegwan adalah kota yang paling parah perangnya dibandingkan wilayah yang lain di Korea Selatan. Dia menuturkan bahwa seorang yang datang ke kota Waegwan sebaikanya berkunjung ke Museum Chilgok Patriots & Peace Memorial supaya tahu sejarah masa lalu di kota Waegwan.
Polisi yang datang ke kami di masjid al-Ihsan merupakan polisi yang bertugas untuk menjaga dan mengawasi keberadaan tempat ibadah. Polisi ini bertugas di daerah Waegwan, Gumi dan sekitarnya untuk menjaga stabilitas dan keamanan tempat-tampat ibadah di Korea Selatan. Hampir setiap kali saya datang ke Korea Selatan, dapat dipastikan ada polisi yang datang menghampiri masjid yang saya tempati untuk memastikan keberadaan pendatang dengan baik dan selamat, hal ini dalam rangka mengawasi.
Dia sangat ramah dan informatif tentang Korea Selatan secara utuh. Bahkan polisi ini saking akrabnya dengan masyakarat muslim terutama orang Indonesia, dia mampu melafalkan kata “assalamu alaikum” dengan baik dan benar tapi belum mendapat hidayah, belum mau diajak “Log In”.
Setelah mengitari museum dan mengabadikan setiap peristiwa dengan gambar dan video, kami menuju ke museum ternak lebah, yang tidak jauh dari museum. Di sini kami, sangat takjub dengan pelestarian dan kerapian tempat ini. Tempatnya memang tidak begitu besar, namun kerapian dan tata letak setiap sudutnya sangat indah. Mulai dari tempat sarang lebah, tempat pengolahan lebah, jenis-jenis lebah dan madu yang beraneka ragam terpangpang dengan baik dan rapi. Memang, di Korea bila melakukan sesuatu dengan totalitas dan serius sehingga hal kecil menjadi suatu yang menakjubkan.
Di sini, kami menaiki lantai paling atas, dari atas kami mampu melihat sebagian besar kota Waegwan yang asri nan indah. Memang, Waegwan bukan kota yang besar seperti Soul dan Busan namun keindahan panorama kota dan pedesaannya tidak kalah dengan kota-kota besar di Korea. Di sini, kami mengabadikan foto bersama dan melihat laju kereta cepat dari atas. Sehingga kami antusias mengabadikan momen ini dengan penuh ceria. Kereta cepat merupakan transportasi andalan di Korea Selatan, yang menghubungkan antar kota dengan kota yang lain. Kenyamanan transfortasi ini terjamin, sebab selain efisien waktu juga tempatnya sangat nyaman. Saya termasuk yang suka menggunakan transfortasi ini bila keluar kota dibandingkan transfortasi yang lain.
Setelah menyusuri museum ternak lebah, kami mengakhiri perjalanan ini ke sebuah replika rumah adat Korea Selatan. Rumah adat ini berada tidak jauh dari tempat museum, yang berhadap-hadapan dengan meseum. Rumah adat ini, merupakan tempat wisata baru, sebab baru dibuka pada awal tahun ini. Melihat replika rumat adat ini, membawa kami ke suasana masa lampau, yang mengantarkan kami pada keadaan yang penuh dengan eksotisme pedesaan. Kami tidak lama menyisiri rumah adat ini, sebab selain kelelahan, juga karena waktu sudah larut sore. Sore kami memiliki agenda kajian mingguan, banyak jamaah yang datang karena bertepatan dengan hari libur.
Satu minggu kemudian, 31/3/2024, kami juga melakukan rihlah bersama para pengurus masjid al-Ihsan Waegwan ke Daegu Tower E-world 83. Daegu Tower merupakan Icon wisata wilayah Daegu. Nama lain dari Daegu Tower adalah Menara E-World 83. Angka 83 ini merupakan angka ketinggian yang setara dengan dengan bangunan 83 lantai. Bagian yang paling popular dan dikunjungi oleh wisatawan adalah lantai 77. Seluruh dindingnya terbuat dari kaca, menawarkan pemandangan panorama 360 derajat kota Daegu.
Selain Daegu Tower juga terdapat Namsan Tower yang berada di pusat kota. Namsan Tower ini mulai dibangun pada tahun 1969 dengan tujuan awalnya adalah difungsikan sebagai pemancar radio dan televisi. Baru kemudian pada tahun 1980, Menara ini dibuka untuk umum dan dijadikan objek wisata yang menawarkan pemandangan indah kota Seoul dari puncak Menara.
Hari itu merupakan hari libur yang bertepatan dengan hari ahad, banyak warga Korea dan wisatawan asing termasuk kami datang ke tempat wisata ini, sebab saat itu bunga sakura sedang mekar dan ridang. Hal ini hanya terjadi setahun sekali sebagai penanda berakhirnya musim dingin ke musin semi. Banyak wisatawan termasuk kami mengabadikan momen indah ini dengan pantulan cahaya kamera.
Kami berlima, Kang Ja’far Shodiq, kang Heru Arba, Kang Jajat Fernando dan Mbah Minto menyusuri keindahan bunga sakura yang sedang mekar. Di sana kami, membuat video kultum yang berisi tentang bulan Ramadhan dan malam lailatul Qadr.
Hampir satu jam, kami menyusuri keindahan bunga sakura di ruas jalan menuju Daegu Tower, setalah itu, kami beranjak masuk ke Bangunan Tower yang sangat tinggi itu. Kami langsung menuju lantai 77 yang sangat eksotis dengan pemandangan panorama yang indah. Di sana kami membuat video kembali tentang zakat fitrah.
Waktu telah berlalu dengan cepat, kami pun beranjak kembali ke masjid karena sudah ditunggu oleh para jamaah masjid untuk kajian sore sebelum berbuka puasa. Kami pun sampai di Masjid tepat pukul 18 00 dan kemudian melanjutkan acara kajian sore dan berbuka bersama dengan jamaah.



